RADARBONANG.ID – Krisis kesehatan mental di kalangan mahasiswa kian menjadi perhatian serius dunia pendidikan tinggi.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Evi Fitriani, mengungkapkan bahwa tekanan psikologis yang dialami mahasiswa saat ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Fenomena tersebut tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga dosen serta tenaga kependidikan sebagai bagian dari civitas akademika.
Dalam wawancara di kanal YouTube REPUBLIKA Official, Evi menegaskan bahwa kampus tidak lagi cukup berfungsi sebagai ruang akademik semata.
Baca Juga: Discord Tunda Verifikasi Usia Global, Janjikan Opsi Lebih Fleksibel
Perguruan tinggi, menurutnya, harus mampu menghadirkan lingkungan yang sehat secara mental, adaptif terhadap perubahan zaman, serta mendukung pembentukan ketangguhan psikologis mahasiswa.
Masa Transisi dan Culture Shock
Mahasiswa semester awal menjadi kelompok yang paling rentan mengalami tekanan mental. Peralihan dari siswa SMA ke mahasiswa menuntut tingkat kemandirian yang jauh lebih tinggi.
Mereka harus mengatur waktu, keuangan, hingga kebutuhan hidup sehari-hari secara mandiri, terutama bagi yang tinggal jauh dari orang tua.
“Mahasiswa tahun pertama dan kedua mulai hidup terpisah dari keluarga. Mereka yang sebelumnya terbiasa mendapatkan dukungan penuh di rumah, kini harus mengurus semuanya sendiri. Ini bisa menjadi sumber stres yang besar,” jelas Evi.
Tak hanya itu, fenomena “academic shock” juga sering muncul. Sebagai salah satu perguruan tinggi negeri bergengsi, UI menampung lulusan terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Mahasiswa yang semasa SMA selalu menjadi peringkat teratas, mendadak berada di lingkungan dengan kompetitor yang sama-sama unggul.
Perasaan kehilangan identitas sebagai “yang paling pintar” kerap memicu krisis kepercayaan diri.
Rasa menjadi “biasa saja” di tengah lingkungan penuh prestasi inilah yang sering kali tidak disadari sebagai beban mental serius.
Tekanan Mahasiswa Tingkat Akhir
Berbeda dengan mahasiswa baru, mahasiswa tingkat akhir dihadapkan pada tekanan penyelesaian studi.
Skripsi, target kelulusan, serta tuntutan orang tua menjadi beban berlapis. Apalagi jika disertai kondisi ekonomi keluarga yang menuntut mereka segera lulus dan bekerja.
Namun Evi menekankan, persoalan mental mahasiswa tidak semata-mata berasal dari akademik.
Selama lebih dari 30 tahun mengajar, ia melihat faktor non-akademik justru sering menjadi pemicu utama.
Konflik keluarga, relasi pertemanan yang tidak sehat, hingga tekanan sosial di era media digital turut memperparah kondisi psikologis mahasiswa Gen Z.
“Kita sering mengira sumber stres hanya nilai dan skripsi. Padahal dinamika personal dan sosial punya dampak yang sangat besar,” ujarnya.
Dari Penanganan ke Pencegahan
Merespons kondisi tersebut, FISIP UI mengembangkan sistem pendampingan yang lebih komprehensif.
Dukungan dimulai dari lingkup peer group atau kelompok sebaya, peran Ketua Program Studi (Kaprodi), hingga akses layanan konseling profesional bekerja sama dengan Fakultas Psikologi.
Meski demikian, Evi mengakui bahwa lonjakan kebutuhan konsultasi membuat layanan psikologis kampus kerap kewalahan. Karena itu, pendekatan yang kini diperkuat bukan hanya kuratif, tetapi juga preventif.
Kampus mulai melakukan evaluasi kurikulum agar lebih adaptif terhadap dinamika sosial dan kebutuhan kesehatan mental mahasiswa.
Penguatan resilience atau ketangguhan mental menjadi fokus utama, sehingga mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional.
“Kita tidak boleh hanya ahli membahas persoalan sosial di luar, tetapi gagal mengelola persoalan di lingkungan kita sendiri,” tegasnya.
Peran Orang Tua dan Kesadaran Mahasiswa
Evi juga mengajak orang tua untuk berkolaborasi aktif. Tekanan untuk selalu meraih IPK tinggi atau lulus tepat waktu perlu diimbangi dengan dukungan emosional.
Anak perlu dipersiapkan bukan hanya untuk sukses, tetapi juga untuk mampu menghadapi kegagalan.
Baca Juga: Samsung Galaxy S26 Ultra Punya ‘Privacy Display’ Bawaan: Cara Kerja dan Keunggulannya
Bagi mahasiswa yang tengah berjuang, ia menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: tidak semua orang harus menjadi yang terbaik.
Setiap proses, termasuk kegagalan dan tekanan, adalah bagian dari pembentukan karakter.
“Ingat, Anda tidak sendirian. Jangan ragu untuk terbuka dan mencari bantuan profesional. Ketangguhan mental dibangun melalui proses, bukan tuntutan instan,” pungkasnya.
Krisis kesehatan mental di kampus menjadi alarm bagi semua pihak. Pendidikan tinggi masa kini bukan sekadar mencetak lulusan unggul, tetapi juga individu yang sehat secara psikologis dan siap menghadapi kompleksitas kehidupan.
Editor : Muhammad Azlan Syah