Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dari Stigma Judi ke Olahraga Prestasi: Mampukah Domino Mengubah Persepsi Publik?

Bihan Mokodompit • Senin, 2 Maret 2026 | 13:44 WIB

Dari permainan yang kerap distigma judi, kini domino mulai menata langkah menuju panggung olahraga prestasi. Orado Jatim resmi bergerak membangun regulasi, dan kompetisi demi pengakuan nasional
Dari permainan yang kerap distigma judi, kini domino mulai menata langkah menuju panggung olahraga prestasi. Orado Jatim resmi bergerak membangun regulasi, dan kompetisi demi pengakuan nasional

RADARBONANG.ID - Dari stigma judi ke olahraga prestasi menjadi narasi besar yang kini diusung Federasi Olahraga Domino Indonesia (Orado) Jawa Timur setelah kepengurusannya resmi dilantik di Surabaya pada 28 Februari lalu.

Pelantikan tersebut turut dihadiri Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, Muhammad Nabil.

Momentum ini bukan sekadar seremoni organisasi, tetapi menjadi titik awal legitimasi domino sebagai cabang olahraga yang ingin diakui secara resmi di Indonesia.

Menghapus Stigma, Membangun Sistem

Selama ini, permainan domino kerap dilekatkan dengan praktik perjudian di ruang-ruang informal. Persepsi itu tumbuh karena domino lebih sering dimainkan tanpa regulasi jelas, bahkan dalam konteks taruhan.

Baca Juga: Jelang Lebaran 2026, Pemprov Jatim Siapkan 54 Posko Pengaduan THR di Seluruh Daerah

Stigma tersebut yang kini ingin dipatahkan Orado melalui pembentukan struktur organisasi resmi, penyusunan regulasi baku, serta penyelenggaraan kompetisi yang terukur dan transparan.

Ketua Orado Jatim, Mahenda Abdillah Kamil, menegaskan bahwa pembinaan atlet menjadi prioritas utama. Ia menyebut pembentukan sistem kompetisi berjenjang sebagai fondasi perubahan persepsi publik.

“Ini langkah awal membangun sistem kompetisi berjenjang. Dari daerah kita seleksi, lalu kita siapkan menuju level yang lebih tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, kompetisi rutin menjadi instrumen penting untuk membangun citra domino sebagai olahraga prestasi, bukan sekadar permainan hiburan.

“Kita ingin publik melihat domino sebagai cabang olahraga prestasi. Target jangka panjang, bisa tampil di PON, minimal sebagai cabang eksebisi lebih dulu,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Orado menggulirkan Kejuaraan Kabupaten/Kota serentak di 38 daerah pada akhir Maret 2026. Babak kualifikasi dijadwalkan awal April sebagai bagian dari sistem seleksi objektif.

Strategi ini dinilai sebagai upaya sistematis menggeser persepsi masyarakat, dari permainan identik judi menjadi olahraga berbasis aturan dan kompetisi.

Profesionalisasi dan Standarisasi Regulasi

Transformasi domino tidak berhenti pada pembentukan organisasi. Profesionalisasi perangkat pertandingan juga menjadi fokus utama.

Sebanyak 60 wasit dari 38 kabupaten/kota mengikuti Training Referee untuk menyamakan standar pertandingan. Standarisasi ini penting agar setiap laga berlangsung dengan aturan yang jelas dan terukur.

Ketua Dewan Pembina Orado, Soiful Bahri Siregar, menegaskan komitmen organisasi dalam membangun legitimasi domino di level nasional.

“Dengan adanya federasi, kita buktikan bahwa domino adalah olahraga yang bisa dipertandingkan secara nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Regulasi, kode etik, serta mekanisme pengawasan disiapkan sebagai fondasi tata kelola. Transparansi menjadi kunci untuk menghilangkan kesan bahwa domino identik dengan praktik ilegal.

Dengan sistem yang tertata, domino diharapkan memiliki standar profesional setara dengan cabang olahraga lain yang telah lama diakui.

Jalan Panjang Menuju Pengakuan Resmi

Meski struktur organisasi dan kompetisi mulai berjalan, pengakuan formal tetap berada di tangan Rakernas KONI Pusat.

Ketua Umum KONI Jatim, Drs. Muhammad Nabil, M.Si., menjelaskan bahwa pengesahan cabang olahraga baru harus melalui mekanisme nasional.

“Kalau di pusat disahkan, nanti dikoordinasikan dengan KONI daerah. Syaratnya kepengurusan provinsi dan kabupaten/kota sudah terbentuk, serta diakui pusat,” jelasnya.

Ia menilai peluang Orado cukup terbuka karena kepengurusan telah terbentuk di berbagai provinsi. Namun, keputusan akhir tetap menunggu forum nasional.

Baca Juga: Orang yang Membutuhkan Waktu Sendirian Setelah Bersosialisasi Biasanya Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Nabil juga mendorong agar kompetisi diperbanyak sebagai sarana rekrutmen atlet potensial.

“Sering-sering adakan kejuaraan. Dari kompetisi itulah lahir atlet terbaik,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengakuan olahraga prestasi tidak lahir dari wacana, melainkan konsistensi pembinaan dan integritas kompetisi.

Jika pengakuan resmi tercapai, domino berpeluang masuk agenda Pekan Olahraga Nasional sebagai cabang eksebisi. Langkah itu akan menjadi pembuktian bahwa dari stigma judi, domino mampu bertransformasi menjadi olahraga prestasi yang sah dan terhormat.

Kini, tantangan terbesar bukan lagi soal pelantikan organisasi, melainkan bagaimana menjaga integritas pertandingan dan memastikan perubahan persepsi publik terjadi melalui pembuktian nyata di arena kompetisi.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Stigma judi domino #Orado Jawa Timur #Pengakuan KONI dan PON #Federasi Olahraga Domino Indonesia #Domino olahraga prestasi