RADARBONANG.ID – Polemik terkait penemuan kembali Rafflesia hasseltii kembali mencuat setelah sejumlah media internasional menyoroti ekspedisi ilmiah tersebut dengan sudut pandang yang dianggap bias kolonial.
Kritik terutama diarahkan kepada pemberitaan yang menonjolkan figur Chris Thorogood, botanis asal Universitas Oxford, sebagai tokoh sentral penemuan.
Narasi yang dibangun seolah menempatkan hutan tropis Indonesia sebagai ruang kosong tanpa penjaga, padahal keberhasilan eksplorasi itu justru bergantung pada kontribusi ilmuwan lokal.
Baca Juga: Dari Singapura ke Timor-Leste, Tanoto Scholar Belajar Riset Laut Bersama OceanX Young Explorers 2025
Dalam unggahan komunitas neohistoria.id, dikatakan bahwa narasi penemuan itu “terjebak dalam bias kolonial yang meresahkan”.
Mereka menyoroti bagaimana pemberitaan global kerap luput menyebutkan nama dan peran tiga peneliti lokal yang punya kontribusi krusial, yaitu Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi.
Ketiganya bukan hanya pemandu lapangan, melainkan peneliti yang memahami detail habitat, persebaran, dan kondisi ekologis Rafflesia hasseltii yang selama puluhan tahun dianggap punah di luar Sumatra.
Menurut komunitas tersebut, pengabaian nama mereka bukan sekadar kelalaian editorial.
Lebih dari itu, praktik tersebut merupakan bentuk ketidakadilan epistemik—sebuah istilah yang merujuk pada bias yang menempatkan pengetahuan dari kelompok tertentu (biasanya Barat) sebagai lebih sah dan lebih layak diberitakan.
Ketika media menekankan keberadaan peneliti asing sebagai “penemu” dan ilmuwan lokal sebagai “pemandu”, hierarki kolonial lama pun terpelihara.
Fenomena ini disebut mirip dengan praktik “parachute science” atau sains parasut—yakni ketika ilmuwan dari negara maju datang ke wilayah biodiversitas tinggi di negara berkembang, mengumpulkan data atau melakukan penelitian singkat, namun secara ilmiah dan publikasi hanya mencantumkan nama mereka, sementara peneliti lokal tidak mendapatkan pengakuan setara.
Praktik seperti ini telah lama dikritik karena mengabaikan etik kolaborasi dan memperkuat ketimpangan dalam dunia sains.
Dalam konteks penemuan ulang Rafflesia hasseltii, BRIN sebenarnya telah merilis laporan resmi pada 2022 yang menegaskan bahwa penemuan tersebut merupakan hasil kolaborasi riset.
Laporan berjudul "Kolaborasi Riset Peneliti BRIN Temukan Kembali Rafflesia hasseltii Suringar yang Sempat Dianggap Punah di Luar Sumatera" secara jelas mencantumkan nama para peneliti Indonesia yang berperan langsung dalam eksplorasi dan pemetaan habitat.
Namun narasi berbeda muncul dalam publikasi Universitas Oxford yang juga terbit pada 2022.
Dalam unggahan berjudul "Oxford botanists rediscovery of 'lost' Rafflesia flower", fokus utama pemberitaan diarahkan pada dua peneliti Inggris, sementara kontribusi ilmuwan Indonesia hanya muncul sebagai penyerta.
Publik Indonesia kemudian mempertanyakan ketimpangan tersebut, terutama ketika media global menggunakan siaran pers Oxford sebagai rujukan utama.
Para pemerhati ilmu pengetahuan dan sejarah kolonialisme menilai bahwa penciptaan “pahlawan ilmiah tunggal” dari kalangan Barat adalah pola lama yang terus berulang.
Narasi seperti ini, menurut mereka, menghapus konteks lokal dan mengabaikan fakta bahwa biodiversitas Indonesia justru dipahami paling baik oleh penduduk dan ilmuwannya sendiri.
“Konservasi Rafflesia adalah upaya kolektif, dan para peneliti lokal bukan hanya ‘pemandu lapangan’.
Mereka adalah pemilik pengetahuan,” tulis komunitas neohistoria.id.
Mereka juga menyayangkan institusi besar seperti Oxford yang dinilai kurang peka terhadap isu representasi dalam sains global.
Kritik ini mendapat respons luas di media sosial. Banyak akademisi Indonesia menilai bahwa peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk memperbaiki etika publikasi internasional serta meningkatkan posisi tawar peneliti lokal dalam setiap kolaborasi riset.
Pengamat epistemologi sains menekankan perlunya standar yang mengharuskan peneliti asing mencantumkan kontribusi ilmuwan lokal secara setara, baik dalam publikasi ilmiah maupun pemberitaan publik.
Baca Juga: Era Hybrid Bread: Tren Roti Silang yang Menguasai Dunia Kuliner 2025
Rafflesia hasseltii sendiri merupakan satu dari sekitar 30 spesies Rafflesia di dunia, sebagian besar berasal dari Indonesia.
Statusnya yang sempat dianggap punah di luar Sumatra menambah nilai penting penemuan ini.
Namun bagi kalangan peneliti Indonesia, pengakuan ilmiah yang setara tidak kalah pentingnya dari penemuan itu sendiri.