Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Polda Babel Tenggelamkan 2.100 Knalpot Brong Jadi Rumpon, Manfaat dan Risikonya Jadi Sorotan

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 19 November 2025 | 19:51 WIB
Petugas Ditlantas Polda Kepulauan Bangka Belitung bersama tim PT Timah Tbk berada di atas ponton yang membawa rangkaian 2.100 knalpot brong sitaan sebelum ditenggelamkan di perairan Rebo, Bangka
Petugas Ditlantas Polda Kepulauan Bangka Belitung bersama tim PT Timah Tbk berada di atas ponton yang membawa rangkaian 2.100 knalpot brong sitaan sebelum ditenggelamkan di perairan Rebo, Bangka

RADARBONANG.ID - Direktorat Lalu Lintas Polda Kepulauan Bangka Belitung bersama PT Timah Tbk mengambil langkah tidak biasa dalam memanfaatkan barang bukti berupa knalpot brong.

Sebanyak 2.100 knalpot sitaan ditenggelamkan ke perairan Rebo, Kabupaten Bangka, untuk dijadikan rumpon atau rumah ikan.

Program ini diklaim sebagai bentuk inovasi pemanfaatan barang sitaan sekaligus mendukung penguatan ekosistem laut di wilayah tersebut.

Kombes Pol Pringadhi Supardjan, Direktur Lalu Lintas Polda Babel, menjelaskan bahwa penenggelaman knalpot dilakukan setelah proses pengumpulan barang bukti dari berbagai razia kendaraan selama beberapa bulan terakhir.

Barang sitaan yang tidak lagi layak digunakan itu kemudian dialihfungsikan sebagai media perikanan.

Ia menyebut langkah ini bertujuan membantu meningkatkan populasi ikan, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi nelayan setempat.

Menurut Pringadhi, rumpon yang dibuat dari rangkaian knalpot brong itu dipasang pada titik-titik tertentu yang telah melalui kajian terlebih dahulu.

Pihak kepolisian bekerja sama dengan PT Timah Tbk dalam proses transportasi, perangkaian, dan penenggelaman material ke dasar laut.

Ia menegaskan bahwa pemilihan lokasi juga mempertimbangkan arus laut, kedalaman, dan potensi pertumbuhan terumbu buatan.

Pringadhi menambahkan, rumpon tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya ikan, tetapi juga berpotensi membuka peluang wisata bawah laut.

Ia berharap praktik tersebut dapat menjadi percontohan bagi daerah lain dalam memanfaatkan barang sitaan secara lebih produktif.

Selain meningkatkan keberadaan biota laut, program ini juga dinilai mampu menekan aktivitas ilegal seperti penggunaan knalpot brong yang meresahkan masyarakat.

Meski demikian, inovasi tersebut menuai kritik dari sejumlah aktivis lingkungan. Mereka mempertanyakan langkah menenggelamkan ratusan kilogram material logam yang bukan dirancang untuk lingkungan laut.

Kekhawatiran muncul terkait risiko pencemaran logam berat yang dapat mencemari perairan dalam jangka panjang.

Aktivis menyoroti bahwa knalpot brong umumnya terbuat dari material campuran seperti besi, baja, dan lapisan krom. Ketika berada di dasar laut, material tersebut berisiko berkarat dan melepaskan partikel maupun senyawa berbahaya.

Jika terjadi korosi tanpa kontrol, partikel logam dapat memengaruhi kualitas air dan mengganggu rantai makanan laut.

Hal ini dikhawatirkan berdampak pada ikan yang nantinya dikonsumsi masyarakat.

Para pegiat lingkungan mengingatkan bahwa pembuatan rumpon seharusnya menggunakan material yang sudah teruji aman untuk habitat laut, seperti beton ramah lingkungan atau serat khusus yang tahan terhadap korosi.

Mereka menilai program ini tetap membutuhkan analisis dampak lingkungan yang lebih mendalam serta standar perlakuan terhadap material logam sebelum ditenggelamkan.

Beberapa ahli kelautan juga memberikan pandangan serupa. Menurut mereka, meskipun tujuan program ini baik, penggunaan knalpot tanpa perlakuan awal dapat mengakibatkan pencemaran mikroplastik dari komponen tambahan seperti karet atau cat pelapis. Risiko ini meningkat seiring lamanya rumpon berada di bawah laut.

Mereka menilai penting untuk memastikan seluruh komponen berpotensi mencemari harus dibersihkan atau dilepaskan terlebih dahulu.

Menanggapi kritik tersebut, pihak kepolisian dan PT Timah menyatakan siap mengevaluasi dan melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi rumpon.

Pringadhi menyebut bahwa proses penenggelaman sudah mengikuti prosedur yang mengacu pada praktik terumbu buatan yang pernah dilakukan sebelumnya di beberapa daerah.

Ia juga berjanji menindaklanjuti masukan para pegiat lingkungan untuk menjamin program tersebut berjalan tanpa mengganggu ekosistem laut.

Di sisi lain, sejumlah nelayan memberikan respons positif. Mereka menilai rumpon dapat membantu meningkatkan hasil tangkapan, terutama pada musim ikan menurun.

Nelayan berharap pemerintah dapat memastikan keamanan ekosistem agar manfaat jangka panjang bisa dirasakan tanpa menumbuhkan masalah baru.

Baca Juga: Pelunasan Haji Tinggal Sehari, Regulasi Belum Terbit Jemaah Kian Gelisah

Program penenggelaman knalpot brong ini kini berada di tengah sorotan publik. Di satu sisi, ia dinilai kreatif dan bermanfaat bagi perikanan lokal.

Namun di sisi lain, aspek keselamatan lingkungan menjadi catatan penting yang harus dipastikan sebelum program serupa diterapkan secara lebih luas.

Dengan pengawasan yang tepat dan pendekatan berbasis riset, upaya pemanfaatan barang sitaan ini dapat menjadi inovasi berkelanjutan bagi pengelolaan sumber daya laut di Kepulauan Bangka Belitung.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#rumpon Rebo #Polda Babel #PT Timah #knalpot brong