Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Prabowo Sentil Jantung Pertamina: Pesan Keras Antikorupsi, Dirut Simon Aloysius Diminta Berani Bersih-Bersih

Tulus Widodo • Selasa, 13 Januari 2026 | 11:05 WIB
Pesan tanpa basa-basi dari Presiden Prabowo di Balikpapan. Pertamina diminta bersih dari rente dan korupsi. Dirut Simon Aloysius ditantang berani tegas: bersih atau tersingkir.
Pesan tanpa basa-basi dari Presiden Prabowo di Balikpapan. Pertamina diminta bersih dari rente dan korupsi. Dirut Simon Aloysius ditantang berani tegas: bersih atau tersingkir.

RADARBONANG.ID — Peresmian proyek energi raksasa di Balikpapan berubah menjadi panggung peringatan keras. Di hadapan jajaran elite sektor energi, Presiden RI Prabowo Subianto tak bertele-tele.

Orang nomor satu di Indonesia itu menekan tombol paling sensitif dalam tubuh Pertamina: soal integritas dan keberanian memutus mata rantai rente.

Pesan itu diarahkan langsung kepada Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, yang baru dipercaya memegang kendali perusahaan energi terbesar di Tanah Air.

Bagi Prabowo, jabatan strategis tak boleh menjadi tempat berlindung bagi praktik lama yang membebani rakyat.

Rente Impor dan Kemarahan Presiden

Nada suara Prabowo meninggi ketika menyinggung permainan kotor yang selama ini, menurut pengamatannya, menggerogoti Pertamina.

Prabowo menyebut praktik kolusi dan perburuan rente melalui skema impor minyak sebagai sumber kebocoran yang tak bisa lagi ditoleransi.

Bagi kepala negara, masalah ini bukan sekadar urusan korporasi, melainkan soal keadilan ekonomi. Setiap rupiah yang bocor, kata Prabowo, berarti menambah penderitaan rakyat yang seharusnya dilayani oleh BUMN strategis.

Dua Perintah, Tanpa Tawar

Prabowo mengaku sudah menyampaikan dua perintah utama saat menunjuk Simon sebagai nakhoda baru Pertamina.

Perintah itu sederhana, tapi keras: jangan korupsi dan jangan ragu memecat siapa pun yang tidak bekerja dengan baik.

“Waktu saya menjadi presiden, saya bertekad untuk membersihkan Pertamina. Saya angkat saudara Simon Aloysius dengan beberapa anak muda. Saya beri tugas jangan korupsi, jangan kau cari kaya di atas kepercayaan ini,’’ tandas Prabowo.

‘’Dirut Pertamina sangat strategis, bertanggung jawab atas kekayaan USD 100 miliar. Godaan akan banyak, tapi harus teguh. Siapa yang anda nilai tidak bagus, pecat, jangan ragu-ragu. Demi bangsa dan negara harus tega,” tambahnya.

Kalimat “harus tega” menjadi penanda: tidak ada ruang kompromi bagi pejabat yang mengkhianati amanah.

National Champion yang Tak Boleh Tercemar

Prabowo menempatkan Pertamina sebagai simbol kebanggaan nasional. Statusnya sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang konsisten menembus Fortune Global 500 dianggap sebagai bukti kapasitas global.

Namun reputasi itu, menurutnya, harus sejalan dengan manfaat nyata bagi negara.

“Pertamina yang national champion kita, satu-satunya yang masuk Fortune 500. Satu-satunya perusahaan Indonesia yang nilainya USD 100 miliar, harusnya menghasilkan yang lebih baik bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi tekanan moral: semakin besar aset, semakin besar tanggung jawab publik.

Teladan atau Kutukan Seumur Hidup

Prabowo juga menyoroti dimensi kepemimpinan. Mantan Danjen Kopassus itu mengingatkan bahwa perilaku pemimpin akan melekat lama di ingatan bawahan, entah sebagai teladan atau sebagai aib.

"Kalau di TNI, pemimpin yang maling dikasih julukan 'kapal keruk'. Seumur hidup dia bawa itu julukan. Pemimpin harus memberi contoh," kata Prabowo.

Analogi militer itu bukan sekadar cerita, melainkan peringatan bahwa reputasi buruk tak pernah benar-benar bisa dihapus.

Sinyal Tegas ke Seluruh BUMN

Di ujung pidatonya, Prabowo memperluas pesan itu ke seluruh BUMN. Prabowo menegaskan, era toleransi terhadap markup dan praktik lama telah berakhir. Penegakan hukum, katanya, tidak akan melihat jabatan atau posisi.

"Praktik-praktik markup adalah penipuan dan pencurian. Kalau ada pejabat yang ingin melaksanakan praktik-praktik lama, saya kira sangat keliru. Kita prihatin. Saya tidak tahu berapa direksi Pertamina yang masuk penjara. Negara dan bangsa menuntut manajemen yang terbaik," tutup Menteri Pertahanan di era pemerintahan Presiden ke-7, Jokowi itu.

Di Balikpapan, pesan itu menggema jelas: bagi Pertamina dan BUMN lain, masa depan ditentukan oleh satu hal—berani bersih, atau siap tersingkir. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#pesan antikorupsi Prabowo #Prabowo Pertamina #korupsi Pertamina #bersih bersih BUMN #Simon Aloysius #rente impor minyak #dirut Pertamina