RADARBONANG.ID — Di tengah hamparan sawah yang tenang saat malam, suara “krek-krek” dari burung hantu kini menjadi tanda baik bagi para petani.
Bukan karena mistis atau cerita kampung, tetapi karena burung hantu telah menjadi mitra kerja penting dalam membasmi hama tikus.
Fenomena pemanfaatan burung hantu sebagai “pasukan penjaga malam” ini semakin populer di berbagai wilayah Indonesia karena terbukti efektif, ramah lingkungan, dan menjadi alternatif terbaik dari penggunaan racun kimia.
Baca Juga: Patung Soekarno di Alun-Alun Indramayu Rusak, Pemkab Jelaskan Penyebabnya
Mengapa Burung Hantu? Karena Efeknya Nyata
Di banyak daerah agraris seperti Indramayu, Banyuwangi, Garut, dan Majalengka, burung hantu jenis Tyto alba dipilih sebagai predator alami tikus.
Pemerintah daerah dan komunitas tani bahkan membangun rumah burung hantu atau Rubuha agar hewan malam itu mau tinggal dan berkembang biak di sekitar lahan.
Alasannya kuat: satu ekor burung hantu bisa memangsa 2–4 tikus per hari. Bahkan di Banyuwangi, petugas dinas pertanian menyebut seekor hantu bisa memburu lebih dari 10 tikus dalam kondisi tertentu. Selain itu, burung hantu memiliki jangkauan jelajah yang luas.
Di Banyumas, petani menyebut bahwa sepasang burung hantu bisa “mengawasi” area hingga 5–10 hektare berkat kemampuan mendengar gerakan tikus dari jauh.
Kisah Nyata: Dari Gagal Panen Jadi Tenang Tidur
Di Ujungjaya, Sumedang, petani sempat mengalami frustasi berat akibat gagal panen berulang. Tikus menyerang secara masif hingga membuat puluhan hektare sawah rusak.
Namun sejak tahun 2014, setelah mereka mulai memasang rubuha dan mendatangkan burung hantu, situasinya berubah drastis.
Ketua kelompok tani setempat, Dodo Warda, mengatakan bahwa hanya dengan suara burung hantu di malam hari, tikus-tikus berani mendekat pun menjadi jauh lebih sedikit.
Hasilnya, panen kembali stabil dan kerugian menurun signifikan.
Di Indramayu, pemerintah daerah turut turun tangan. Bupati Lucky Hakim mendorong pembangunan rubuha di desa-desa rawan tikus.
Petani juga mendapat edukasi agar tidak mengganggu burung hantu, bahkan membantu proses perkembangbiakan mereka.
Dukungan Nasional: Dari Menteri Hingga Presiden
Inovasi ini telah mendapat dukungan besar dari pemerintah pusat. Menteri PU, Dody Hanggodo, pernah menyerahkan 12 ekor burung hantu beserta rubuha kepada kelompok tani di Indramayu.
Tujuannya adalah mendorong metode pengendalian hama yang lebih alami dan mengurangi ketergantungan pada racun kimia.
Tak hanya itu, Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2025 mengirimkan 1.000 ekor burung hantu untuk diperbantukan ke petani di Majalengka.
Langkah besar ini menegaskan bahwa solusi berbasis ekosistem mulai diakui sebagai strategi pertanian nasional.
Mengapa Solusi Ini Cocok untuk Petani Muda?
Tren penggunaan burung hantu bukan sekadar strategi lama yang dihidupkan kembali, tetapi juga sesuai dengan gaya hidup dan mindset pertanian generasi muda:
• Ramah lingkungan: tanpa racun, tanpa pestisida, dan tidak mencemari air.
• Menjaga keseimbangan alam: burung hantu adalah bagian rantai makanan alami.
• Aesthetic & edukatif: foto rubuha di tengah sawah di bawah cahaya bulan? Bisa jadi konten viral.
• Menguatkan solidaritas: pembangunan rubuha biasanya dilakukan bersama-sama, memperkuat gotong-royong.
Tantangan dan Hal yang Perlu Diatasi
Meski efektif, pendekatan ini tidak selalu mulus. Beberapa masyarakat masih menganggap burung hantu sebagai hewan yang “membawa sial”.
Di beberapa tempat, populasinya sulit berkembang jika lingkungan tidak mendukung. Selain itu, keberhasilan pengendalian hama tetap membutuhkan strategi terpadu seperti pemasangan perangkap dan pengawasan rutin.
Baca Juga: Tenxi, Naykilla, dan Jemsii menorehkan sejarah baru di panggung AMI Awards 2025 setelah lagu mereka,
Para ahli menegaskan bahwa burung hantu bukan satu-satunya solusi, namun merupakan elemen penting dalam sistem pengendalian hama terpadu yang lebih besar.
Penggunaan burung hantu sebagai “penjaga sawah” adalah bukti bahwa teknologi canggih bukan satu-satunya jalan menuju pertanian modern.
Justru dengan menghidupkan kembali peran alam, petani mendapatkan solusi yang efektif, murah, dan berkelanjutan.
Untuk petani muda, konsep ini bukan hanya cerdas, tetapi juga keren dan futuristik. Dengan burung hantu sebagai sahabat, pertanian masa depan bisa tetap produktif, hijau, dan berdaya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah