RADARBONANG.ID – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz masih tetap terbuka bagi negara-negara yang mematuhi aturan lalu lintas maritim yang berlaku, khususnya dalam situasi konflik.
Pernyataan tersebut disampaikan Mohammad Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Sabtu (14/6).
“Negara-negara yang tidak bekerja sama dengan pihak musuh serta mematuhi aturan lalu lintas di Selat Hormuz, terutama pada masa perang, tetap dapat melintasi jalur tersebut,” ujarnya.
Iran Tegaskan Tidak Menutup Selat Hormuz
Menurut Mohammad Boroujerdi, pemerintah Iran tidak menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz secara keseluruhan.
Selat yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia itu masih dapat dilintasi oleh kapal dari negara-negara yang tidak memberikan dukungan kepada pihak yang menyerang Iran.
Sebagai contoh, ia menyebut dua kapal dari Indonesia telah diizinkan untuk melintasi jalur pelayaran tersebut.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kawasan Selat Hormuz merupakan wilayah yang sangat vital bagi keamanan nasional Iran, terlebih di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Kapal Diminta Patuhi Protokol Perang
Karena situasi konflik yang sedang berlangsung, setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz diminta mematuhi protokol lalu lintas pelayaran yang telah ditetapkan oleh otoritas Iran.
Menurut Mohammad Boroujerdi, aturan tersebut bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan di kawasan yang menjadi salah satu jalur perdagangan minyak dan gas terpenting di dunia.
“Jika wilayah ini tidak aman bagi kami, maka tidak akan aman bagi siapa pun. Protokol lalu lintas di Selat Hormuz pada masa perang tetap memungkinkan kapal untuk melintas,” ujarnya.
Iran Sebut Serangan Masih Berlanjut
Dalam kesempatan tersebut, Mohammad Boroujerdi juga menyatakan bahwa serangan terhadap Iran yang dilakukan oleh pihak yang ia sebut sebagai kekuatan imperialis dan Zionis masih terus berlangsung.
Menurutnya, sejumlah serangan dilaporkan menyasar rumah warga, fasilitas sipil, serta berbagai ruang publik lainnya.
Ia menegaskan bahwa Iran akan terus melakukan perlawanan dan tidak akan berkompromi dengan pihak yang dianggap sebagai musuh negara.
“Pihak yang menyerang harus mengambil pelajaran dari situasi yang berkembang saat ini,” ujarnya.
Santunan untuk Siswi Korban Serangan
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Mohammad Boroujerdi menghadiri kegiatan santunan bagi sekitar 200 siswi Muslim di Jakarta.
Acara tersebut digelar untuk mengenang 175 siswi yang dilaporkan gugur akibat serangan militer di Minab, wilayah di Provinsi Hormozgan, Iran selatan.
Para korban diketahui merupakan pelajar dari Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh yang menjadi sasaran serangan dalam konflik yang terjadi di kawasan tersebut.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut termasuk menyasar wilayah ibu kota Teheran dan sejumlah fasilitas penting lainnya.
Akibat serangan tersebut, berbagai infrastruktur dilaporkan mengalami kerusakan serta menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Selain 175 siswi yang meninggal dunia, lebih dari 95 anak lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi di kota Minab.
Konflik yang terus meningkat ini juga menimbulkan kekhawatiran global, terutama terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
Editor : Muhammad Azlan Syah