RADARBONANG.ID – Sore hari di masa lalu tak pernah benar-benar sunyi.
Di antara cahaya matahari yang mulai redup, terdengar suara lonceng kecil, ketukan sendok ke mangkuk, atau teriakan khas yang seketika membuat anak-anak berlarian ke depan rumah.
Suara “ting-ting” itu seperti penanda waktu—bahwa petualangan kecil sebelum magrib segera dimulai.
Kini, di era notifikasi ponsel, gim daring, dan layanan pesan antar makanan, suasana itu terasa berbeda.
Jalanan ko mpleks lebih sepi, anak-anak lebih sering berada di dalam rumah, dan jajanan keliling tak lagi seramai dulu.
Namun bagi banyak orang Indonesia, kehadirannya bukan sekadar soal makanan. Ia adalah bagian dari kenangan, simbol kebersamaan, dan potongan kecil masa kecil yang sulit tergantikan.
Uang receh di genggaman, rasa deg-degan takut kehabisan, hingga momen berbagi dengan teman sebaya—semuanya menghadirkan sensasi yang tak bisa dibeli lewat aplikasi.
Berikut deretan jajanan keliling yang dulu meramaikan sore hari dan sebagian masih bertahan, meski perlahan mulai langka.
1. Siomay dan Batagor Gerobak, Raja Sore Hari
Suara kukusan dibuka, uap panas mengepul, dan aroma saus kacang yang khas langsung menggoda.
Siomay dan batagor keliling selalu punya pelanggan setia. Duduk di bangku plastik kecil di pinggir jalan, menunggu saus kacang disiram perlahan, menjadi ritual sederhana yang membekas.
Kini, pedagang siomay memang masih ada. Namun tak semua kawasan perumahan lagi rutin didatangi setiap sore seperti dulu.
2. Es Goyang dan Es Mambo, Manisnya Masa Kecil
Lonceng penjual es keliling dulu seperti alarm kebahagiaan. Es goyang warna-warni atau es mambo dalam plastik panjang jadi rebutan. Rasanya sederhana, manis, dan menyegarkan.
Sekarang, keberadaannya sering tergeser es krim kemasan pabrik dengan tampilan modern.
Padahal, sensasi memilih rasa dari kotak pendingin sederhana punya cerita tersendiri yang sulit dilupakan.
3. Kue Cubit Gerobak, dari Gang Sempit ke Media Sosial
Sebelum viral di media sosial dan masuk ke kafe estetik, kue cubit lebih dulu eksis lewat gerobak sederhana.
Setengah matang, bertabur meses cokelat, dan disajikan hangat di atas kertas minyak.
Dulu pembelinya anak-anak pulang sekolah. Kini, ia menjelma jadi konten ulasan makanan dan nostalgia generasi milenial.
4. Bakso Tusuk dan Cilok, Favorit Anak Kompleks
Tak perlu tempat mewah. Bakso tusuk dan cilok cukup berhenti di pojok gang. Saus sambal merah cerahnya selalu bikin ketagihan.
Murah, mengenyangkan, dan jadi alasan anak-anak betah bermain hingga menjelang azan magrib.
Kesederhanaannya justru menjadi daya tarik yang tak lekang oleh waktu.
5. Gulali dan Rambut Nenek, Ikonik dan Mulai Langka
Gulali yang dibentuk menjadi bunga atau ayam bukan sekadar camilan, tapi juga hiburan. Sementara rambut nenek dengan teksturnya yang lembut dan manis kini semakin sulit ditemukan.
Di tengah gempuran dessert modern dan minuman kekinian, jajanan ini perlahan menghilang dari peredaran.
Kenapa Jajanan Keliling Mulai Berkurang?
Fenomena berkurangnya jajanan keliling tak lepas dari perubahan gaya hidup masyarakat. Kompleks perumahan dengan sistem satu pintu membatasi akses pedagang.
Persaingan dengan layanan pesan antar online juga membuat pola konsumsi berubah.
Selain itu, generasi muda tak banyak yang meneruskan usaha keliling karena dianggap kurang menjanjikan. Kenaikan harga bahan baku turut memengaruhi keberlanjutan usaha kecil ini.
Anak-anak masa kini pun lebih akrab dengan minimarket dan jajanan instan. Interaksi langsung dengan pedagang keliling perlahan tergantikan transaksi digital.
Lebih dari Sekadar Makanan
Yang membuat jajanan sore hari begitu berkesan bukan hanya rasa atau harga murahnya.
Tapi momen sosial yang tercipta. Anak-anak berkumpul, tetangga saling menyapa, dan suasana kampung terasa hidup.
Pedagang keliling adalah bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Mereka membawa cerita, canda, dan interaksi nyata yang kini semakin jarang ditemui.
Baca Juga: Puasa Ramadan 2026: Begini Perbedaan Penetapan Tanggal di Arab Saudi dan Indonesia
Masih Bertahan atau Tinggal Kenangan?
Di beberapa daerah, jajanan tradisional keliling masih eksis. Bahkan ada pedagang yang beradaptasi dengan memanfaatkan media sosial untuk mengumumkan jadwal keliling atau menerima pesanan.
Namun pertanyaannya, apakah generasi sekarang masih menunggu suara lonceng sore hari seperti dulu? Atau nostalgia ini perlahan hanya akan jadi cerita yang berulang di linimasa?
Karena ketika suara “ting-ting” itu benar-benar hilang, mungkin yang kita rindukan bukan sekadar makanannya. Melainkan suasana sore yang hangat, riuh, dan penuh kebersamaan.
Kalau di tempatmu, masih ada jajanan keliling yang lewat setiap sore? Atau sudah lama tak terdengar suaranya?(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah