Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

BRIN Ungkap Indonesia Perlu 200 Peneliti Nuklir Demi Wujudkan Pembangkit Listrik Nuklir 2032

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 11 Maret 2026 | 13:59 WIB

Indonesia membutuhkan sekitar 200 peneliti nuklir untuk mendukung pembangunan PLTN pertama yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.
Indonesia membutuhkan sekitar 200 peneliti nuklir untuk mendukung pembangunan PLTN pertama yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.

RADARBONANG.ID – Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 200 peneliti di bidang nuklir untuk mendukung pengembangan teknologi dan riset energi nuklir nasional.

Kebutuhan tersebut berkaitan dengan rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2032.

Kebutuhan sumber daya manusia ini disampaikan oleh Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edy Giri Rachman Putra.

Ia menjelaskan bahwa penguatan tenaga peneliti menjadi langkah penting untuk mempersiapkan Indonesia memasuki era pemanfaatan energi nuklir.

Baca Juga: Dampak Perang Timur Tengah! Vietnam Siaga Kekurangan BBM, Pajak Impor Bensin dan Solar Dihapus

Menurut Edy, BRIN memproyeksikan kebutuhan hampir 200 peneliti baru di bidang kenukliran untuk memperkuat riset, pengembangan teknologi, hingga kesiapan operasional pembangkit listrik nuklir di masa depan.

Pengembangan SDM Jadi Kunci Energi Nuklir

Pengembangan sumber daya manusia dinilai menjadi faktor krusial dalam pembangunan ekosistem ketenaganukliran di Indonesia.

Tanpa dukungan peneliti dan tenaga ahli yang cukup, berbagai tahapan penting seperti penelitian, pengembangan teknologi, hingga pengoperasian PLTN akan sulit diwujudkan.

Namun demikian, BRIN mengakui bahwa mencari talenta yang bersedia berkarier sebagai peneliti nuklir bukan perkara mudah.

Salah satu kendala utama adalah masih rendahnya minat generasi muda untuk menekuni bidang riset nuklir.

Bahkan, tidak semua lulusan dari pendidikan yang berkaitan dengan teknologi nuklir memilih untuk melanjutkan karier sebagai peneliti di bidang tersebut.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam membangun ekosistem riset nuklir yang kuat di dalam negeri.

Perlu Link and Match dengan Dunia Pendidikan

Selain jumlah peneliti yang masih terbatas, BRIN juga menilai perlunya memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri nuklir.

Hal ini penting agar lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan sektor tersebut.

Menurut Edy, industri nuklir tidak hanya membutuhkan lulusan dengan ijazah akademik, tetapi juga tenaga profesional yang memiliki sertifikasi kompetensi sesuai standar industri.

Karena itu, BRIN mendorong penyusunan standar kompetensi kerja nasional di bidang nuklir.

Dengan adanya standar tersebut, diharapkan lulusan pendidikan dapat memiliki kemampuan teknis yang diakui industri dan siap terlibat dalam proyek pengembangan energi nuklir di Indonesia.

Program Beasiswa dan Pelatihan Disiapkan

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli tersebut, BRIN juga menyiapkan berbagai program penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Program tersebut mencakup pendidikan formal, pelatihan profesional, hingga kerja sama dengan berbagai lembaga.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menyediakan skema beasiswa bagi pengembangan talenta di bidang ketenaganukliran.

Selain itu, BRIN juga merancang program pelatihan seperti Nuclear Energy Management School. Program ini bertujuan memperkuat kemampuan manajemen proyek energi nuklir serta membangun kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.

Melalui pendekatan tersebut, diharapkan pengembangan sumber daya manusia di bidang nuklir dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.

PLTN Ditargetkan Mulai Beroperasi 2032

Pembangunan PLTN menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.

Baca Juga: Dengar Keluhan Korban Bullying di RSKD Duren Sawit, Pramono Anung Buka Opsi Terbitkan Pergub Khusus

Pemerintah menargetkan pembangkit listrik nuklir pertama dapat mulai beroperasi sekitar tahun 2032 dengan kapasitas awal sekitar 500 megawatt. Beberapa wilayah seperti Sumatra dan Kalimantan disebut menjadi kandidat lokasi pembangunan fasilitas tersebut.

Pengembangan energi nuklir juga menjadi salah satu upaya Indonesia dalam mencapai target pengurangan emisi karbon dan mendukung agenda transisi energi menuju net zero emission.

Jika rencana tersebut berjalan sesuai target, maka PLTN akan menjadi salah satu sumber energi baru yang dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat.

Dengan dukungan sumber daya manusia yang memadai, riset yang kuat, serta kebijakan energi yang jelas, Indonesia berharap dapat memanfaatkan teknologi nuklir secara aman, efisien, dan berkelanjutan untuk masa depan energi nasional.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#peneliti nuklir #pembangunan PLTN Indonesia #nuklir #PLTN Indonesia 2032 #BRIN peneliti nuklir #peneliti nuklir Indonesia #energi nuklir Indonesia