Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Ngabuburit Anti-Mainstream hingga Ilusi Bahagia Digital: Mencari Makna di Tengah Ramadan dan Era Serba Instan

Widodo • Kamis, 5 Maret 2026 | 08:10 WIB

Dari lapangan rumput jelang magrib hingga layar ponsel penuh notifikasi, di mana sebenarnya anak muda menemukan bahagia?
Dari lapangan rumput jelang magrib hingga layar ponsel penuh notifikasi, di mana sebenarnya anak muda menemukan bahagia?

RADARBONANG.ID – Ramadan selalu punya cerita. Dari lapangan rumput menjelang magrib hingga layar ponsel yang tak pernah sepi notifikasi, anak muda hari ini hidup di dua dunia: dunia nyata yang penuh keringat dan tawa, serta dunia digital yang serba cepat dan instan.

Ngabuburit di Lapangan: Seru, Capek, Tapi Penuh Makna

Jam menunjukkan pukul 16.45 WIB. Matahari belum sepenuhnya jinak, tapi lapangan sudah ramai. Ada yang masih memasang sepatu, ada yang teriak, “Oper woy, jangan egois!”—suasana khas fun football jelang berbuka.

Ngabuburit model begini terasa beda. Bukan cuma duduk menunggu adzan sambil scroll TikTok, tapi berlari, berkeringat, tertawa, lalu duduk melingkar di pinggir lapangan untuk buka puasa bersama.

Capek? Iya.
Haus? Banget.
Seru? Nggak ada lawan.

Fun football bukan soal skor. Tidak ada wasit galak, tidak ada kartu merah dramatis. Yang ada hanya rompi dua warna, teriakan spontan, dan solidaritas yang tumbuh tanpa paksaan. Semua datang bukan demi trofi, tapi demi kebersamaan.

Ketika adzan magrib berkumandang, permainan berhenti seketika. Botol air mineral dibuka, kurma dibagikan, tawa berubah jadi ucapan syukur. Bukber di rumput hijau terasa lebih jujur—tanpa dekor estetik, tanpa kamera yang sibuk merekam.

Di momen seperti itu, bahagia terasa sederhana. Tidak perlu filter. Tidak perlu validasi.

Bahagia Secepat Swipe

Namun di luar lapangan, realitas anak muda berbeda. Bahagia zaman sekarang kadang terasa seperti notifikasi: muncul, bunyi, lalu hilang.

Mau makan? Pesan lewat GoFood atau GrabFood.
Mau belanja? Flash sale Shopee tinggal checkout.
Mau hiburan? Scroll TikTok sampai lupa waktu.

Semuanya instan. Termasuk rasa senang.

Laporan Digital 2023 Indonesia dari We Are Social menunjukkan anak muda Indonesia menghabiskan berjam-jam per hari di media sosial. Dunia digital bukan lagi sekadar pelarian, tapi sudah menjadi ruang hidup kedua.

Media sosial bekerja dengan sistem dopamin—zat kimia di otak yang memicu rasa senang. Setiap like, komentar, atau views menciptakan reward loop, siklus penghargaan instan yang membuat orang ingin terus mengulanginya.

Menurut riset dari American Psychological Association, penggunaan media sosial berlebihan berkaitan dengan peningkatan kecemasan dan rasa kesepian pada remaja dan dewasa muda.

Ironis. Terhubung ke ribuan orang, tapi tetap merasa sendiri.

Standar Bahagia yang Terkurasi

Di Instagram, bahagia terlihat seperti liburan estetik, outfit mahal, kopi di kafe minimalis, atau pencapaian karier sebelum usia 25.

Padahal yang tampil hanya highlight. Tidak ada yang mengunggah momen menangis tengah malam karena overthinking masa depan.

Fenomena ini dikenal sebagai social comparison theory—kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai diri sendiri. Di era digital, perbandingan terjadi tanpa jeda, 24 jam sehari.

Akhirnya, banyak anak muda merasa tertinggal. Jika teman sudah punya bisnis, kita merasa gagal. Jika orang lain traveling, kita merasa kurang produktif.

Healing atau Sekadar Pelarian?

Kata “healing” kini jadi mantra. Capek kerja? Healing. Putus cinta? Healing. Burnout? Healing.

Namun sering kali healing dimaknai sebagai konsumsi: staycation, belanja, nongkrong mahal. Bukan refleksi atau pemulihan emosional yang sesungguhnya.

Data survei kesehatan mental global oleh World Health Organization menunjukkan prevalensi gangguan kecemasan dan depresi meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada kelompok usia muda.

Artinya, di balik feed yang tampak bahagia, ada generasi yang sebenarnya rapuh.

Baca Juga: Jelang Idulfitri 2026, Ini 7 Cara Cerdas Kelola Uang Agar Lebaran Tetap Meriah Tanpa Mengganggu Keuangan

Kembali ke Makna yang Sederhana

Bukan berarti teknologi salah. Media sosial bukan musuh. Semua kembali pada cara kita menggunakannya.

Beberapa anak muda mulai sadar. Mereka mengurangi screen time, lebih selektif mengonsumsi konten, dan mengganti validasi digital dengan koneksi nyata—seperti fun football sore hari yang berakhir dengan bukber sederhana di atas rumput.

Bahagia sejati sering lahir dari proses: dari gagal, jatuh, bangun lagi. Dari obrolan tanpa kamera. Dari momen kecil yang tidak selalu estetik, tapi terasa hangat.

Di era serba instan ini, yang paling langka mungkin bukan uang atau popularitas.

Tapi ketenangan.

Dan mungkin, untuk benar-benar bahagia, kita perlu belajar satu hal yang mulai jarang dilakukan: sabar.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#anak muda #Gen Z #magrib #menjelang berbuka puasa #ngabuburit #ramadan