Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Indonesia Darurat Sampah, Presiden Prabowo Subianto Perintahkan Percepatan 34 Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik

Adinda Dwi Wahyuni • Senin, 16 Maret 2026 | 15:02 WIB

Presiden Prabowo Subianto mempercepat pembangunan 34 proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik guna mengatasi krisis sampah nasional.
Presiden Prabowo Subianto mempercepat pembangunan 34 proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik guna mengatasi krisis sampah nasional.

RADARBONANG.ID – Permasalahan sampah di Indonesia kini dinilai telah memasuki kondisi darurat.

Sistem pengelolaan sampah yang masih mengandalkan metode konvensional “kumpul, angkut, dan buang” dianggap tidak lagi mampu mengatasi volume limbah yang terus meningkat setiap harinya.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pun menginstruksikan percepatan pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy di berbagai daerah.

Baca Juga: Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka bagi Negara yang Patuhi Protokol Pelayaran

Menurut pemerintah, pendekatan lama yang hanya menjadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sebagai muara sampah tanpa proses pengolahan berkelanjutan tidak lagi relevan dengan tantangan lingkungan saat ini.

Padahal di banyak negara maju, limbah justru dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui teknologi modern yang mampu mengubah sampah menjadi listrik maupun energi panas.

Tragedi di TPST Bantar Gebang

Krisis pengelolaan sampah semakin terlihat nyata di TPST Bantar Gebang yang selama ini menjadi lokasi pembuangan utama sampah dari Jakarta.

Setiap hari, ribuan ton sampah dari ibu kota diangkut ke lokasi tersebut hingga membentuk gunungan sampah setinggi sekitar 50 meter.

Situasi itu memunculkan risiko lingkungan yang serius. Bahkan pada pekan lalu, longsor sampah dilaporkan terjadi di area TPST Bantar Gebang dan menyebabkan tujuh orang meninggal dunia.

Peristiwa tersebut menjadi peringatan keras bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia membutuhkan perubahan mendasar.

Banyak pihak menilai Jakarta masih tertinggal jauh dibandingkan kota-kota besar di dunia yang telah menerapkan teknologi pengolahan sampah modern.

Presiden Minta Kerja Nyata

Melihat kondisi tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa masalah sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan kritik atau perdebatan semata.

Ia menekankan perlunya langkah nyata dan kebijakan teknis yang terukur untuk mengatasi persoalan lingkungan tersebut.

“Ini harus kita selesaikan. Tidak bisa dengan caci maki, teriak-teriak mengejek. Ini harus kerja benar,” tegas Prabowo dalam pernyataannya.

Sebagai contoh keberhasilan pengelolaan sampah, pemerintah menyoroti praktik di Swedia yang dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pengolahan sampah terbaik di dunia.

Di negara tersebut, kurang dari satu persen sampah berakhir di tempat pembuangan akhir. Sebaliknya, sekitar 99 persen sampah berhasil diolah menjadi produk daur ulang, energi panas, maupun listrik.

Pemerintah Siapkan 34 Proyek Waste to Energy

Untuk mengatasi krisis sampah nasional, pemerintah berencana mempercepat pembangunan 34 proyek waste to energy di berbagai kota di Indonesia.

Presiden Prabowo bahkan meminta agar proses groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek-proyek tersebut dapat dimulai dalam beberapa bulan ke depan.

Total investasi yang disiapkan untuk pembangunan fasilitas tersebut mencapai hampir 3,5 miliar dolar Amerika Serikat.

Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap dalam waktu sekitar dua tahun ke depan.

Dengan memanfaatkan teknologi pengolahan modern, sampah yang selama ini menjadi masalah lingkungan diharapkan dapat diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat.

Perusahaan Tiongkok Garap Tahap Awal

Langkah konkret pembangunan proyek tersebut mulai terlihat pada 6 Maret 2026 ketika pemerintah mengumumkan dua perusahaan asal Tiongkok yang terpilih sebagai operator tahap pertama.

Perusahaan tersebut akan menangani pengolahan sampah di wilayah Bekasi dan Denpasar.

Teknologi yang digunakan memiliki potensi energi yang cukup besar. Dari setiap 100 ton sampah yang diolah, fasilitas ini diperkirakan mampu menghasilkan listrik sekitar 700 hingga 750 kWh.

Jika merujuk pada volume sampah Jakarta yang mencapai sekitar 8.000 ton per hari yang dikirim ke Bantar Gebang, potensi listrik yang dapat dihasilkan bisa mencapai sekitar 56 MWh.

Baca Juga: TikTok Hadirkan Fitur Putar Lagu Penuh Lewat Integrasi dengan Apple Music

Pemerintah menargetkan fasilitas pengolahan sampah tahap pertama ini dapat mulai beroperasi paling lambat pada tahun 2028.

Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan tahap pengembangan berikutnya yang mencakup 14 lokasi tambahan.

Salah satu fokusnya adalah pengolahan sekitar 3.000 ton sampah per hari khusus di kawasan Bantar Gebang.

Dengan penerapan teknologi pengolahan sampah modern tersebut, pemerintah berharap gunungan sampah yang selama ini menjadi ancaman lingkungan dan kesehatan masyarakat dapat segera diatasi.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#proyek waste to energy #listrik dari sampah Indonesia #Prabowo Subianto #TPST Bantar Gebang #darurat sampah Indonesia