RADARBONANG.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan 1447 Hijriah meskipun masyarakat menjalankan ibadah puasa.
Kebijakan ini dibuat untuk menjamin keberlanjutan pemenuhan gizi bagi berbagai kelompok penerima manfaat tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah umat Muslim.
Program MBG selama puasa 2026 ini meliputi penyesuaian pada mekanisme distribusi dan pemilihan menu makanan agar cocok dengan waktu makan yang berubah.
Dengan dasar pertimbangan itu, BGN merancang pola supaya makanan tetap aman, bergizi, dan tahan hingga 12 jam sejak disiapkan hingga waktu berbuka.
Baca Juga: Kuasa Hukum Pelapor Ungkap Ancaman Pasal Lebih Berat untuk Suami Boiyen
Penyesuaian Mekanisme Penyaluran MBG saat Ramadan
Selama bulan puasa, pola distribusi MBG untuk wilayah yang mayoritas penduduknya menjalankan ibadah puasa mengalami penyesuaian.
Alih-alih dimakan langsung di sekolah seperti hari biasa, makanan MBG tetap dibagikan pada jam sekolah tetapi diperbolehkan untuk dibawa pulang oleh penerima manfaat. Ransum ini kemudian akan disantap saat waktu berbuka di rumah.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa mekanisme seperti ini sebenarnya sudah pernah diterapkan pada Ramadan tahun sebelumnya.
Ia menekankan bahwa prinsip utama penyesuaian ini adalah mempertahankan program tetap berjalan optimal tanpa mengurangi aspek gizi makanan yang disajikan.
“Menu-menu yang disiapkan itu tahan hingga 12 jam sejak awal disiapkan sampai dikonsumsi ketika berbuka,” ujar Dadan dalam kesempatan penjelasan kepada media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Menu Khusus MBG yang Tahan Lama dan Bergizi
Karena makanan MBG tidak lagi dikonsumsi langsung di sekolah pada hari puasa, BGN melakukan penyesuaian khusus pada jenis menu yang disediakan.
Dalam laporan yang disampaikan, jenis makanan yang dipilih merupakan menu siap santap yang tidak mudah rusak meskipun disimpan beberapa jam sebelum dikonsumsi.
Beberapa contoh menu yang disiapkan antara lain:
-
Kurma — sumber gula alami dan energi cepat.
-
Telur rebus — sumber protein yang mudah diawetkan.
-
Buah-buahan segar — untuk vitamin dan serat.
-
Abon atau lauk kering lokal — untuk cita rasa dan protein tambahan.
-
Aneka penganan lokal lain yang tahan lama.
Dengan komposisi menu ini, BGN berharap kebutuhan gizi peserta program tetap terpenuhi meskipun makanan dikonsumsi beberapa jam setelah diserahkan.
Pola menu juga mempertimbangkan keamanan pangan, sehingga makanan aman dikonsumsi setelah waktu penyimpanan tertentu sebelum berbuka.
Pelaksanaan di Daerah Non-Puasa Tetap Normal
Untuk wilayah yang mayoritas masyarakatnya tidak menjalankan puasa, mekanisme penyaluran MBG tetap berjalan seperti biasa tanpa perubahan skema.
Artinya, makanan dibagikan dan dikonsumsi langsung sesuai jam kegiatan sekolah atau layanan yang berlaku.
BGN menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa seluruh penerima manfaat, termasuk siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetap mendapatkan layanan MBG tanpa gangguan, sekalipun terdapat perbedaan pola konsumsi karena puasa.
Mengatasi Tantangan Distribusi dan Ketahanan Pangan
Salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan MBG selama Ramadan adalah soal distribusi dan menjaga kualitas makanan yang harus tahan lama namun tetap layak dikonsumsi.
Penyesuaian menu menjadi kunci agar program tetap berjalan efektif sekaligus aman.
Baca Juga: Kuasa Hukum Pelapor Ungkap Ancaman Pasal Lebih Berat untuk Suami Boiyen
Selain itu, BGN juga bekerja sama dengan penyedia katering lokal, pemerintah daerah, dan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di berbagai daerah untuk mendukung pengolahan, pengemasan, serta distribusi.
Pengawasan ketat dilakukan agar makanan tetap higienis hingga sampai ke tangan penerima manfaat.
Program MBG: Pemerataan Gizi Sepanjang Tahun
Walaupun bulan puasa membawa tantangan tersendiri, BGN memastikan MBG tidak terganggu dan tetap menjadi bagian penting dari strategi nasional dalam meningkatkan gizi masyarakat.
Program ini menjadi upaya dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkualitas, terutama bagi anak-anak di usia sekolah.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah