Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dibanjiri Ancaman Usai Mengungkap Trauma Grooming di Broken Strings, Aurelie Moeremans Tegaskan Siap Lawan dengan Bukti Baru

Muhammad Azlan Syah • Senin, 26 Januari 2026 | 11:06 WIB

Aurelie Moeremans kini sedang menghadapi kritik, intimidasi, dan bahkan ancaman dari pihak-pihak yang merasa tersinggung oleh isi memoir tersebut.
Aurelie Moeremans kini sedang menghadapi kritik, intimidasi, dan bahkan ancaman dari pihak-pihak yang merasa tersinggung oleh isi memoir tersebut.

RADARBONANG.ID - Aktris Aurelie Moeremans kembali menjadi sorotan publik setelah buku memoarnya berjudul Broken Strings yang berisi pengalaman masa lalunya berhasil viral dengan lebih dari 23 juta penayangan.

Di balik respon luar biasa dari masyarakat dan berbagai pihak, Aurelie kini menghadapi kritik, intimidasi, dan bahkan ancaman dari pihak-pihak yang merasa tersinggung oleh isi memoir tersebut.

Memoar Broken Strings yang dirilis oleh Aurelie menceritakan kisah pahitnya sebagai korban child grooming ketika masih remaja, saat usianya baru 15 tahun.

Buku ini memicu diskusi luas di masyarakat tentang bahaya manipulasi dan eksploitasi anak serta pentingnya edukasi dan perlindungan bagi generasi muda.

Baca Juga: Cap Tangan 67.800 Tahun di Sulawesi, Lukisan Gua Tertua yang Pernah Ditemukan

Namun, tidak semua respon yang muncul bersifat positif. Sebagian pihak justru melontarkan komentar intimidatif dan ancaman yang ditujukan kepada Aurelie, bahkan hingga melibatkan upaya penggunaan buzzer untuk merusak reputasinya.

Dikutip dari detik.com, Ia mengaku bahwa sosok yang disebut dalam bukunya seperti masih memantau kehidupannya sampai sekarang.

“Ketakutan aku adalah diancam lagi seperti waktu aku masih SMA. Sampai sekarang tokoh yang ada di buku ini masih memantau setiap langkah aku, gitu rasanya,” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari unggahan video di akun YouTube miliknya.

Ancaman dan Intimidasi yang Mengiringi Viralnya Memoar

Kekhawatiran akan reaksi negatif bukan tanpa alasan. Sejak Broken Strings viral, Aurelie mulai merasakan tekanan digital melalui media sosial berupa komentar yang menyudutkan dan intimidasi terbuka.

Dalam beberapa kasus, ia menyebut ada pihak yang melakukan siaran langsung (“live”) di media sosial untuk menyerangnya secara publik, tanpa memahami akar permasalahan yang diangkat dalam memoarnya.

Lebih jauh lagi, Aurelie mengaku ada upaya untuk menggunakan jasa buzzer atau influencer yang dibujuk untuk menyerang kredibilitasnya.

Beberapa influencer bahkan menghubungi Aurelie dan mengungkapkan bahwa pihak tertentu menawarkan imbalan untuk menyerangnya.

“Itu sudah nggak ngaruh ke aku… aku sampai ngomong ke salah satu kayak ‘ambil aja, lumayan’ gitu,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa fokus utamanya bukan pada konflik atau tekanan tersebut, melainkan pada proses pemulihan dan advokasi mengenai isu child grooming.

Aurelie bertekad tidak tinggal diam jika ancaman terus berlanjut dan menegaskan dirinya siap untuk mengambil langkah hukum demi perlindungan diri dan keadilan.

“Kalau ancaman dan intimidasi tetap berlanjut, aku nggak mungkin diam aja kayak dulu,” tegasnya.

Dukungan Publik dan Bahaya Grooming Terangkat ke Level Nasional

Di luar ancaman yang diterimanya, publik Indonesia memberikan dukungan besar kepada Aurelie. Buku Broken Strings tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga telah menarik perhatian kalangan legislatif.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Rieke Diah Pitaloka, turut membahas kasus tersebut dalam rapat kerja bersama Komnas HAM dan Komnas Perempuan.

Langkah ini dilakukan untuk menyoroti pentingnya perlindungan terhadap korban kekerasan dan eksploitasi, serta mendorong regulasi yang lebih kuat agar kasus serupa tidak dianggap remeh di masa depan.

Aurelie menyatakan bahwa ia ingin pengalaman yang dituangkan dalam Broken Strings dapat menjadi alat edukasi dan kekuatan bagi korban lain untuk berani bersuara.

Ia berharap kisahnya bisa membuka ruang diskusi tentang bagaimana pelaku grooming memanipulasi korban dan bagaimana masyarakat dapat lebih waspada terhadap tanda-tanda manipulasi sejak dini.

Baca Juga: Cuaca Tak Bersahabat, Tren Wisata Tuban Awal 2026 Bergerak Naik-Turun

Transformasi Trauma Jadi Suara Keadilan

Walaupun menghadapi tekanan berat dari berbagai arah, Aurelie Moeremans memilih untuk tetap tegar dan memanfaatkan momentum viralnya buku untuk hal yang lebih besar: meningkatkan kesadaran masyarakat dan menciptakan perubahan.

Ia melihat adanya bukti baru yang kini datang dari orang-orang yang menghubunginya sebagai bagian dari penguat perjuangan hukum dan kebenaran.

Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa pengorbanannya untuk membuka pengalaman traumatis itu bukan sia-sia.

Aurelie berharap memoarnya tidak hanya menjadi cerita pribadi, tetapi juga menjadi pengingat penting bahwa korban kekerasan atau grooming layak mendapatkan keadilan — bukan hanya simpati.

“Dulu aku memang tidak mendapatkan keadilan yang seharusnya jadi hak aku, tetapi kalau buku ini bisa membantu kalian mendapatkannya, aku menang,” katanya.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Broken Strings viral #intimidasi media sosial #Broken Strings #Aurelie Moeremans #memoir child grooming