Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Harta Karun Dunia Ada di RI: Potensi Logam Tanah Jarang Versi Pakar UGM

Amaliya Syafithri • Selasa, 24 Februari 2026 | 14:50 WIB

UGM ungkap potensi logam tanah jarang di Indonesia. Bisa jadi kunci industri teknologi masa depan jika dikelola dengan tepat.
UGM ungkap potensi logam tanah jarang di Indonesia. Bisa jadi kunci industri teknologi masa depan jika dikelola dengan tepat.

RADARBONANG.ID – Indonesia ternyata menyimpan kekayaan alam yang kerap disebut sebagai “harta karun dunia masa depan”, yakni Logam Tanah Jarang (LTJ).

Mineral kritis ini memiliki peran vital dalam industri teknologi global, mulai dari perangkat elektronik hingga energi terbarukan.

Pakar geologi dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, mengungkapkan bahwa potensi LTJ di Indonesia sudah lama diteliti.

Namun hingga kini, pemanfaatannya masih belum optimal dan masih berada pada tahap eksplorasi serta kajian keekonomian.

Menurutnya, jika dikelola secara tepat dan terintegrasi, logam tanah jarang bisa menjadi aset strategis yang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri teknologi dunia.

Baca Juga: Cara Efektif Memulai Side Hustle dengan Modal Kecil untuk Tambah Penghasilan Tanpa Mengganggu Pekerjaan Utama

Apa Itu Logam Tanah Jarang?

Logam Tanah Jarang merupakan kelompok 17 elemen kimia, termasuk neodymium, lanthanum, dan cerium.

Meski disebut “jarang”, unsur-unsur ini sebenarnya cukup melimpah di kerak bumi. Tantangannya terletak pada konsentrasinya yang tersebar kecil sehingga sulit dan mahal untuk ditambang serta diproses.

LTJ sangat krusial dalam teknologi modern. Neodymium, misalnya, digunakan untuk membuat magnet permanen berkekuatan tinggi pada motor kendaraan listrik dan turbin angin.

Sementara itu, unsur lain dimanfaatkan dalam komponen pesawat tempur, sistem satelit, ponsel pintar, hingga baterai kendaraan listrik.

Karena fungsinya yang strategis, logam tanah jarang kini digolongkan sebagai mineral kritis yang menjadi rebutan banyak negara.

Potensi di Indonesia

Riset mengenai keberadaan LTJ di Indonesia telah dilakukan sejak awal 2000-an. Lucas menjelaskan bahwa studi geologi bersama sejumlah lembaga internasional telah mengidentifikasi beberapa wilayah prospektif.

Salah satu kawasan yang cukup menonjol adalah Mamuju, Sulawesi Barat. Wilayah ini bahkan direncanakan sebagai zona proyek percontohan hilirisasi mineral tanah jarang.

Selain itu, potensi LTJ juga ditemukan di Bangka Belitung, Kalimantan, dan beberapa wilayah Sumatra.

Sebaran ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain penting di sektor mineral strategis, terutama di kawasan Asia Tenggara.

Tantangan Pengelolaan

Meski potensinya besar, Indonesia masih berada pada tahap eksplorasi dan evaluasi keekonomian.

Pemerintah pun belum mengeluarkan izin pertambangan khusus untuk logam tanah jarang, mencerminkan pendekatan yang hati-hati dalam mengelola sumber daya strategis.

Tantangan terbesar bukan hanya pada penemuan cadangan, tetapi juga pada teknologi ekstraksi dan pemurnian.

Mineral tanah jarang memiliki karakter kompleks dan sering kali berasosiasi dengan unsur radioaktif seperti thorium.

Karena itu, proses pengolahan harus presisi serta memenuhi standar keselamatan dan lingkungan yang ketat.

Di sisi lain, penguasaan teknologi hilirisasi menjadi kunci. Tanpa kemampuan memproses hingga produk bernilai tambah tinggi, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan mentah.

Konteks Global dan Peluang Strategis

Saat ini, produksi dan pemrosesan logam tanah jarang global masih didominasi oleh China. Ketergantungan banyak negara terhadap satu sumber pasokan memicu kekhawatiran, terutama ketika terjadi pembatasan ekspor.

Kondisi ini membuka peluang bagi negara lain, termasuk Indonesia, untuk masuk dalam rantai pasok global.

Jika mampu membangun industri pengolahan yang kuat, Indonesia tidak hanya berperan sebagai penambang, tetapi juga sebagai produsen komponen teknologi.

Pengelolaan LTJ yang tepat dapat mendorong pertumbuhan industri kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga pertahanan nasional.

Lebih jauh lagi, komoditas ini berpotensi memperkuat posisi ekonomi dan geopolitik Indonesia di kancah internasional.

Baca Juga: Waspada Aturan Impor Terbaru! Produk Impor AS Kini Tak Wajib Label Halal di RI, MUI Minta Umat Islam Tetap Waspada

Kolaborasi Jadi Kunci

Lucas menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri. Riset yang berkelanjutan, regulasi yang jelas, serta investasi pada teknologi pengolahan harus berjalan beriringan.

Logam tanah jarang bukan sekadar komoditas tambang biasa. Ia adalah fondasi bagi teknologi masa depan.

Jika dikelola dengan visi jangka panjang dan prinsip keberlanjutan, “harta karun dunia” ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi nasional di era industri hijau dan digital.

Indonesia memiliki peluang besar. Pertanyaannya kini, seberapa siap bangsa ini memanfaatkan potensi tersebut secara bijak dan berkelanjutan.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#ugm #tambang LTJ Mamuju #Lucas Donny Setijadji #mineral kritis Indonesia #Potensi LTJ RI #logam tanah jarang Indonesia