RADARBONANG.ID – Jagat media sosial tengah diramaikan oleh polemik baliho promosi film horor berjudul Aku Harus Mati yang terpampang di sejumlah titik strategis di Jakarta.
Alih-alih menarik perhatian sebagai strategi pemasaran, visual yang ditampilkan justru menuai kritik luas karena dianggap meresahkan dan tidak sensitif terhadap kondisi psikologis masyarakat.
Baliho tersebut menampilkan wajah menyeramkan dengan mata merah menyala yang kontras mencolok di ruang publik.
Tidak hanya visualnya yang memicu ketakutan, narasi tulisan yang digunakan juga dinilai terlalu vulgar dan berpotensi memicu dampak negatif, terutama bagi individu yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental.
Baca Juga: Akhir Pelarian si Boneng, Preman Penganiayaan Pemilik Hajatan di Purwakarta Diterjang Timah Panas
Tuai Protes Massal di Media Sosial
Gelombang protes bermunculan di berbagai platform media sosial. Warganet ramai-ramai menyuarakan ketidaknyamanan mereka terhadap konten iklan luar ruang tersebut.
Banyak yang menilai bahwa materi promosi semacam itu tidak layak dipasang di ruang publik yang dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak.
Beberapa pengguna bahkan mengaku merasa terganggu saat melintas, terutama pada malam hari ketika visual baliho terlihat semakin mencolok.
Tak sedikit pula yang mengaitkan pesan dalam baliho dengan isu sensitif seperti depresi dan dorongan bunuh diri, sehingga dianggap berpotensi memicu respons emosional negatif bagi kelompok rentan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, respons publik terhadap sebuah kampanye bisa berkembang dengan sangat cepat.
Dalam hitungan jam, isu ini telah menjadi perbincangan luas dan memicu diskusi tentang batas etika dalam promosi industri hiburan, khususnya genre horor.
Pemerintah DKI Jakarta Ambil Tindakan Tegas
Menanggapi keresahan yang meluas, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengambil langkah cepat.
Ia menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk segera menurunkan seluruh baliho yang dianggap bermasalah tersebut.
Menurutnya, meskipun pemerintah mendukung perkembangan industri kreatif dan perfilman, aspek etika publik tetap harus menjadi prioritas utama.
Ia menegaskan bahwa ruang publik bukanlah tempat untuk menampilkan konten yang berpotensi mengganggu ketenangan masyarakat.
“Pemasangan materi iklan yang sensitif seperti ini tidak boleh terulang kembali. Kita harus menjaga kenyamanan bersama, terutama di ruang publik yang digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat,” tegasnya.
Langkah tegas ini mendapat respons beragam. Sebagian masyarakat mendukung penuh kebijakan tersebut sebagai bentuk perlindungan terhadap publik, sementara sebagian lainnya menilai bahwa ini bisa menjadi preseden bagi pembatasan kreativitas dalam industri film.
Klarifikasi dari Pihak Produser
Di tengah polemik yang berkembang, produser film tersebut, Iwet Ramadan, memberikan klarifikasi.
Ia menjelaskan bahwa pencopotan baliho bukan semata-mata karena tekanan publik, melainkan sudah sesuai dengan jadwal kampanye promosi yang telah dirancang sebelumnya.
Menurutnya, seluruh materi promosi, termasuk desain baliho, telah melalui proses kurasi dan mendapatkan persetujuan dari lembaga terkait sebelum dipublikasikan.
Hal ini menunjukkan bahwa secara prosedural, pihak produksi telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Meski demikian, ia mengakui bahwa respons masyarakat menjadi evaluasi penting bagi tim produksi.
Ia menegaskan bahwa pihaknya tetap menghormati kebijakan pemerintah daerah serta aspirasi publik demi menjaga kenyamanan bersama.
Pentingnya Etika dalam Iklan Publik
Kasus ini kembali membuka diskusi mengenai pentingnya etika dalam pemasangan iklan di ruang publik.
Tidak hanya soal estetika atau kreativitas, tetapi juga sensitivitas terhadap kondisi sosial dan psikologis masyarakat.
Ruang publik merupakan area bersama yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya oleh individu. Oleh karena itu, setiap konten yang ditampilkan harus mempertimbangkan dampaknya secara luas.
Baca Juga: DPRD Jatim Tagih Bukti Nyata! Efisiensi Energi WFH ASN Dipertanyakan Serius
Terlebih di kota besar seperti Jakarta, di mana mobilitas masyarakat sangat tinggi dan beragam latar belakang bertemu dalam satu ruang.
Para pengamat menilai bahwa industri kreatif perlu mulai mengedepankan pendekatan yang lebih empatik dalam strategi pemasaran.
Kreativitas tetap penting, namun harus seimbang dengan tanggung jawab sosial.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa respons publik kini memiliki peran besar dalam menentukan arah sebuah kampanye. Apa yang dulunya dianggap sekadar strategi pemasaran, kini bisa berubah menjadi isu sensitif yang berdampak luas.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah