RADARBONANG.ID - Pada malam Selasa, 3 Maret 2026, langit Indonesia dan berbagai belahan dunia akan menyuguhkan salah satu fenomena astronomi paling menakjubkan: gerhana Bulan total yang dikenal sebagai “Blood Moon”.
Fenomena ini menjadi sorotan astronom dan masyarakat umum karena totalitasnya yang panjang dan kesempatan untuk menyaksikannya secara langsung maupun melalui live streaming.
Gerhana Bulan total terjadi saat Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya Matahari yang dibelokkan oleh atmosfer Bumi hanya menyinari Bulan dengan warna kemerahan.
Inilah yang membuat Bulan tampak seperti tergelap namun bercorak merah-copper, sebuah efek indah yang sering disebut blood moon.
Fenomena ini istimewa karena merupakan gerhana Bulan total terakhir hingga akhir tahun 2028, sehingga kesempatan untuk menyaksikannya menjadi sangat berharga bagi pengamat langit dan pecinta astronomi.
Berdasarkan catatan astronomi internasional, totalitasnya diperkirakan berlangsung lebih dari 58 menit, sedangkan fase keseluruhan gerhana dapat berlangsung hingga sekitar 5,5 jam jika dihitung dari awal hingga akhir seluruh fase.
Jadwal dan Waktu Fenomena di Indonesia
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gerhana Bulan total akan berlangsung dalam beberapa fase yang dapat dilihat dari wilayah Indonesia:
-
Fase penumbra mulai (P1): sekitar sore menjelang malam
-
Fase sebagian mulai (U1): sore hari
-
Fase total mulai (U2): malam hari
-
Puncak gerhana: sekitar 18.33 WIB
-
Akhir fase total: malam hari dilanjutkan fase sebagian dan penumbra
Karena fase total sudah berlangsung saat Bulan terbit di Indonesia, tidak semua fase bisa dilihat secara lengkap dengan mata telanjang di seluruh wilayah. Namun sebagian besar wilayah Indonesia tetap dapat menyaksikan fase puncak dan fase total dari fenomena tersebut.
Siaran Live Streaming dari Observatorium Bosscha
Bagi masyarakat yang tidak dapat mengamati langsung karena cuaca mendung, polusi cahaya, atau kendala lokasi, Observatorium Bosscha menyediakan alternatif sangat menarik: siaran live streaming pengamatan gerhana bulan total melalui YouTube resmi Bosscha.
Live streaming ini dijadwalkan mulai pukul 18.45 hingga 20.30 WIB, menghadirkan pemandangan langsung fenomena langit eksklusif bersama astronom yang memandu observasi sekaligus memberikan penjelasan ilmiah terkait proses terjadinya gerhana.
Kehadiran siaran langsung seperti ini membuka kesempatan bagi publik di seluruh Indonesia untuk menyaksikan acara langit yang langka—tanpa harus beranjak dari rumah. Ini juga penting untuk edukasi astronomi, terutama bagi pelajar, keluarga, dan generasi muda pecinta sains.
Klik untuk menyaksikan gerahan
Fenomena Gerhana di Belahan Dunia Lain
Tak hanya Indonesia, gerhana Bulan total ini dapat dilihat juga di sejumlah wilayah dunia seperti Amerika Utara, Australia, dan Asia Timur.
Di beberapa lokasi, seperti negara-negara di Asia Timur dan Pasifik, fase gerhana akan terlihat seluruhnya dari awal sampai akhir, sementara di beberapa kawasan lain hanya sebagian fase saja terlihat karena terbenamnya Bulan.
Di Amerika Serikat, misalnya, fase total akan terjadi di pagi hari, sedangkan di Thailand fenomena ini disambut dengan antusias oleh komunitas astronom lokal dan penduduk yang berharap bisa melihat Bulan merah merona saat terbit.
Baca Juga: Dari Stigma Judi ke Olahraga Prestasi: Mampukah Domino Mengubah Persepsi Publik?
Fenomena Langka yang Mudah Diamati
Salah satu keistimewaan gerhana Bulan dibandingkan dengan gerhana Matahari adalah aman untuk diamati dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus.
Masyarakat cukup berada di tempat terbuka dengan pandangan ke arah langit saat fase total atau sebagian berlangsung.
Bagi yang menggunakan binokular atau teleskop amatir, pengalaman melihat Bulan berubah warna akan terasa lebih dramatis karena detail permukaan Bulan terlihat lebih jelas saat memasuki bayangan Bumi.
Fenomena ini menjadi ajang penting tidak hanya bagi komunitas ilmiah tetapi juga masyarakat umum, karena dapat mempererat rasa ingin tahu terhadap alam semesta serta memperkenalkan sains astronomi kepada publik luas.
Editor : Muhammad Azlan Syah