RADARBONANG.ID – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus level psikologis baru di atas Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat, terutama terkait dampaknya terhadap kondisi ekonomi nasional.
Berdasarkan data penutupan pasar pada Selasa (7/4), rupiah tercatat melemah hingga menyentuh Rp 17.105 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian global.
Sudah Masuk Skenario Stres Tes
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa pelemahan rupiah hingga level tersebut sebenarnya sudah masuk dalam skenario perhitungan risiko pemerintah.
Menurutnya, Kementerian Keuangan telah melakukan berbagai simulasi atau stress test terhadap kemungkinan fluktuasi nilai tukar, termasuk skenario terburuk, guna memastikan ketahanan fiskal tetap terjaga.
“Itu nilai tukar Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat sudah masuk dalam stres tes kami,” ujar Juda Agung saat ditemui dalam acara Outlook Indonesia 2026 di Jakarta.
Pernyataan tersebut memberikan sinyal bahwa pemerintah telah mengantisipasi dinamika pasar global, sehingga dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih dalam batas aman.
Dampak Konflik Global dan Sentimen Pasar
Pelemahan rupiah tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, khususnya konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran global.
Situasi ini mendorong pelaku pasar untuk menerapkan strategi risk-off, yakni mengalihkan investasi dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.
Selain itu, kebijakan suku bunga global yang masih tinggi juga turut memperkuat posisi dolar AS.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar dalam beberapa waktu terakhir.
Bank Indonesia Siapkan Langkah Strategis
Menghadapi kondisi ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai langkah strategis.
Deputi Gubernur Senior Destri Damayanti menyampaikan bahwa BI akan terus hadir di pasar untuk melakukan intervensi secara terukur.
Langkah tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot, non-deliverable forward (NDF), hingga domestic non-deliverable forward (DNDF).
“BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang baik di spot market, di NDF, maupun NDF di offshore market,” tegas Destri.
Upaya ini diharapkan mampu meredam volatilitas rupiah sekaligus menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Optimisme Ketahanan Ekonomi Nasional
Meski rupiah mengalami tekanan, pemerintah tetap optimistis terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter diyakini mampu menjaga stabilitas di tengah gejolak global.
Pemerintah memastikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, didukung oleh konsumsi domestik yang stabil serta berbagai program pembangunan yang terus berjalan.
Selain itu, pengelolaan APBN yang hati-hati juga menjadi kunci dalam menghadapi tekanan eksternal.
Dengan perencanaan yang matang, pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara belanja dan penerimaan negara.
Masyarakat Diminta Tetap Tenang
Di tengah kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik.
Fluktuasi nilai tukar merupakan hal yang wajar dalam sistem ekonomi global yang dinamis.
Baca Juga: Perundingan AS–Iran Belum Temui Titik Temu, Isu Selat Hormuz Jadi Penghambat Utama
Pemerintah dan Bank Indonesia terus melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan pasar serta siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas.
Dengan koordinasi yang kuat antar lembaga serta kebijakan yang responsif, diharapkan tekanan terhadap rupiah dapat segera mereda dan kondisi ekonomi tetap berada pada jalur yang positif.
Editor : Muhammad Azlan Syah