Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Stop Berharap Pada Sektor Formal, Saatnya Ciptakan Ekonomi Sendiri Di Tengah Polikrisis

Lailatul Khusna Febriyanti • Rabu, 22 April 2026 | 08:15 WIB
Di tengah polikrisis global, masyarakat didorong untuk lebih mandiri secara finansial dan tidak lagi bergantung pada pekerjaan formal semata. (Sumber : YouTube/ NalarTVindonesia)
Di tengah polikrisis global, masyarakat didorong untuk lebih mandiri secara finansial dan tidak lagi bergantung pada pekerjaan formal semata. (Sumber : YouTube/ NalarTVindonesia)

 

RADARBONANG.ID – Kondisi ekonomi global yang semakin kompleks dan penuh tekanan, atau yang kerap disebut sebagai polikrisis, mendorong perubahan besar dalam cara individu mencari penghasilan.

Ketidakpastian ekonomi, konflik geopolitik, hingga disrupsi teknologi membuat sektor formal tidak lagi menjadi satu-satunya jalur aman untuk membangun karier.

Fenomena ini ditandai dengan menurunnya daya serap tenaga kerja di sektor formal. Banyak lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, meski telah mengantongi ijazah dan kompetensi akademik yang memadai.

Situasi ini menjadi sinyal kuat bahwa paradigma lama—mengandalkan pendidikan formal untuk mendapatkan pekerjaan tetap—perlu ditinjau ulang.

Baca Juga: Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Secara Nyata: 9 Strategi Efektif untuk Hidup Lebih Maju

Founder Ngomongin Uang, Glen Ardi, menegaskan bahwa masyarakat harus mulai mengambil kendali penuh atas kondisi finansialnya.

“Setiap orang harus menjadi kapten untuk hidupnya sendiri. Tidak bisa lagi hanya menunggu peluang datang dari luar,” ujarnya dalam diskusi di kanal YouTube Nalar TV Indonesia.

Peralihan ke Ekonomi Kreatif dan Informal

Perubahan lanskap ekonomi mendorong banyak orang beralih ke sektor informal dan ekonomi kreatif.

Profesi seperti content creator, freelancer, hingga pelaku affiliate marketing kini menjadi alternatif yang semakin diminati.

Menurut Glen Ardi, sektor ini justru menawarkan fleksibilitas dan potensi penghasilan yang lebih cepat dibandingkan menunggu pekerjaan formal.

“Dalam waktu dekat kita tidak bisa berharap sepenuhnya pada sektor formal. Pilihannya adalah menciptakan nilai sendiri,” jelasnya.

Ia mencontohkan fenomena live shopping di media sosial yang mampu menghasilkan arus kas harian bagi pelakunya.

Bahkan, dalam banyak kasus, pendapatan dari aktivitas ini lebih stabil dibandingkan mereka yang terus melamar pekerjaan tanpa kepastian.

Soft Skill Jadi Penentu di Era AI

Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, turut mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja.

Jika sebelumnya hard skill teknis menjadi prioritas utama, kini soft skill justru mengambil peran lebih dominan.

Kemampuan seperti komunikasi, adaptasi, dan problem solving dinilai lebih relevan dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat.

Tren industri bahkan bisa berubah dalam hitungan satu hingga dua tahun, sehingga fleksibilitas menjadi kunci utama.

“Hard skill makin lama makin tidak serelevan dulu. Justru kemampuan beradaptasi yang menentukan,” tegas Glen Ardi.

Hal ini membuat individu dituntut untuk terus belajar dan mengembangkan diri, bukan hanya dalam aspek teknis, tetapi juga dalam cara berpikir dan merespons perubahan.

Empat Fondasi Ketahanan Finansial

Di tengah ketidakpastian global, membangun ketahanan finansial menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Glen Ardi membagikan empat fondasi utama yang perlu dimiliki setiap individu.

Pertama, memiliki penghasilan rutin, baik dari pekerjaan tetap, freelance, maupun usaha mandiri.

Arus kas yang konsisten menjadi dasar stabilitas keuangan.

Kedua, menjaga cash flow tetap positif. Artinya, pengeluaran harus lebih kecil dari pemasukan, serta menghindari utang konsumtif seperti pinjaman online atau paylater yang berlebihan.

Ketiga, menyiapkan dana darurat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan setidaknya selama enam bulan.

Dana ini penting sebagai bantalan saat terjadi kondisi tak terduga.

Keempat, memiliki proteksi atau asuransi, khususnya untuk kesehatan.

Risiko medis yang tidak terduga dapat mengganggu stabilitas keuangan jika tidak diantisipasi sejak awal.

Adaptasi Jadi Kunci Bertahan

Dengan memiliki empat fondasi tersebut, seseorang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memiliki ruang untuk berkembang di tengah krisis.

Ketahanan finansial memberikan ketenangan mental sekaligus peluang untuk melihat kesempatan baru.

Menurut Glen Ardi, kondisi ekonomi yang tidak menentu justru bisa menjadi momentum untuk bertransformasi.

“Kalau fondasi kita kuat, kita bisa lebih tenang dan mulai melihat peluang yang ada, bukan hanya bertahan,” ujarnya.

Baca Juga: 4 Kebiasaan Kerja Kantor Menyebalkan yang Jadikan Work From Home Pilihan Terbaik, Kata Psikologi

Mengubah Mindset di Era Ketidakpastian

Polikrisis global menjadi pengingat bahwa dunia kerja terus berubah. Ketergantungan pada satu sumber penghasilan atau satu jalur karier tidak lagi relevan.

Masyarakat dituntut untuk lebih adaptif, kreatif, dan mandiri dalam membangun sumber pendapatan.

Mengandalkan ijazah saja tidak cukup tanpa diimbangi kemampuan untuk menciptakan nilai di tengah perubahan.

Pada akhirnya, masa depan bukan lagi soal siapa yang paling pintar secara akademis, tetapi siapa yang paling cepat beradaptasi dan berani mengambil langkah.

Di tengah ketidakpastian, kemampuan untuk mengelola diri dan keuangan menjadi aset paling berharga dalam menghadapi tantangan zaman. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#polikrisis ekonomi #masa depan kerja #Glen Ardi #ekonomi kreatif Indonesia #soft skill vs hard skill