Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

IMI Soroti Rencana Impor 105 Ribu Pick-up dari India, Duit Rp 25 Triliun Dinilai Bisa Hidupkan Otomotif Nasional

Tulus Widodo • Selasa, 24 Februari 2026 | 11:17 WIB

IMI Soroti kebijakan pemerintah terkait impor mobil pick-up dari India. Menurut IMI angka sebesar itu seharusnya bisa menjadi stimulus besar bagi industri otomotif nasional
IMI Soroti kebijakan pemerintah terkait impor mobil pick-up dari India. Menurut IMI angka sebesar itu seharusnya bisa menjadi stimulus besar bagi industri otomotif nasional

RADARBONANG.ID – Rencana pemerintah mengimpor 105.000 unit mobil pick-up secara utuh atau completely built up (CBU) dari India untuk kebutuhan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memantik kritik keras dari pelaku otomotif nasional.

Nilai proyek yang disebut mendekati Rp 25 triliun dinilai terlalu besar jika hanya diarahkan ke skema impor, tanpa melibatkan industri dalam negeri yang selama ini justru berjuang membangun kapasitas produksi dan teknologi.

IMI: Impor Utuh Hilangkan Peluang Kerja Nasional

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia Pusat, Moreno Soeprapto, secara terbuka menyayangkan rencana impor tersebut.

Menurutnya, keputusan mendatangkan kendaraan secara CBU berpotensi mematikan peluang penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.

“Dengan impor 105 ribu unit mobil secara CBU dengan nilai hampir Rp 25 triliun, berarti peluang membuka lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia itu tidak ada. Justru lapangan kerja tercipta di negara asal produksi,” ujar Moreno, dikutip dari JawaPos.com.

Mantan pembalap itu menegaskan, proyek berskala nasional seharusnya menjadi alat penggerak industri otomotif lokal, bukan sekadar solusi instan berbasis impor.

Ekosistem Lokal Dinilai Sudah Siap Produksi

Moreno menilai, di bawah koordinasi IMI, ekosistem otomotif nasional—termasuk modifikasi dan kendaraan listrik—sudah berkembang signifikan dalam satu dekade terakhir.

Pria yang juga anggota DPR RI itu menyebut peran Andre Mulyadi, pimpinan Divisi Modifikasi dan Kendaraan Listrik IMI Pusat sekaligus pendiri National Modificator & Aftermarket Association (NMAA).

Menurut Moreno, jejaring builder, engineer, hingga pelaku aftermarket Indonesia kini memiliki kemampuan teknis yang tidak kalah dengan luar negeri.

“Kita punya banyak builder dan engineer lokal yang kemampuannya tidak kalah dengan luar negeri,” tegas adik pembalap nasional Ananda Mikola itu.

Bukan Sekadar Modifikasi, Tapi Rekayasa Teknis

Andre Mulyadi menegaskan kesiapan ekosistem yang ia bina untuk terlibat dalam proyek strategis pemerintah, jika ruang kolaborasi dibuka.

Andre menolak anggapan bahwa industri modifikasi nasional hanya bermain di wilayah estetika.

“Ini bukan hanya soal menyediakan kendaraan operasional, tapi soal membuktikan bahwa rancang bangun anak bangsa mampu memenuhi standar global,” ujar Andre.

Menurutnya, industri lokal telah masuk ke tahap rekayasa teknis, manufaktur komponen, hingga pengembangan sistem penggerak—baik berbasis mesin pembakaran internal maupun konversi listrik.

Pengalaman Panjang Jadi Modal Industri Nasional

IMI menilai kemampuan teknis pelaku otomotif nasional sudah cukup matang untuk menangani proyek skala besar. Mulai dari rancang bangun sasis, bodi, hingga sistem penggerak, bukan lagi hal baru bagi industri dalam negeri.

Moreno bahkan mengingatkan bahwa eksperimen kendaraan listrik lokal telah dimulai sejak lebih dari satu dekade lalu, termasuk prototipe yang dikembangkan Signal Kustom pada 2009.

Meski belum masuk produksi massal, pengalaman tersebut menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan kapasitas engineering nasional.

Bisa Jadi Stimulus Ekonomi Desa dan Industri

Lebih jauh, proyek kendaraan KDMP dinilai bukan sekadar urusan logistik desa. Jika diarahkan ke produksi atau perakitan dalam negeri, dampaknya bisa menjalar luas—dari UMKM karoseri, bengkel spesialis, hingga produsen komponen lokal.

IMI berpandangan, skema dalam negeri membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kapasitas produksi, hingga penguatan standar kualitas nasional.

Moreno juga menegaskan kesiapan IMI untuk menjadi fasilitator sekaligus quality gate agar kendaraan yang diproduksi memenuhi standar keselamatan dan regulasi.

Bagi IMI, Rp 25 triliun bukan sekadar angka pengadaan, melainkan peluang strategis untuk membuktikan bahwa industri otomotif nasional mampu berdiri sejajar—dan memberi manfaat nyata bagi ekonomi Indonesia. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#otomotif #impor #Mobil Pick up #india #KDKMP #Ikatan Motor Indonesia (IMI)