Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Siswa SMPN 57 Surabaya Ciptakan Tinta Spidol dari Kulit Bawang Putih, Inovasi Ramah Lingkungan yang Mulai Dilirik

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 19 November 2025 | 21:10 WIB

Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMPN 57 Surabaya, bersama guru pembimbing mengolah limbah kulit bawang putih menjadi bahan dasar tinta spidol ramah lingkungan yang kini menarik perhatian banyak sekolah.
Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMPN 57 Surabaya, bersama guru pembimbing mengolah limbah kulit bawang putih menjadi bahan dasar tinta spidol ramah lingkungan yang kini menarik perhatian banyak sekolah.

RADARBONANG.ID - Inovasi unik datang dari seorang siswa SMPN 57 Surabaya, Raihan Jouzu Syamsudin.

Remaja ini berhasil mengubah limbah kulit bawang putih menjadi tinta spidol ramah lingkungan.

Ide antimainstream tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap masalah sampah organik yang terus meningkat, terutama dari pasar-pasar tradisional di Kota Surabaya.

Dengan pendekatan ilmiah, Raihan mengolah limbah yang selama ini dianggap tidak berguna menjadi produk bermanfaat dan bernilai tambah tinggi.

Baca Juga: 7 Langkah Cerdas dari Biofarma agar Mata Tetap Tajam & Bebas Penyakit – Wajib Dibaca Sebelum Layar Membuatmu Lemas!

Raihan memulai eksperimennya dengan mendatangi 25 pedagang bawang di pasar untuk mengumpulkan kulit bawang putih.

Tidak tanggung-tanggung, ia berhasil menghimpun 3,12 ton limbah kulit bawang untuk dijadikan bahan utama penelitiannya.

Baginya, jumlah besar ini penting untuk menguji konsistensi kualitas tinta serta memastikan proses ekstraksi berjalan optimal.

Dari limbah tersebut, ia melakukan serangkaian uji coba untuk menemukan formula yang tepat.

Dalam prosesnya, Raihan melalui berbagai tahap eksperimen mulai dari pencucian, pengeringan, pemanasan, hingga ekstraksi pigmen.

Ia mencari cara agar warna tinta yang dihasilkan dapat pekat dan stabil saat diaplikasikan pada permukaan kertas whiteboard.

Hasilnya, ia berhasil memproduksi tinta yang memiliki karakter unik—pekat, aman digunakan, dan mengeluarkan aroma bawang putih yang menjadi ciri khas produknya.

Meski aroma bawang cukup kuat, Raihan menilai hal itu justru menjadi keunikan tersendiri serta bukti bahwa tintanya benar-benar berbahan alami.

Keberhasilan Raihan tidak diperoleh dalam waktu singkat. Beberapa percobaan awal sempat gagal karena warna tinta terlalu pucat atau terlalu cair.

Namun keuletannya dalam menyesuaikan suhu ekstraksi dan komposisi bahan akhirnya membuahkan hasil.

Guru pembimbingnya, yang mengikuti proses penelitian ini, mengaku kagum pada ketekunan serta kreativitas yang ditunjukkan Raihan.

Menurut pihak sekolah, inovasi ini membuktikan bahwa siswa SMP pun mampu menghasilkan penelitian aplikatif dengan dampak nyata bagi lingkungan.

Inovasi tinta ramah lingkungan tersebut kini mulai mendapat perhatian dari sekolah-sekolah lain dan beberapa instansi.

Mereka menilai tinta berbahan organik ini dapat menjadi alternatif spidol eco-friendly yang lebih aman dan berkelanjutan.

Selain mengurangi ketergantungan pada tinta sintetis berbahan kimia, penggunaan tinta dari kulit bawang putih juga dinilai dapat membantu mengurangi volume sampah organik di perkotaan.

Beberapa sekolah bahkan dikabarkan siap melakukan uji coba penggunaan tinta hasil karya Raihan.

Hasil produk tinta spidol kreasi Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMPN 57 Surabaya dari limbah kulit bawang putih
Hasil produk tinta spidol kreasi Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMPN 57 Surabaya dari limbah kulit bawang putih

Jika hasilnya memenuhi standar kenyamanan dan keamanan, tidak menutup kemungkinan produk ini dikembangkan secara lebih serius dan diproduksi dalam skala terbatas.

Raihan sendiri berharap karyanya dapat terus dikembangkan, baik melalui dukungan pihak sekolah maupun kolaborasi dengan lembaga pendidikan lainnya.

Selain manfaat lingkungan, inovasi ini juga membuka peluang edukasi bagi para pelajar. Tinta dari kulit bawang putih bisa menjadi contoh nyata penerapan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang dapat digunakan kembali.

Dengan pendekatan tersebut, peserta didik dapat belajar bahwa sains dan kreativitas dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan solusi inovatif terhadap permasalahan sehari-hari.

Raihan menegaskan bahwa ia tidak hanya ingin membuat produk yang unik, tetapi juga mendorong anak muda untuk lebih berani bereksperimen.

Baca Juga: 7 Langkah Cerdas dari Biofarma agar Mata Tetap Tajam & Bebas Penyakit – Wajib Dibaca Sebelum Layar Membuatmu Lemas!

Menurutnya, inovasi tidak harus selalu berasal dari teknologi canggih; hal sederhana dari sekitar pun bisa menjadi inspirasi jika diamati dengan jeli.

Ia berharap semakin banyak pelajar yang tertarik meneliti, mencipta, dan peduli terhadap isu lingkungan.

Bagi Raihan, perjalanan membuat tinta dari kulit bawang putih ini masih panjang.

Ia berencana memperbaiki stabilitas warna, mengurangi aroma bawang, serta menambah variasi warna dari bahan organik lain.

Upaya ini diharapkan mampu mendorong penggunaan tinta eco-friendly secara lebih luas. M

elalui proyek yang ia mulai dari skala kecil, Raihan menunjukkan bahwa masa depan inovasi berkelanjutan bisa lahir dari ruang kelas dan ide kreatif seorang siswa SMP.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Inovasi siswa Surabaya #spidol ramah lingkungan #limbah bawang #SMPN 57 Surabaya #tinta kulit bawang putih