RADARBONANG.ID - Wacana gentengisasi kembali mencuat ke ruang publik setelah dikaitkan dengan gagasan pembangunan nasional yang menekankan kemandirian material bangunan rakyat, khususnya rumah sederhana.
Dalam narasi yang berkembang, program gentengisasi disebut sebagai upaya memperkuat industri lokal, mengganti atap rumah tidak layak, sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Namun di sisi lain, muncul pula perbincangan liar di masyarakat: benarkah gentengisasi pernah dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa lalu?
Pertanyaan ini menguat setelah publik kembali mengingat temuan genteng rumah tua di Lumajang yang berlogo mirip palu-arit, simbol yang identik dengan komunisme.
Dari sinilah muncul asumsi bahwa gentengisasi bukanlah hal baru dan diduga pernah menjadi bagian dari program PKI sebelum 1965. Tapi benarkah demikian jika ditinjau secara historis?
Baca Juga: Habis Pumping ASI untuk Anak, Vika Kolesnaya Tetap Hadir Dampingi Billy Syahputra di Turnamen Biliar
Gentengisasi sebagai Program Pembangunan Modern
Dalam konteks pemerintahan saat ini, gentengisasi—yang dikaitkan dengan gagasan Presiden Prabowo—diposisikan sebagai program pembangunan berbasis kesejahteraan rakyat.
Fokusnya adalah perbaikan rumah, penguatan industri genteng lokal, dan penciptaan lapangan kerja.
Genteng dipilih karena merupakan material tradisional yang tahan lama, ramah iklim tropis, dan dapat diproduksi oleh UMKM desa.
Secara konsep, ini bukan program ideologis, melainkan kebijakan teknokratis: rumah layak huni, ekonomi bergerak, dan ketergantungan pada material impor berkurang.
Gentengisasi diperlakukan sebagai solusi praktis atas persoalan kemiskinan struktural dan ketimpangan kualitas hunian.
Lalu, Bagaimana dengan PKI?
Jika menengok sejarah, tidak ada catatan resmi yang menyebut PKI pernah menjalankan program nasional bernama “gentengisasi”. PKI memang aktif dalam gerakan massa, seperti reforma agraria, koperasi rakyat, dan mobilisasi buruh-tani.
Mereka juga terlibat dalam mendorong perbaikan kondisi hidup rakyat kecil, tetapi itu dilakukan melalui aksi politik dan organisasi, bukan lewat program negara terstruktur seperti yang dikenal saat ini.
Genteng-genteng berlogo palu-arit yang ditemukan di Lumajang lebih tepat dibaca sebagai produk konteks zaman, bukan bukti program gentengisasi PKI.
Pada era 1950–1960-an, simbol palu-arit banyak digunakan secara terbuka—bukan hanya oleh PKI, tetapi juga sebagai ekspresi ideologi atau identitas pembuat barang.
Ada kemungkinan genteng tersebut dicetak oleh pengrajin yang bersimpati secara ideologis, bukan karena adanya proyek negara berbasis komunisme.
Polisi sendiri telah menegaskan bahwa genteng tersebut merupakan artefak lama, bukan penanda aktivitas PKI masa kini, apalagi bukti program terencana.
Di Mana Letak “Benturannya”?
Benturan narasi muncul bukan pada praktiknya, melainkan pada asosiasi simbolik. Genteng sebagai benda fisik dipaksa memikul beban sejarah ideologi.
Ketika gentengisasi modern dikaitkan dengan simbol palu-arit, terjadi lompatan logika: dari material bangunan ke ideologi politik.
Padahal, genteng adalah teknologi netral. Ia digunakan di berbagai sistem politik—kapitalis, sosialis, bahkan kerajaan tradisional.
Yang membedakan hanyalah siapa yang menjalankan, untuk tujuan apa, dan dalam kerangka ideologi apa.
Gentengisasi ala Prabowo berada dalam kerangka negara Pancasila, ekonomi nasional, dan pembangunan top-down berbasis kebijakan negara.
Sementara PKI bergerak di ranah perjuangan politik ideologis, bukan program teknis pembangunan negara.
Baca Juga: Google Bawa Fitur Mirip AirDrop ke Semua HP Android — Akhirnya Kirim File ke iPhone Tanpa Ribet!
Mirip Bukan Berarti Sama
Mengaitkan gentengisasi modern dengan PKI semata karena adanya genteng berlogo palu-arit di masa lalu adalah reduksi sejarah. Itu menyederhanakan realitas kompleks menjadi narasi hitam-putih.
Gentengisasi hari ini adalah soal rumah rakyat dan ekonomi, bukan soal ideologi. Sementara genteng berlogo palu-arit adalah jejak sejarah, bukan cetak biru kebijakan.
Sejarah perlu dibaca dengan jarak, bukan dengan kecurigaan berlebihan.
Karena jika setiap artefak masa lalu ditarik ke konflik ideologi hari ini, maka pembangunan akan selalu terjebak bayang-bayang trauma, bukan bergerak ke solusi.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah