Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Strategi Teknotika Jadi Kunci Kemandirian Energi di Tengah Gejolak Global

Lailatul Khusna Febriyanti • Selasa, 14 April 2026 | 14:50 WIB
Arcandra Tahar tekankan strategi teknotika sebagai kunci kemandirian energi Indonesia di tengah gejolak geopolitik global (Sumber : Jawapos.com)
Arcandra Tahar tekankan strategi teknotika sebagai kunci kemandirian energi Indonesia di tengah gejolak geopolitik global (Sumber : Jawapos.com)

 

RADARBONANG.ID – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama di kawasan Selat Hormuz, isu kedaulatan energi kembali menjadi perhatian utama.

Mantan Menteri ESDM, Arcandra Tahar, menegaskan pentingnya pendekatan teknokratik atau “teknotika” sebagai strategi utama untuk mencapai kemandirian energi nasional.

Dalam perbincangan di kanal YouTube Helmy Yahya, Arcandra menguraikan bahwa pengelolaan energi tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik global.

Oleh karena itu, Indonesia perlu mengambil langkah realistis yang berbasis pada kekuatan teknologi, kebijakan, dan institusi.

Baca Juga: PLN Pastikan Cadangan Batu Bara Aman, Mampu Topang Operasi Listrik Hingga 15 Hari

Belajar dari Sejarah Perebutan Energi

Arcandra menyoroti bahwa sejarah dunia telah berkali-kali menunjukkan bagaimana energi menjadi faktor kunci dalam konflik global.

Salah satu contoh yang ia angkat adalah Serangan Pearl Harbor, yang dipicu oleh embargo minyak terhadap Jepang.

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa energi adalah “urat nadi” sebuah negara.

Tanpa akses terhadap sumber energi, stabilitas ekonomi hingga pertahanan negara bisa terganggu.

Ia juga menyinggung bagaimana negara-negara besar menggunakan kekuatan politik untuk mengamankan sumber daya energi, termasuk akses terhadap ladang minyak strategis di Timur Tengah.

Kemandirian Energi, Bukan Sekadar Swasembada

Arcandra menekankan bahwa Indonesia perlu mengubah paradigma dari sekadar swasembada menjadi kemandirian energi (energy independence).

Artinya, Indonesia harus mampu mengoptimalkan seluruh sumber daya energi domestik, mulai dari minyak, batu bara, hingga energi baru terbarukan, guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Pendekatan ini dinilai lebih realistis dibandingkan hanya berfokus pada satu jenis energi.

Dengan diversifikasi sumber energi, ketahanan nasional dapat diperkuat secara menyeluruh.

Perkuat Perusahaan Energi Nasional

Salah satu strategi utama yang diusulkan adalah memperkuat peran perusahaan minyak nasional atau National Oil Company (NOC).

Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok telah lebih dulu menerapkan pendekatan ini.

Mereka tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga fokus pada penguasaan volume energi di luar negeri untuk menjamin pasokan dalam negeri.

Menurut Arcandra, inti dari keamanan energi adalah kemampuan membawa pulang sumber daya energi, bukan sekadar memperoleh keuntungan ekonomi.

Tantangan Investasi dan Regulasi

Dalam konteks domestik, Arcandra menyoroti pentingnya perbaikan iklim investasi.

Ia menyebut tiga faktor utama yang harus diperhatikan, yakni penghormatan terhadap kontrak (sanctity of contract), kebijakan fiskal yang kompetitif, serta kepastian hukum.

Ia membandingkan proses perizinan di Indonesia dengan negara lain seperti Amerika Serikat, yang dinilai jauh lebih cepat dan efisien.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk menarik investor di sektor energi, terutama dalam eksplorasi dan produksi migas.

Fosil dan Energi Terbarukan Harus Seimbang

Terkait transisi energi, Arcandra mengingatkan agar tidak terjadi dikotomi antara energi fosil dan energi baru terbarukan (EBT).

Keduanya harus berjalan berdampingan untuk saling melengkapi.

Energi fosil masih memiliki peran penting, terutama dalam industri petrokimia yang belum sepenuhnya bisa digantikan oleh energi terbarukan. Di sisi lain, EBT tetap perlu dikembangkan sebagai solusi jangka panjang yang lebih ramah lingkungan.

Pendekatan yang seimbang ini dinilai sebagai langkah paling rasional untuk menjaga stabilitas energi nasional.

Baca Juga: PLN Pastikan Cadangan Batu Bara Aman, Mampu Topang Operasi Listrik Hingga 15 Hari

Strategi teknotika yang menekankan pada pendekatan teknis, kebijakan, dan penguatan institusi menjadi kunci bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global.

Dengan memanfaatkan potensi energi secara optimal dan memperbaiki ekosistem investasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencapai kemandirian energi yang berkelanjutan.

Di tengah dinamika geopolitik dunia, langkah strategis ini menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kedaulatan nasional.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kemandirian energi Indonesia #Arcandra Tahar #strategi energi nasional #geopolitik energi #ketahanan energi