RADARBONANG.ID – Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh klaim yang menyebut Uya Kuya memiliki hingga 750 dapur dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Informasi tersebut beredar luas di berbagai platform, khususnya Instagram, dan memicu beragam reaksi dari warganet.
Narasi yang viral bahkan menyebut bahwa pengelolaan ratusan dapur tersebut merupakan bagian dari strategi besar untuk mendukung program pemenuhan gizi masyarakat sekaligus “investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas”.
Baca Juga: Gembleng Ketua DPRD se-Indonesia di Tidar, Presiden Prabowo: Kita Harus Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Berawal dari Unggahan Akun Media Sosial
Klaim ini mencuat setelah sebuah akun Instagram bernama Panglima Rakyat Konoha mengunggah informasi terkait jumlah dapur MBG yang dikaitkan dengan Uya Kuya.
Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa Uya Kuya mengelola hingga 750 dapur yang tersebar di berbagai wilayah.
Informasi itu kemudian dengan cepat menyebar dan menjadi bahan perbincangan publik.
Banyak warganet yang mempertanyakan kebenaran klaim tersebut, mengingat jumlah yang disebut tergolong sangat besar.
Istri Tegas Membantah
Menanggapi kabar yang beredar, Astrid Kuya langsung memberikan klarifikasi melalui Instagram Story miliknya.
Ia dengan tegas menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar dan termasuk dalam kategori hoaks.
Astrid juga menegaskan bahwa pihaknya tidak segan untuk mengambil langkah hukum terhadap penyebar informasi palsu yang merugikan nama baik keluarga.
Ancaman Tindakan Hukum
Dalam unggahannya, Astrid bahkan menampilkan peringatan terkait potensi pelaporan ke pihak berwajib.
Ia menyertakan visual yang berkaitan dengan penegakan hukum di bidang siber, sebagai bentuk keseriusan dalam menanggapi isu ini.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa keluarga Uya Kuya tidak menganggap remeh penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.
Peringatan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa penyebaran hoaks di media sosial dapat berujung pada konsekuensi hukum.
Belum Ada Pernyataan dari Uya Kuya
Hingga saat ini, Uya Kuya sendiri belum memberikan pernyataan resmi secara langsung terkait isu tersebut.
Meski demikian, klarifikasi dari pihak keluarga sudah cukup memberikan gambaran bahwa klaim yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Publik pun diimbau untuk tidak langsung mempercayai informasi yang belum memiliki sumber jelas atau konfirmasi resmi.
Pentingnya Verifikasi Informasi
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
Klaim yang tidak didukung data valid dapat dengan mudah menjadi viral dan membentuk opini publik, meski belum tentu benar.
Baca Juga: Gembleng Ketua DPRD se-Indonesia di Tidar, Presiden Prabowo: Kita Harus Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Sebagai pengguna media sosial, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menyaring informasi sebelum membagikannya kembali.
Waspada Hoaks di Era Digital
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa hoaks masih menjadi tantangan besar di era digital.
Informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu sesuai fakta. Oleh karena itu, penting untuk selalu melakukan verifikasi melalui sumber terpercaya sebelum mempercayai sebuah kabar.
Editor : Muhammad Azlan Syah