RADARBONANG.ID - Pondok Pesantren Ash Shomadiyah, yang kini menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam bersejarah di Kabupaten Tuban, tidak lepas dari peran besar sosok KH Ahmad Syifa’ Sholih — akrab disapa Mbah Syifa’.
Pesantren yang beralamat di Dusun Makam Agung, Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban ini sudah memiliki akar sejarah sejak abad ke-18, jauh sebelum Mbah Syifa’ menjadikannya pusat dakwah dan pendidikan formal.
Awalnya, lokasi pesantren ini adalah sebuah masjid kecil dengan pondasi kayu yang menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an bagi masyarakat sekitar.
Seiring perjalanan waktu, pesantren tumbuh, berkembang, dan menjadi sentra pendidikan agama yang banyak menarik santri.
Perjalanan Hidup dan Pendidikan Mbah Syifa’
Lahir di Tuban pada tahun 1944, Mbah Syifa’ menghabiskan masa mudanya menuntut ilmu di Pesantren Sarang Kabupaten Rembang di bawah bimbingan KH Imam Bin Harun.
Setelah menimba berbagai disiplin ilmu keagamaan, beliau mendapatkan amanah dari gurunya untuk kembali ke Tuban dan mengabdikan diri dalam kegiatan dakwah serta pendidikan masyarakat.
Kedekatan beliau dengan masyarakat kecil serta kesederhanaannya membuat Mbah Syifa’ menjadi sosok ulama yang disegani.
Banyak warga yang datang kepadanya selain untuk belajar agama, juga mencari bimbingan dan pertolongan dalam berbagai urusan kehidupan.
Menguatkan Pendidikan Formal di Pesantren
Salah satu kontribusi paling besar Mbah Syifa’ adalah upayanya mengembangkan pendidikan formal di lingkungan pesantren.
Pada awal masa kepemimpinannya di era 1980-an, Pondok Pesantren Ash Shomadiyah saat itu dipimpin dengan penuh vitalitas, menarik ratusan santri dari berbagai daerah.
Melihat pentingnya akses pendidikan yang lebih luas, Mbah Syifa’ mendorong pendirian lembaga pendidikan formal di dalam lingkungan pesantren.
Pada tahun 1992, Madrasah Aliyah Ash Shomadiyah berdiri sebagai jenjang pendidikan menengah atas.
Empat tahun kemudian, pada 1996, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ash Shomadiyah juga didirikan.
Langkah ini menjadi tonggak penting dalam membuka akses pendidikan formal bagi generasi muda di kawasan Tuban.
Kehadiran kedua lembaga ini tidak saja berfungsi sebagai lanjutan pendidikan keagamaan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada santri dan masyarakat sekitar untuk mendapatkan pendidikan yang terstruktur, sesuai kurikulum yang diakui secara nasional.
Peran Sosial dan Amalan Harian Mbah Syifa’
Selain kiprah pendidikan, Mbah Syifa’ juga dikenal sebagai ulama yang dekat dengan masyarakat dan aktif dalam kegiatan keagamaan sehari-hari.
Dalam kesehariannya, beliau menjaga disiplin ibadah, termasuk beribadah di masjid setelah salat Subuh hingga menjelang Duha.
Kedisiplinan ini turut menjadi teladan bagi santri dan masyarakat pesantren.
Pengasuh pesantren saat ini, KH Riza Shalihuddin Habibi (Gus Riza), menuturkan bahwa Mbah Syifa’ menjadi figur penting dalam perjalanan Ponpes Ash Shomadiyah, terutama dalam memperkuat struktur pendidikan di dalamnya.
Keberhasilannya menjadikan pesantren ini tumbuh dan berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang dihormati di wilayah Tuban dan sekitarnya.
Warisan dan Keberlanjutan Pendidikan
Hingga kini, perjuangan Mbah Syifa’ dalam mengembangkan pendidikan formal tetap dilanjutkan oleh generasi penerusnya.
Pondok Pesantren Ash Shomadiyah tidak hanya menjadi tempat belajar agama tradisional, tetapi juga menjadi lembaga yang melahirkan generasi muda yang berilmu dan memiliki pendidikan formal yang kuat — sebuah wujud nyata dari dakwah dan visi pendidikan ulama besar ini.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah