RADARBONANG.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dijalankan meskipun siswa sekolah tengah memasuki masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa pelayanan MBG tidak terhenti selama periode libur sekolah, demi menjaga pemenuhan kebutuhan gizi anak dan kelompok rentan di seluruh Indonesia.
MBG merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk memastikan anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita mendapatkan asupan gizi yang cukup setiap hari.
Selama tahun 2025, program ini telah menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat sejak dini, terutama di kalangan anak usia sekolah dan kelompok rentan lainnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pamer Outfit, OOTD Cermin Jadi Bahasa Baru Gen Z Ungkap Jati Diri
Komitmen Pemerintah Memastikan Gizi Anak Tetap Terpenuhi
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan bahwa meskipun kegiatan belajar mengajar berhenti sementara karena libur Natal dan Tahun Baru, penyaluran MBG tetap berjalan dengan sejumlah skema yang telah disiapkan.
Dia menegaskan bahwa program untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita akan tetap berjalan seperti biasa selama masa libur sekolah, tanpa ada perubahan dalam mekanisme distribusinya.
Tentu hal ini dimaksudkan untuk memastikan kelompok yang sangat membutuhkan asupan bergizi tetap mendapatkan pelayanan tanpa gangguan.
Untuk peserta didik, penanganan MBG selama libur sekolah sedikit berbeda. BGN menyerahkan pengaturan penyaluran kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di masing-masing sekolah.
SPPG bertugas melakukan pendataan mengenai jumlah siswa dan seberapa sering mereka bersedia datang ke sekolah untuk mengambil paket MBG. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan kondisi libur dan kemampuan keluarga siswa.
Skema Penyaluran Saat Libur Sekolah
Pada awal masa libur sekolah, BGN menyiapkan menu makanan siap santap yang praktis dan tetap bergizi.
Menu ini disiapkan untuk diberikan dalam jumlah maksimal empat hari pertama libur. Pilihan makanan yang tersedia mencakup sumber protein seperti telur, buah segar, susu, abon, hingga dendeng yang relatif tahan lama dan tetap memenuhi standar gizi.
Setelah periode empat hari pertama, terdapat beberapa opsi penyaluran. Bagi siswa yang bisa datang ke sekolah atau lokasi SPPG, paket MBG dapat langsung diambil di sana.
BGN juga membuka opsi agar paket makanan dapat diantarkan langsung ke rumah siswa atau orang tua yang terdata jika anak tidak dapat hadir ke sekolah.
Mekanisme ini dirancang agar semua siswa tetap mendapatkan asupan sesuai kebutuhan, tanpa harus berdesakan atau menimbulkan tekanan tambahan bagi keluarga selama liburan.
Dikutip dari kompas.com, Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menekankan bahwa penyaluran MBG bersifat fleksibel dan berdasarkan kesepakatan antara pihak sekolah dan siswa atau orang tua.
“Tidak ada paksaan untuk datang ke sekolah,” ujarnya. “Kalau siswa atau orang tua ingin mengambil di sekolah, kami siap menyediakan. Jika tidak, kami juga menyiapkan mekanisme lain agar makanan tetap sampat ke rumah mereka.”
Variasi dan Kualitas Menu MBG
Selain makanan siap santap, menu MBG selama masa libur sekolah dapat diubah menjadi bahan yang tahan lama agar lebih praktis dan tepat sasaran.
Contoh bahan makanan yang diberikan berupa buah, susu, roti produksi UMKM, serta telur asin sebagai sumber protein yang lebih awet.
Penyediaan bahan bergizi ini juga melibatkan kolaborasi dengan para pelaku usaha kecil menengah untuk menyokong ketersediaan makanan lokal berkualitas.
Orang tua siswa juga diberikan keleluasaan untuk mengambil paket MBG atas nama anak mereka pada waktu yang telah ditentukan oleh sekolah.
Seluruh makanan telah dikemas rapi dan siap dibawa pulang, demi memudahkan distribusi dan menghindari pemborosan.
Tujuan Utama Program MBG Selama Libur
Komitmen pemerintah untuk menjalankan MBG saat libur sekolah menunjukkan fokus pada pemenuhan hak dasar anak, yakni akses terhadap gizi yang baik, tidak terputus oleh jadwal libur.
Hal ini sangat penting terutama di masa libur panjang ketika rutinitas harian anak berubah, dan risiko konsumsi makanan bergizi sering menurun.
Program MBG diharapkan tidak hanya menjamin asupan nutrisi yang cukup, tapi juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Menyediakan makanan bergizi selama libur panjang juga menjadi cara pemerintah menjaga konsistensi pola makan sehat bagi pelajar di seluruh negeri.
Baca Juga: Swasembada Energi Nasional, Prabowo Minta Papua Kembangkan Sawit
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski skema penyaluran MBG telah dirancang sedemikian rupa, tantangan pelaksanaannya tetap ada.
Salah satunya adalah memastikan semua keluarga yang membutuhkan paket MBG tercakup dalam pendataan dan distribusi.
Komunikasi antara sekolah, orang tua, dan SPPG menjadi kunci sukses pelaksanaan program ini selama libur panjang.
Di masa mendatang, pemerintah berharap skema MBG dapat terus diperbaiki berdasarkan pengalaman pelaksanaan selama libur sekolah ini.
Penyusunan metode distribusi yang lebih efisien dan adaptif terhadap kondisi geografis serta mobilitas masyarakat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperluas jangkauan program ini.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah