RADARBONANG.ID – Nasib Badak Kalimantan atau Bornean rhinoceros kian memprihatinkan. Subspesies bernama ilmiah Dicerorhinus sumatrensis harrissoni ini kini berada di ambang kepunahan di alam liar.
Berdasarkan laporan berbagai lembaga konservasi dan media nasional, populasinya diperkirakan hanya tersisa dua ekor betina: Pahu dan Pari.
Kondisi ini menjadikan keduanya sebagai warisan genetik terakhir subspesies badak bercula dua yang pernah menghuni hutan-hutan lebat Kalimantan.
Tanpa langkah luar biasa dan kolaborasi lintas pihak, kisah mereka bisa menjadi bab penutup keberadaan badak Kalimantan di bumi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Menahan Lapar, Puasa Ramadan Jadi Momentum Tubuh Daur Ulang Sel Rusak Lewat Autophagy
Sejarah dan Penurunan Populasi
Badak Kalimantan merupakan bagian dari spesies Badak Sumatera yang dahulu tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Pulau Borneo.
Dalam beberapa dekade terakhir, populasinya merosot tajam akibat kombinasi perburuan ilegal, perusakan hutan, serta fragmentasi habitat.
Cula badak yang diburu untuk perdagangan gelap menjadi salah satu pemicu utama penyusutan populasi.
Di sisi lain, ekspansi perkebunan, pertambangan, dan pembukaan lahan skala besar mempersempit ruang hidup mereka.
Badak yang hidup soliter membutuhkan wilayah jelajah luas untuk bertahan, sehingga kerusakan habitat berdampak langsung pada kemampuan mereka berkembang biak.
Statusnya kini dikategorikan sebagai critically endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), yang berarti berada satu langkah sebelum punah di alam liar.
Perhatian publik sempat kembali tertuju pada spesies ini pada 2015, ketika kamera jebak berhasil merekam seekor badak di hutan Kalimantan setelah puluhan tahun tanpa bukti visual yang sah.
Badak betina tersebut kemudian diberi nama Najaq dan menjadi simbol harapan baru.
Namun, harapan itu pupus ketika Najaq ditemukan mati pada 2016 akibat infeksi parah setelah kakinya terjerat perangkap.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa ancaman terhadap badak tidak pernah benar-benar hilang.
Dua Individu Terakhir
Kini, hanya dua badak betina yang tersisa.
Pahu telah diamankan dan dipindahkan ke Suaka Badak Kelian di Kutai Barat, Kalimantan Timur, sejak 2018.
Di lokasi ini, ia berada dalam pengawasan intensif untuk memastikan keselamatan dan kesehatannya.
Sementara itu, Pari masih hidup liar di kawasan hutan Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Tim konservasi terus memantau pergerakannya untuk memastikan ia terhindar dari ancaman pemburu maupun aktivitas manusia lainnya.
Masalah terbesar adalah keduanya sama-sama betina. Tanpa keberadaan pejantan, peluang reproduksi alami nyaris mustahil.
Situasi ini membuat intervensi teknologi menjadi satu-satunya opsi realistis untuk menyelamatkan garis keturunan mereka.
Upaya Konservasi dan Tantangan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama sejumlah lembaga mitra tengah merancang strategi lanjutan, termasuk kemungkinan memindahkan Pari ke Suaka Badak Kelian agar bisa dipantau lebih ketat.
Selain perlindungan fisik, opsi teknologi reproduksi berbantu seperti in-vitro fertilization (IVF) mulai dipertimbangkan.
Prosedur ini memungkinkan pembuahan dilakukan di luar tubuh, dengan harapan menghasilkan embrio yang bisa dikembangkan menjadi keturunan baru.
Namun, penerapan teknologi tersebut tidaklah mudah. Tantangan teknis, keterbatasan sumber genetik pejantan, serta faktor usia dan kondisi kesehatan individu menjadi hambatan tersendiri.
Di sisi lain, perlindungan habitat tetap menjadi kunci utama.
Tanpa hutan yang aman dan berkelanjutan, kelahiran generasi baru pun tidak akan menjamin kelangsungan hidup jangka panjang.
Lebih dari Sekadar Dua Individu
Kehilangan badak Kalimantan bukan hanya kehilangan satu subspesies, melainkan juga hilangnya bagian penting dari ekosistem hutan tropis Asia Tenggara.
Sebagai satwa besar pemakan tumbuhan, badak berperan dalam penyebaran biji dan menjaga keseimbangan vegetasi.
Upaya menyelamatkan Pahu dan Pari bukan sekadar menjaga dua individu terakhir, tetapi mempertahankan nilai ekologis, sejarah evolusi jutaan tahun, serta identitas keanekaragaman hayati Indonesia.
Waktu terus berjalan. Masa depan badak Kalimantan kini bergantung pada kecepatan, keseriusan, dan komitmen bersama dalam menjaga hutan serta mendukung inovasi konservasi. Jika gagal, dunia mungkin hanya akan mengenal mereka dari catatan sejarah.
Editor : Muhammad Azlan Syah