RADARBONANG.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah pemerintah Iran melontarkan sindiran tajam terhadap operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama sekutunya.
Sindiran tersebut datang langsung dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang secara terbuka memplesetkan nama operasi militer Amerika Serikat terhadap negaranya.
Melalui unggahan di platform media sosial X, Araghchi menyebut bahwa operasi militer yang dinamai “Epic Fury” justru menjadi kesalahan besar bagi pihak Amerika.
Ia mengganti nama operasi tersebut menjadi “Operasi Epic Mistake”, yang secara harfiah berarti kesalahan epik atau kesalahan besar.
Baca Juga: Bukan Soal Gaji Besar! Ini Cara Mengelola Investasi yang Diam-Diam Dipakai Orang Kaya
“Operasi Epic Mistake,” tulis Araghchi dalam unggahannya yang terpantau pada Rabu (11/3).
Iran Sebut Operasi AS Justru Memicu Lonjakan Harga Energi
Dalam pernyataan lanjutannya, Araghchi menilai bahwa operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat tidak hanya meningkatkan ketegangan di kawasan, tetapi juga berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global.
Ia menyebut bahwa pada hari kesembilan sejak operasi tersebut dimulai, harga minyak mentah dunia justru melonjak hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya.
Menurut Araghchi, lonjakan harga energi itu berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang kebutuhan masyarakat di banyak negara.
Kondisi tersebut dinilai sebagai dampak langsung dari konflik militer yang mengganggu stabilitas pasokan energi global.
“Dampaknya bukan hanya politik, tetapi juga ekonomi. Harga minyak meningkat dan biaya hidup masyarakat di berbagai negara ikut terdorong naik,” ungkapnya.
Iran Klaim Sudah Mengantisipasi Serangan
Selain menyoroti dampak ekonomi, Araghchi juga menyatakan bahwa pemerintah Iran telah mengetahui rencana Amerika Serikat untuk menyerang sejumlah fasilitas strategis milik negaranya.
Target yang dimaksud mencakup instalasi minyak serta fasilitas nuklir Iran yang dianggap memiliki nilai strategis tinggi.
Menurut Araghchi, langkah tersebut diduga dilakukan Washington untuk menekan dampak inflasi yang muncul akibat gejolak harga energi global.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran telah bersiap menghadapi kemungkinan serangan tersebut.
“Iran dalam kondisi siap siaga sepenuhnya dan kami memiliki banyak kejutan yang tidak terduga,” ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz Picu Ketegangan Global
Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap wilayah Iran juga berdampak pada jalur perdagangan energi dunia.
Konflik tersebut memicu penutupan jalur vital di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.
Penutupan jalur ini membuat pasar energi global mengalami gejolak signifikan.
Harga kontrak berjangka bensin di Amerika Serikat bahkan dilaporkan melonjak ke titik tertinggi sejak tahun 2022.
Para analis energi menilai bahwa setiap gangguan di Selat Hormuz dapat memberikan dampak besar terhadap suplai minyak dunia karena sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah melewati jalur tersebut.
Trump Klaim Dampak Ekonomi Masih Terkendali
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dampak kenaikan harga energi terhadap masyarakat Amerika masih dapat dikendalikan.
Trump menegaskan bahwa pemerintahannya terus memantau perkembangan situasi agar tidak menimbulkan tekanan ekonomi yang terlalu besar bagi warga.
Pernyataan tersebut juga muncul menjelang momentum politik penting di Amerika Serikat, yaitu Pemilu Paruh Waktu yang dijadwalkan berlangsung pada bulan November.
Stabilitas ekonomi domestik menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi dinamika politik menjelang pemilu tersebut.
Operasi Epic Fury Disebut Serangan Udara Terbesar Sejak 2003
Sebagai latar belakang, istilah “Operasi Epic Fury” merujuk pada serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Hati-hati! Ketahuan Mokel di Negara Ini Bisa Didenda Jutaan Rupiah, Satgas Khusus Sudah Berjaga
Operasi tersebut berlangsung selama sekitar 36 jam dan menargetkan berbagai fasilitas militer serta instalasi strategis.
Serangan dimulai pada pukul 09.45 waktu Teheran dan dilaporkan menghantam lebih dari 1.000 target strategis hanya dalam satu hari pertama.
Menurut Komando Pusat Amerika Serikat atau United States Central Command, operasi ini merupakan pengerahan kekuatan udara terbesar yang dilakukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sejak invasi ke Irak pada tahun 2003.
Situasi di Timur Tengah saat ini pun berada dalam kondisi yang sangat sensitif. Setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, terutama melalui fluktuasi harga energi dan gangguan jalur perdagangan internasional.
Editor : Muhammad Azlan Syah