RADARBONANG.ID – Pemerintah Indonesia menyiapkan langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut salah satu skenario yang disiapkan adalah pengalihan sebagian impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat.
Langkah ini dipertimbangkan karena sekitar 20–25 persen suplai minyak mentah Indonesia selama ini berasal dari wilayah yang jalur distribusinya melewati Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Menjelang Usia 30–40-an Sering Mood Swing? Waspada Gejala Perimenopause Dini!
“Jika konflik ini berlarut-larut, skenarionya adalah sebagian crude yang selama ini kita ambil dari Timur Tengah dialihkan ke Amerika Serikat agar ada kepastian ketersediaan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, selain dari Timur Tengah, Indonesia juga mengimpor minyak mentah dari sejumlah negara di Afrika, Brasil, dan Amerika Serikat.
Namun, meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mendorong pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan yang melewati kawasan rawan.
Menurut Bahlil, risiko penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian serius karena waktu normalisasi situasi belum dapat dipastikan.
Jalur tersebut selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Gangguan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus mengganggu stabilitas energi dalam negeri.
“Berdasarkan kajian kami, sulit memprediksi kapan konflik ini akan berakhir. Karena itu, kita siapkan opsi-opsi mitigasi,” katanya.
Untuk impor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan Research Octane Number (RON) 90, 92, 95, dan 98, pemerintah memastikan pasokan relatif aman.
Selama ini, impor BBM tersebut berasal dari negara-negara Asia Tenggara dan kawasan lain di luar Timur Tengah, sehingga tidak terdampak langsung oleh potensi gangguan di Selat Hormuz.
Sementara itu, stok solar juga dipastikan aman karena Indonesia tidak lagi melakukan impor solar sepanjang tahun ini.
Pemerintah mengklaim kondisi tersebut membuat ketahanan energi nasional untuk jenis BBM tertentu berada dalam posisi yang lebih stabil.
Di sisi lain, untuk pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG), Bahlil mengungkapkan bahwa volume impor mencapai 7,3 juta metrik ton per tahun dan meningkat menjadi 7,8 juta metrik ton pada tahun ini.
Sekitar 70 persen impor LPG berasal dari Amerika Serikat, sedangkan sisanya dari Timur Tengah, termasuk dari Saudi Aramco.
Namun, dampak konflik yang turut dirasakan wilayah kilang di Arab Saudi membuat pemerintah kembali menyiapkan opsi pengalihan suplai LPG.
“Alternatifnya, belanja LPG akan dialihkan ke negara-negara yang tidak berkaitan dengan Selat Hormuz,” ujar Bahlil.
Sebagaimana diketahui, konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pecah pada Sabtu pekan lalu.
Sejak itu, kedua pihak saling melancarkan serangan balasan yang menyasar sistem pertahanan serta sejumlah objek strategis.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas pasokan energi dan potensi lonjakan harga minyak mentah.
Pemerintah menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi dan memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi melalui skenario diversifikasi sumber impor serta penguatan cadangan energi nasional.
Editor : Muhammad Azlan Syah