RADARBONANG.ID – Pemerintah Indonesia terus mengintensifkan koordinasi untuk memastikan keamanan dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang saat ini berada di kawasan Teluk Persia.
Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah tersebut, yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional, termasuk di Selat Hormuz.
Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan kapal dan awak menjadi prioritas utama, mengingat pentingnya jalur ini bagi distribusi energi global.
Baca Juga: Android Bakal Terapkan Sistem Baru untuk Instal APK dari Pengembang Tak Terverifikasi
Diplomasi dengan Iran Berbuah Jaminan Keamanan
Melalui upaya diplomasi lintas kementerian, Indonesia berhasil memperoleh jaminan keamanan dari Iran bagi kedua kapal tersebut untuk melintas dengan aman.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa komunikasi intensif telah dilakukan sejak situasi di kawasan mulai memanas.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran juga berperan aktif dalam menjalin komunikasi dengan berbagai otoritas setempat guna memastikan perlindungan maksimal bagi aset dan warga negara Indonesia.
Saat ini, respons positif dari pihak Iran tengah ditindaklanjuti pada level teknis dan operasional agar proses pelayaran dapat berjalan lancar tanpa hambatan di lapangan.
Keselamatan Awak Kapal Jadi Prioritas
Sejalan dengan langkah tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama dibandingkan muatan energi yang diangkut.
Kebijakan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam melindungi warga negara Indonesia yang bekerja di sektor pelayaran, terutama di wilayah dengan risiko tinggi.
Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah situasi global yang tidak menentu.
Strategi Diversifikasi Impor Energi
Sebagai bentuk mitigasi risiko jangka panjang, Prabowo Subianto telah menginstruksikan pengalihan sebagian sumber impor minyak mentah dan bahan bakar ke wilayah di luar Timur Tengah.
Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap kawasan yang rawan konflik, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Berdasarkan data tahun 2025, Indonesia mengimpor sekitar 135,33 juta barel minyak mentah. Dari jumlah tersebut, sekitar 19 persen berasal dari Arab Saudi.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, pemerintah mulai memperluas sumber impor ke kawasan alternatif seperti Afrika, Amerika Serikat, Amerika Latin, serta memperkuat kerja sama regional dengan Malaysia dan Singapura.
Persiapan Teknis Pelayaran Terus Dimatangkan
Di sisi operasional, anak usaha Pertamina di bidang pelayaran, Pertamina International Shipping, saat ini tengah merampungkan seluruh persiapan administratif dan teknis.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses pelayaran melalui Selat Hormuz dapat berlangsung tanpa kendala, baik dari sisi keamanan maupun kelayakan operasional kapal.
Pertamina juga menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh pemerintah dalam menjaga keamanan armada nasional di tengah situasi yang menantang.
Baca Juga: Jangan Salah Kaprah, Ini 4 Makanan yang Disebut Redakan Anxiety tapi Ternyata Mitos
Menjaga Kedaulatan Energi Nasional
Upaya diplomasi dan diversifikasi ini diharapkan mampu menjaga kedaulatan energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
Selain itu, langkah ini juga menjadi bentuk perlindungan maksimal terhadap para pekerja Indonesia yang terlibat dalam sektor pelayaran internasional.
Dengan koordinasi yang solid antara pemerintah dan perusahaan energi nasional, Indonesia optimistis dapat menghadapi tantangan global tanpa mengganggu stabilitas pasokan energi dalam negeri.
Editor : Muhammad Azlan Syah