Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Perundingan AS–Iran Belum Temui Titik Temu, Isu Selat Hormuz Jadi Penghambat Utama

Siti Rohmah • Senin, 13 April 2026 | 08:17 WIB
Perundingan Amerika Serikat dan Iran masih buntu dengan Selat Hormuz menjadi isu utama yang menghambat kesepakatan dan memicu ketegangan global (UN News)
Perundingan Amerika Serikat dan Iran masih buntu dengan Selat Hormuz menjadi isu utama yang menghambat kesepakatan dan memicu ketegangan global (UN News)

 

RADARBONANG.ID – Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu.

Perundingan yang digelar untuk meredakan ketegangan kedua negara belum menghasilkan kesepakatan konkret, dengan isu Selat Hormuz menjadi titik krusial yang sulit disepakati.

Wakil Presiden AS, J. D. Vance, mengungkapkan bahwa dirinya kembali ke Washington tanpa membawa hasil signifikan.

Ia sebelumnya memimpin langsung delegasi AS dalam perundingan yang berlangsung di Pakistan.

Baca Juga: Efisiensi Energi Nasional, Pemerintah Terapkan PJJ Bagi Mahasiswa Semester Atas

Meski pembicaraan dilanjutkan hingga hari kedua pada Minggu (12/4), tanda-tanda kesepakatan masih belum terlihat.

Situasi ini memperlihatkan betapa kompleksnya konflik kepentingan antara kedua negara.*

Selat Hormuz Jadi Titik Sengketa

Delegasi Iran dalam perundingan tersebut dipimpin oleh Mohammad Bagher Qalibaf.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa perbedaan pandangan terkait status Selat Hormuz menjadi hambatan utama dalam negosiasi.

Pihak Iran menegaskan bahwa kebijakan terkait selat tersebut tidak akan berubah tanpa adanya kesepahaman yang jelas dalam perundingan.

Hal ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan juga alat tawar strategis dalam diplomasi geopolitik.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur paling vital di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.

Setiap gangguan di wilayah ini dapat berdampak langsung pada stabilitas energi dunia.

Dampak ke Pasar Global

Ketegangan yang belum mereda berdampak signifikan terhadap pasar energi global.

Sebelumnya, pembatasan akses oleh Iran di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dan gas di berbagai negara.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar internasional.

Ketidakpastian pasokan energi membuat banyak negara harus bersiap menghadapi potensi krisis, terutama bagi negara yang sangat bergantung pada impor minyak.

Selain itu, biaya distribusi energi juga berpotensi meningkat akibat risiko keamanan di jalur pelayaran tersebut.

Hal ini pada akhirnya dapat berdampak pada harga bahan bakar dan inflasi di berbagai negara.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan Iran. Namun, stabilitas kesepakatan tersebut kini dipertanyakan.

Ketegangan di kawasan lain, seperti konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah, turut memperkeruh situasi. Konflik tersebut tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata antara AS dan Iran, sehingga potensi eskalasi tetap tinggi.

Situasi ini membuat upaya diplomasi menjadi semakin kompleks, karena melibatkan banyak kepentingan regional yang saling terkait.

Manuver Militer dan Isu Keamanan

Dalam perkembangan lain, militer AS dikabarkan telah mengerahkan kapal perang ke kawasan Selat Hormuz.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari persiapan operasi pengamanan, termasuk kemungkinan pembersihan ranjau laut.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran. Ketegangan pun semakin meningkat seiring munculnya dugaan bahwa ranjau laut telah dipasang di beberapa titik strategis oleh Islamic Revolutionary Guard Corps.

Keberadaan ranjau laut menjadi ancaman serius bagi keselamatan pelayaran internasional. Bahkan jika blokade dicabut, risiko keamanan tetap menjadi perhatian utama bagi kapal-kapal yang melintas.

Baca Juga: Efisiensi Energi Nasional, Pemerintah Terapkan PJJ Bagi Mahasiswa Semester Atas

Diplomasi Masih Berlanjut

Dalam perundingan tersebut, Vance didampingi oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Sementara dari pihak Iran, turut hadir Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Meski belum mencapai titik temu, kedua pihak disebut masih membuka peluang untuk melanjutkan dialog.

Pakistan sebagai mediator diharapkan dapat menjembatani kepentingan kedua negara agar ketegangan tidak semakin meluas.

Namun demikian, dengan posisi yang masih saling bertolak belakang, jalan menuju kesepakatan dinilai masih panjang dan penuh tantangan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Donald Trump Iran #AS Iran negosiasi #Selat Hormuz konflik #J D Vance Iran #harga minyak dunia