RADARBONANG.ID — Upaya memastikan listrik tetap mengalir ke seluruh pelosok negeri kembali menghadirkan cerita unik dari Papua Selatan.
Di Merauke, petugas PLN terpaksa menggunakan kuda untuk menjangkau rumah-rumah warga di Kampung Nggolar, salah satu wilayah paling terisolir di Kabupaten Merauke.
Keputusan ini diambil setelah akses jalan menuju kampung tersebut tak bisa dilalui kendaraan apa pun, termasuk sepeda motor dan mobil 4x4 yang biasanya diandalkan di medan berat.
Peristiwa ini terjadi saat tim PLN melakukan pengecekan gangguan listrik yang dilaporkan warga. Ketika memasuki kawasan Nggolar, kondisi jalan berubah drastis dari tanah keras menjadi kombinasi rawa, lumpur tebal, serta jalur hutan yang dipenuhi pohon tumbang.
Beberapa titik bahkan membentuk kubangan besar yang bisa menenggelamkan roda kendaraan. Situasi tersebut membuat tim harus menurunkan kuda sebagai satu-satunya solusi mobilitas agar tetap bisa melanjutkan penelusuran gangguan.
Menurut petugas lapangan, penggunaan kuda bukan sekadar improvisasi, tetapi langkah yang dipertimbangkan secara matang setelah melihat kondisi medan.
Kuda dinilai mampu berjalan lebih stabil di lintasan berlumpur dan area rawa, sekaligus bisa melewati jalur sempit di antara pepohonan.
Dengan membawa peralatan teknis yang diikat aman pada pelana, petugas bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya untuk memastikan kabel, tiang, dan sambungan listrik tetap aman.
Kampung Nggolar memang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan akses paling ekstrem di Merauke.
Letaknya jauh dari pusat kecamatan, dan jalan yang menghubungkan kampung dengan wilayah sekitar belum tertata dengan baik.
Sebagian besar jalur berupa tanah basah yang sewaktu-waktu berubah menjadi lumpur dalam ketika hujan turun.
Warga setempat terbiasa menempuh perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan perahu kecil melalui jalur air yang kerap tidak stabil. Kondisi ini membuat penyediaan layanan publik seperti listrik, kesehatan, pendidikan, hingga transportasi sering menghadapi tantangan besar.
Bagi PLN, memastikan layanan di Nggolar bukan sekadar tugas, tetapi bentuk komitmen menghadirkan listrik hingga daerah terujung Indonesia.
Namun medan seperti Nggolar memaksa petugas untuk berpikir kreatif, cepat, dan adaptif. Penggunaan kuda akhirnya menjadi pilihan logis dan aman agar pekerjaan tetap dapat dilakukan.
Dalam dokumentasi yang dibagikan, petugas terlihat menunggang kuda sambil membawa peralatan perbaikan lengkap, menyeberangi jalur-jalur terjal dengan hati-hati.
Aksi petugas PLN ini mendapat apresiasi dari warga Nggolar yang mengaku sering merasa terisolasi karena sulitnya akses.
Warga mengungkapkan bahwa kehadiran PLN ke kampung mereka, meski dengan perjuangan berat, menjadi bukti bahwa pelayanan publik tetap memperhatikan masyarakat pedalaman.
Kehadiran listrik yang stabil sangat berpengaruh terhadap aktivitas malam hari, penerangan fasilitas umum, serta operasional sekolah dan pelayanan kesehatan.
Fenomena petugas PLN menunggang kuda ini sekaligus menjadi gambaran nyata tantangan infrastruktur di beberapa wilayah Indonesia Timur.
Baca Juga: Rusia Berencana Gelar Turnamen “Piala Dunia Tandingan” bagi Tim yang Gagal Lolos Piala Dunia 2026
Ketika sebagian masyarakat di kota besar hanya memerlukan hitungan menit untuk memanggil teknisi, di daerah seperti Nggolar perbaikan layanan bisa membutuhkan perjalanan panjang melalui jalur ekstrem.
Namun semangat para petugas lapangan yang rela menempuh medan berbahaya terus menjadi kunci keberlangsungan layanan bagi warga.
Cerita ini bukan hanya soal kuda dan medan berat, tetapi tentang dedikasi. Dedikasi untuk memastikan setiap rumah, tanpa memandang jarak dan tantangan, tetap menerima hak dasar berupa listrik.
Bagi warga Nggolar, cahaya yang menyala di malam hari kini terasa lebih bermakna—karena mereka tahu ada perjuangan panjang yang mengantar energi itu sampai ke pintu rumah mereka.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah