RADARBONANG.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Israel kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Salah satu skenario yang paling dikhawatirkan adalah penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak global.
Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga oleh banyak negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Permasalahan ini semakin mengemuka karena Indonesia hingga kini belum memiliki cadangan energi nasional dalam bentuk Strategic Petroleum Reserve (SPR) seperti yang dimiliki banyak negara maju.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai ketahanan energi Indonesia masih berada pada kondisi yang cukup rentan. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
Menurut Bhima, ketika terjadi gangguan dalam distribusi minyak dunia, dampaknya bisa langsung terasa di pasar dalam negeri. Pasokan energi menjadi lebih terbatas, sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi.
Ia menjelaskan bahwa jumlah cadangan energi Indonesia saat ini masih tergolong minim. Akibatnya, ketika terjadi gangguan distribusi global, kondisi tersebut dapat langsung mempengaruhi ketersediaan BBM di dalam negeri.
Namun Bhima menilai bahwa solusi sekadar menambah durasi cadangan energi dari sekitar 20 hari menjadi tiga bulan bukanlah langkah yang sepenuhnya efektif.
Menurutnya, menambah kapasitas tangki penyimpanan memang akan meningkatkan jumlah stok, tetapi tidak menyelesaikan persoalan mendasar karena sumber energi tersebut tetap berasal dari impor.
Oleh sebab itu, Bhima mendorong pemerintah untuk mempercepat transformasi energi melalui langkah-langkah strategis. Salah satunya adalah memperluas penggunaan kendaraan listrik dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Selain itu, pengembangan transportasi umum berbasis listrik juga dinilai sangat penting. Dengan transportasi publik yang nyaman dan terjangkau, masyarakat akan lebih tertarik untuk beralih dari kendaraan pribadi berbahan bakar fosil.
Langkah tersebut dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.
Sementara itu, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan bahwa sebagian besar negara di dunia memiliki cadangan energi yang dapat mencukupi kebutuhan selama tiga hingga enam bulan.
Cadangan energi tersebut berfungsi sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gangguan distribusi energi global, seperti konflik geopolitik, bencana alam, atau krisis ekonomi internasional.
Bahkan beberapa negara besar memiliki cadangan minyak yang jauh lebih besar untuk menjamin stabilitas energi mereka.
Namun demikian, Komaidi menegaskan bahwa membangun cadangan energi dalam jumlah besar bukanlah perkara mudah. Selain membutuhkan perencanaan matang, kebijakan tersebut juga sangat bergantung pada kemampuan anggaran negara serta kesiapan infrastruktur pendukung.
Menurutnya, kondisi ideal setiap negara tidak dapat disamaratakan karena harus mempertimbangkan kemampuan keuangan serta ketersediaan fasilitas penyimpanan energi.
Ia juga memaparkan bahwa biaya untuk memelihara cadangan BBM sangat besar. Sebagai gambaran, dana yang dibutuhkan hanya untuk menjamin ketersediaan BBM selama satu hari saja bisa mencapai sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.
Baca Juga: Banyak Usaha Tumbang Sebelum Untung, Ternyata Ini Rahasia yang Sering Dilupakan Pebisnis Pemula
Jika pemerintah ingin memiliki cadangan energi selama 30 hari, maka dana yang harus disiapkan berkisar antara Rp60 triliun hingga Rp90 triliun hanya untuk pengadaan dan pengelolaan stok tersebut.
Saat ini, Indonesia sebenarnya memiliki cadangan BBM untuk sekitar 20 hingga 25 hari. Namun cadangan tersebut bukan merupakan cadangan strategis milik negara, melainkan stok operasional perusahaan energi.
Komaidi menambahkan bahwa kondisi ini juga menjadi beban tersendiri bagi perusahaan energi karena mereka harus menahan modal dalam jumlah besar dalam bentuk persediaan.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah pada akhirnya membuat ketahanan energi nasional berada dalam posisi yang cukup menantang, terutama ketika dunia sedang menghadapi konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu distribusi energi global.
Editor : Muhammad Azlan Syah