Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

OPEC+ Sepakati Kenaikan Produksi 206 Ribu Barel per Hari Mulai Mei 2026

Siti Rohmah • Selasa, 7 April 2026 | 08:28 WIB
OPEC+ resmi naikkan produksi minyak mulai Mei 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasar energi global. (Sumber foto: jawapos.com)
OPEC+ resmi naikkan produksi minyak mulai Mei 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasar energi global. (Sumber foto: jawapos.com)

 

RADARBONANG.ID – Kelompok produsen minyak global OPEC+ resmi menyepakati peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari (bpd) mulai Mei 2026.

Keputusan ini diumumkan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries pada Minggu (5/4) sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar energi global.

Kesepakatan tersebut melibatkan delapan negara anggota yang sebelumnya menjalankan pemangkasan produksi secara sukarela, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

Baca Juga: Iran Ancam Serangan Balasan Besar Jika AS dan Israel Targetkan Infrastruktur

Bagian dari Penyesuaian Produksi Global

Dalam pernyataan resminya, OPEC menyebut bahwa peningkatan produksi ini merupakan bagian dari penyesuaian bertahap atas kebijakan pemangkasan sebelumnya.

Langkah ini juga berkaitan dengan komitmen tambahan sebesar 1,65 juta barel per hari yang telah diumumkan sejak April 2023.

Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak global, sekaligus merespons dinamika pasar energi yang terus berubah.

Rincian Tambahan Produksi Negara Anggota

Sejumlah negara mendapatkan tambahan kuota produksi yang bervariasi.

Rusia memperoleh peningkatan sebesar 62 ribu barel per hari, sehingga total produksinya menjadi 9,699 juta barel per hari.

Sementara itu, Kuwait mendapatkan tambahan 26 ribu barel per hari menjadi 2,612 juta barel per hari, dan Oman naik 5 ribu barel per hari menjadi 821 ribu barel per hari.

Negara lain juga mengalami penyesuaian signifikan. Arab Saudi diperbolehkan meningkatkan produksi hingga 10,228 juta barel per hari, Uni Emirat Arab menjadi 3,447 juta barel per hari, serta Irak mencapai 4,326 juta barel per hari.

Selain itu, Kazakhstan mendapatkan tambahan 10 ribu barel per hari menjadi 1,589 juta barel per hari, sedangkan Aljazair naik 6 ribu barel per hari menjadi 983 ribu barel per hari.

Upaya Menjaga Stabilitas Harga Minyak

Langkah peningkatan produksi ini mencerminkan upaya OPEC+ dalam menjaga stabilitas harga minyak dunia.

Dengan menyesuaikan pasokan secara terukur, organisasi ini berupaya menghindari lonjakan harga yang terlalu tinggi maupun penurunan drastis yang dapat merugikan produsen.

Kebijakan ini juga menunjukkan pendekatan fleksibel OPEC+ dalam merespons kondisi pasar global, termasuk faktor geopolitik, permintaan energi, serta tren ekonomi dunia.

Pertemuan Lanjutan Dijadwalkan Mei 2026

Kelompok OPEC+ dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 3 Mei 2026 untuk mengevaluasi perkembangan pasar minyak global serta menentukan kebijakan produksi selanjutnya.

Pertemuan tersebut akan menjadi momen penting untuk melihat apakah penyesuaian produksi yang telah dilakukan mampu menjaga keseimbangan pasar.

Baca Juga: Iran Ancam Serangan Balasan Besar Jika AS dan Israel Targetkan Infrastruktur

Peran OPEC dalam Pasar Energi Global

Sebagai informasi, Organization of the Petroleum Exporting Countries merupakan organisasi negara-negara pengekspor minyak yang didirikan pada 14 September 1960 di Baghdad, Irak.

Tujuannya adalah mengoordinasikan kebijakan produksi minyak guna menjaga stabilitas harga di pasar internasional.

Indonesia sendiri pernah menjadi anggota OPEC sejak 1962 sebelum akhirnya keluar pada 2016.

Dengan keputusan terbaru ini, OPEC+ kembali menegaskan perannya sebagai aktor utama dalam menentukan arah pasar energi global di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik yang terus berkembang. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#OPEC+ #produksi minyak dunia #harga minyak global #Arab Saudi Rusia minyak #kebijakan OPEC