RADARBONANG.ID — Tragedi tragis menimpa seorang programmer berusia 32 tahun di China, Gao Guanghui, setelah ia jatuh pingsan di rumah akibat kelelahan kerja dan kemudian meninggal dunia.
Kisah ini menjadi viral dan mengundang perhatian luas di media sosial karena menunjukkan tekanan ekstrem yang dialami pekerja di industri teknologi, bahkan sampai masih menerima tugas saat kondisi sudah sangat buruk.
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 29 November 2025, ketika Gao yang baru saja dipromosikan menjadi manajer departemen terus memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan meski dalam kondisi fisik yang menurun drastis.
Kejadian ini memicu diskusi luas soal budaya kerja yang menuntut jam kerja panjang, kurangnya waktu istirahat, dan kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan karyawan—tema yang sudah lama menjadi perdebatan di industri teknologi, khususnya di China.
Kelelahan Kerja yang Berujung Tragedi
Menurut laporan media lokal dan Asiaone, Gao dikenal sebagai pekerja berdedikasi tinggi yang menangani berbagai tanggung jawab, mulai dari pemrograman, manajemen proyek, hingga layanan purnajual pelanggan.
Jadwal kerjanya sangat padat, sering lembur sampai larut malam, dan hampir tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.
Pada hari tragedi, keluarga mengatakan Gao sempat merasa tidak enak badan namun tetap melanjutkan pekerjaan di depan laptopnya di ruang tamu rumah. Tak lama kemudian ia pingsan.
Keluarga kemudian membawanya ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Dokter menyebut serangan jantung mendadak sebagai penyebab kematiannya, yang diduga kuat dipicu oleh kelelahan ekstrem akibat beban kerja yang berat dan kurangnya waktu pemulihan.
Masih Dikirimi Tugas Saat Kondisi Kritis
Yang menambah tragedi ini adalah fakta bahwa saat Gao sedang berjuang di rumah sakit, ponselnya terus menerima pesan dari rekan kerja di grup WeChat perusahaan.
Pesan-pesan tersebut berisi instruksi dan permintaan untuk menyelesaikan tugas-tugas mendesak yang harus rampung pada hari Senin pagi.
Keluarga sangat terpukul melihat hal ini. Menurut mereka, tekanan tambahan itu menunjukkan bagaimana beban kerja sering kali tidak punya batas, bahkan ketika seseorang sedang dalam kondisi kritis.
Ada komentar dari istri almarhum yang meminta barang-barang pribadi suaminya di kantor untuk dikembalikan, dan mengatakan bahwa sebagian barang tersebut telah dibuang atau tidak ditata dengan baik.
Debat Publik soal Budaya Kerja dan Kesejahteraan Pekerja
Kematian Gao memicu gelombang simpati dan diskusi di dunia maya, khususnya mengenai budaya kerja yang ekstrem di sektor teknologi.
Banyak netizen menyoroti kurangnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan tuntutan pekerjaan, serta perlunya reformasi dalam sistem kerja agar tragedi serupa tidak terjadi lagi.
Di China sendiri, masalah jam kerja panjang dan tuntutan kerja berlebihan sudah lama menjadi isu.
Istilah seperti “996”—bekerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam, enam hari seminggu—sering dikritik sebagai penyebab stres berlebihan, kesehatan menurun, dan rendahnya kualitas hidup bagi pekerja teknologi.
Kasus seperti yang dialami Gao menjadi pengingat tragis akan konsekuensi nyata dari kebiasaan kerja semacam ini.
Dampak pada Keluarga dan Proses Hukum
Saat ini, keluarga Gao dilaporkan tengah mengajukan permohonan kompensasi kecelakaan kerja kepada pemerintah setempat sebagai upaya mencari keadilan atas kematian yang mereka yakini disebabkan oleh kondisi kerja yang tidak manusiawi. Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai proses itu.
Permintaan istri almarhum tentang pengembalian barang-barang pribadi yang tersisa di kantor juga menjadi sorotan, karena beberapa di antaranya dikatakan tidak tertata atau hilang, menambah rasa duka keluarga yang sudah kehilangan suami dan ayah mereka.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Lebih Hemat, Ini Enam Mobil Hybrid Nyaman dengan Harga Variatif
Refleksi Industri Teknologi
Kisah tragis ini pun memicu banyak suara dalam komunitas teknologi dan tenaga kerja di Asia serta dunia.
Banyak yang menyerukan peningkatan kebijakan perlindungan pekerja, keseimbangan kerja–hidup, serta budaya yang lebih menghargai kesehatan fisik dan mental karyawan.
Tekanan kerja ekstrem bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga masalah kemanusiaan.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa batas antara dedikasi dan eksploitasi diri bisa sangat tipis—dan ketika itu tidak diatur dengan baik, konsekuensinya bisa sangat tragis.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah