RADARBONANG.ID – Menjelang waktu berbuka puasa, ada satu momen yang selalu ditunggu: ngabuburit.
Dulu, suasana sore Ramadan identik dengan anak-anak berlarian di lapangan, suara tawa yang pecah tanpa beban, dan layangan yang saling beradu di langit senja.
Kini, pemandangan itu perlahan berubah. Alih-alih berlari di luar rumah, banyak orang justru memilih duduk diam—mata terpaku pada layar, jari sibuk scroll tanpa henti di platform seperti TikTok.
Ngabuburit bukan lagi soal aktivitas fisik di ruang terbuka, tetapi tentang bagaimana mengisi waktu di dunia digital. Lalu, sebenarnya apa yang berubah? Tradisinya, atau cara kita menjalani hidup?
Baca Juga: Mindful Eating: Gaya Makan Kekinian Gen Z yang Bikin Tubuh & Pikiran Happy
Dari Lapangan ke Layar
Jika mundur beberapa tahun ke belakang, ngabuburit identik dengan aktivitas sederhana: bermain layangan, bersepeda keliling kampung, berburu takjil di pasar dadakan, atau sekadar nongkrong di pinggir jalan menunggu azan Maghrib berkumandang.
Hari ini, cukup dengan satu gawai, semua hiburan tersedia dalam genggaman. Video pendek, live streaming, gim online, hingga konten komedi menjadi “teman” baru saat menunggu waktu berbuka.
Algoritma media sosial bahkan mampu menyajikan konten sesuai minat pengguna, membuat waktu terasa berjalan begitu cepat tanpa disadari.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Kemajuan teknologi membuat hiburan lebih mudah diakses, praktis, dan instan.
Generasi yang tumbuh bersama internet tentu merasa nyaman dengan pola ini. Dunia digital bukan lagi pelengkap, melainkan bagian dari keseharian.
Ngabuburit yang Terasa Lebih Sepi
Meski terlihat seru, banyak yang mulai menyadari satu hal: ngabuburit zaman sekarang terasa lebih sepi. Bukan karena tidak ada aktivitas, tetapi karena interaksi sosial berkurang.
Dulu, ngabuburit adalah momen kebersamaan. Anak-anak saling mengejar, orang dewasa bercengkerama, pedagang takjil ramai diserbu pembeli. Kini, bahkan ketika duduk bersebelahan, masing-masing bisa tenggelam dalam layar sendiri.
Fenomena ini banyak terjadi di kalangan Gen Z dan milenial yang terbiasa multitasking di ruang digital. Komunikasi tetap ada, tetapi sering kali melalui komentar, direct message, atau siaran langsung—bukan tatap muka.
Konten Ramadan: Hiburan atau Distraksi?
Ramadan juga menjadi “ladang konten” di media sosial. Mulai dari video masak takjil, daily vlog puasa, hingga ceramah singkat yang dikemas ringan dan mudah dipahami. Di satu sisi, ini membuka akses pengetahuan dan hiburan yang luas.
Namun di sisi lain, scrolling tanpa tujuan bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Ngabuburit yang seharusnya menjadi momen refleksi dan persiapan diri menuju waktu berbuka, terkadang berubah menjadi rutinitas konsumsi konten tanpa henti.
Tanpa sadar, waktu yang tadinya terasa panjang justru habis dalam hitungan detik—diukur bukan dengan bayangan matahari yang makin rendah, tetapi dengan jumlah video yang sudah ditonton.
Nostalgia yang Dirindukan
Tak sedikit orang yang mulai merindukan suasana ngabuburit zaman dulu. Ada rasa hangat yang sulit digantikan oleh layar digital.
Suara azan dari masjid terdekat, angin sore yang menerpa wajah, hingga momen berburu es buah atau kolak langsung di pinggir jalan menghadirkan pengalaman yang lebih nyata.
Nostalgia ini bukan berarti menolak kemajuan zaman. Ia lebih kepada kerinduan pada interaksi langsung—pada tawa yang terdengar jelas, bukan sekadar emoji di kolom komentar.
Bukan Soal Salah atau Benar
Perubahan tidak selalu berarti kemunduran. Teknologi memberi banyak kemudahan, termasuk dalam mencari hiburan dan ilmu selama Ramadan.
Kajian daring, pengingat waktu salat, hingga donasi digital menjadi bukti bahwa dunia online juga membawa manfaat.
Yang menjadi pertanyaan adalah keseimbangan. Apakah kita masih benar-benar menikmati ngabuburit, atau sekadar mengisi waktu agar terasa cepat berlalu?
Menggabungkan keduanya bisa menjadi solusi. Sesekali keluar rumah, berinteraksi dengan sekitar, berolahraga ringan, atau sekadar menikmati suasana sore tanpa distraksi layar.
Setelah itu, kembali ke dunia digital dengan batas yang lebih sehat.
Baca Juga: Kondisi Terkini Rumah Eko Patrio dan Uya Kuya Usai Penjarahan, Kini Mulai Dibangun Kembali
Cerminan Gaya Hidup
Ngabuburit hari ini adalah cerminan gaya hidup kita. Dari layangan ke layar, dari tawa di lapangan ke scroll tanpa suara—tradisi memang berevolusi. Namun waktu tetap berjalan menuju Maghrib.
Pertanyaannya sederhana: ketika azan berkumandang, apakah kita merasa sore itu benar-benar bermakna?
Mungkin bukan ngabuburitnya yang berubah drastis, melainkan cara kita memaknainya.
Di tengah arus digital yang tak bisa dibendung, pilihan tetap ada di tangan kita—ingin tenggelam sepenuhnya, atau tetap menjaga ruang untuk kebersamaan yang nyata. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah