Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

BNPB Perbarui Data Korban Bencana di Sumatera: 744 Meninggal, 551 Hilang

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 3 Desember 2025 | 17:15 WIB

Kerusakan bangunan dan jalan utama akibat longsor di wilayah Sumatera Barat.
Kerusakan bangunan dan jalan utama akibat longsor di wilayah Sumatera Barat.

RADARBONANG.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis laporan terbaru terkait dampak banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi sekaligus, yaitu Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Update per Selasa malam, 2 Desember 2025 pukul 23.28 WIB, menunjukkan skala bencana yang sangat besar, baik dari jumlah korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur.

Korban Jiwa dan Warga Hilang

BNPB mencatat 744 orang meninggal dunia akibat bencana yang terjadi dalam sepekan terakhir tersebut.

Baca Juga: Gajah di Taman Nasional Tesso Nilo Riau Kini Hanya Tersisa 150 Ekor, Hutannya Terus Menyusut

Dari jumlah itu, Aceh menyumbang 218 korban jiwa, Sumatera Barat sebanyak 225 orang, dan Sumatera Utara mencatat angka tertinggi, yaitu 301 korban.

Selain korban meninggal, terdapat 551 orang yang masih dinyatakan hilang. Angka ini diperkirakan dapat berubah karena pencarian masih berlangsung dan kondisi di sejumlah area terdampak masih sulit dijangkau.

Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran, baik melalui jalur darat maupun udara, untuk menemukan para korban yang belum teridentifikasi.

Sementara itu, sekitar 2.600 warga mengalami luka-luka. Cedera yang dialami bervariasi, dari luka ringan akibat material longsor hingga luka serius yang membutuhkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan terdekat.

Jutaan Warga Terdampak

Data BNPB juga menyebutkan bahwa total 3,3 juta warga terdampak secara langsung maupun tidak langsung.

Dampak tersebut meliputi kerusakan rumah, kehilangan mata pencaharian, hingga hilangnya akses terhadap layanan dasar.

Dari jumlah itu, lebih dari 1,1 juta orang terpaksa mengungsi karena rumah mereka hancur, terendam, atau berada di wilayah yang berpotensi mengalami bencana susulan.

Sebagian pengungsi tinggal di tenda-tenda darurat, sebagian lainnya ditampung di posko sementara seperti balai desa, sekolah, hingga rumah ibadah.

Namun tidak sedikit pula yang mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat karena fasilitas umum banyak yang rusak dan tidak lagi memadai.

Kerusakan Rumah dan Fasilitas Publik

Dampak fisik dari bencana ini juga sangat besar. BNPB mencatat 3.600 rumah rusak berat, membuat penghuni kehilangan tempat tinggal sepenuhnya.

Selain itu, terdapat 2.100 rumah rusak sedang dan 3.700 rumah rusak ringan di tiga provinsi tersebut.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada permukiman. Fasilitas publik terdampak sangat masif, termasuk fasilitas pendidikan yang disebut mencapai 42,5 persen mengalami kerusakan.

Banyak sekolah yang tidak bisa digunakan lagi, sehingga proses belajar mengajar dihentikan sementara.

Fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan klinik juga banyak yang rusak atau lumpuh akibat keterbatasan listrik dan alat medis.

Selain itu, kerusakan pada jembatan dan jalan penghubung menyebabkan sejumlah wilayah terisolasi.

Material longsor menutup akses utama, sementara banjir menggerus jalan dan memutus jalur transportasi. Kondisi ini memperlambat distribusi logistik dan penyelamatan korban.

Tantangan Evakuasi dan Distribusi Bantuan

Evakuasi dan penyaluran bantuan menjadi tantangan berat bagi petugas di lapangan. Di beberapa area pedalaman, tim harus menembus lumpur tebal, jalan terputus, hingga arus sungai yang deras.

Cuaca yang masih tidak menentu juga menghambat pergerakan helikopter yang dikerahkan untuk mengirim bantuan ke daerah yang tidak bisa ditembus lewat darat.

Pengungsi sangat membutuhkan bantuan dasar seperti makanan, air bersih, selimut, obat-obatan, dan perlengkapan bayi.

BNPB menyebut bahwa kebutuhan ini terus meningkat seiring bertambahnya jumlah warga yang dievakuasi dari rumah mereka.

Upaya Pemerintah dan Harapan Pemulihan

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan berbagai lembaga kemanusiaan kini berfokus pada respons cepat.

Pendataan korban terus diperbarui, sementara pencarian korban hilang dilakukan siang malam. Bantuan logistik dikirim melalui jalur darat, udara, dan laut untuk memastikan semua wilayah mendapatkan pasokan.

Dalam beberapa wilayah, akses jalan sudah mulai dibuka kembali setelah alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor.

Baca Juga: 5 Barang Esensial ‘Old Money’ yang Ternyata Budget Friendly, Nomor 4 Bikin Tampilan Auto Mewah!

Perbaikan darurat pada jembatan dan infrastruktur vital terus dilakukan untuk memastikan mobilitas masyarakat dan bantuan dapat berjalan lancar.

Gelombang bencana yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara ini menunjukkan betapa rentannya wilayah tersebut terhadap cuaca ekstrem dan kondisi geografis yang rawan longsor.

Di balik angka-angka korban, terdapat ribuan keluarga yang kini berjuang memulai kembali kehidupan mereka.

Meski duka masih terasa, upaya bersama dari berbagai pihak menjadi harapan bahwa pemulihan dapat berjalan cepat dan kehidupan masyarakat dapat kembali pulih.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#korban bencana Sumatera #berita longsor dan banjir 2025 #pencarian korban hilang BNPB #banjir bandang Aceh Sumbar Sumut #data pengungsi bencana Sumatera