RADARBONANG.ID – Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo mengguncang Pacitan pada Jumat (6/2).
Getarannya terasa hingga wilayah Kediri dan sekitarnya, sempat memicu kekhawatiran warga. Kondisi tersebut wajar, terlebih adanya potensi gempa susulan.
Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan waspada. Pasalnya, gempa susulan yang terjadi umumnya memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa utama.
Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi dari dalam bumi.
Energi ini muncul karena pergerakan lempeng tektonik atau aktivitas patahan.
Energi yang dilepaskan kemudian menyebar dalam bentuk gelombang seismik, sehingga menyebabkan permukaan bumi bergetar dan dirasakan oleh manusia.
Baca Juga: Bumi Ronggolawe Tak Sepenuhnya Tenang, 13 Gempa Kecil Menguji Kesiapsiagaan Tuban Sepanjang 2025
Jenis-Jenis Gempa yang Perlu Diketahui
Dalam ilmu kebumian, gempa dibedakan menjadi beberapa jenis. Gempa mikro memiliki magnitudo sangat kecil dan umumnya tidak terasa oleh manusia, hanya dapat terekam oleh alat seismograf.
Sementara itu, gempa utama atau mainshock merupakan gempa dengan energi terbesar dalam satu rangkaian kejadian.
Setelahnya, biasanya muncul gempa susulan atau aftershock dengan kekuatan lebih kecil sebagai proses penyesuaian struktur bumi.
Mengapa Energi Gempa Bisa Berbeda?
Energi gempa berasal dari tekanan yang terus menumpuk akibat pergerakan lempeng bumi. Namun, pelepasan energi ini tidak selalu terjadi sekaligus.
Dalam beberapa kondisi, energi dilepaskan sedikit demi sedikit melalui gempa kecil yang berulang. Pada situasi lain, energi bisa dilepaskan secara tiba-tiba dan memicu gempa besar.
Perlu dipahami bahwa gempa kecil yang sering terjadi tidak selalu menandakan akan datangnya gempa besar.
Dalam banyak kasus, hal tersebut merupakan proses alami di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi.
Gempa Tidak Bisa Diprediksi Secara Pasti
Secara ilmiah, hingga saat ini belum ada metode yang mampu memprediksi secara akurat kapan dan seberapa besar gempa akan terjadi.
Oleh karena itu, gempa kecil tidak dapat dijadikan patokan pasti akan terjadinya gempa besar.
Baca Juga: Gempa Sumenep Magnitudo 6,5 Getaran Terasa hingga Bangkalan, Tak Berpotensi Tsunami
Fokus pada Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa karena gempa tidak dapat diprediksi secara pasti, upaya penanganan lebih difokuskan pada mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Edukasi, latihan evakuasi, serta pemahaman risiko dinilai jauh lebih efektif dibandingkan spekulasi yang justru memicu kepanikan.
Pentingnya Informasi Resmi
Dalam situasi bencana, masyarakat diharapkan tetap tenang setelah memperoleh informasi yang benar.
Rasa takut merupakan hal yang wajar, namun pemahaman yang kuat akan membantu masyarakat lebih siap menghadapi kondisi serupa.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menghindari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan selalu merujuk pada sumber resmi seperti BMKG. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni