RADARBONANG.ID – Denting gamelan terdengar lembut sore itu dari dalam Keraton Kasunanan Surakarta.
Aroma kemenyan dan bunga tujuh rupa bercampur dengan udara sendu, mengiringi kepergian Sang Raja, Paku Buwono XIII.
Namun di tengah duka, sejarah baru pun tercipta. Putra mahkota, KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, resmi dikukuhkan sebagai Paku Buwono XIV, penerus tahta trah Mataram yang telah berusia lebih dari tiga abad.
Prosesi sakral itu berlangsung di Pendapa Ageng Sasana Sewaka, Selasa (5/11), beberapa saat sebelum jenazah PB XIII diberangkatkan menuju Astana Imogiri, makam para raja Mataram di Bantul, Yogyakarta.
Dengan balutan busana kebesaran hitam dan blangkon Surakarta, Hamangkunegoro berdiri tegap di hadapan keluarga besar, para abdi dalem, serta sentono dalem.
Dikutip dari detik.com/jateng, Di bawah temaram lampu minyak dan lantunan doa, ia mengucapkan ikrar suci dan menyatakan kesanggupannya untuk meneruskan tahta kerajaan:
"Ingsun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, ing dina iki, Rebo Legi, patbelas Jumadilawal tahun Dal sewu sangangatus seket sanga, utawa kaping lima Nopember rong ewu selawe, hanglintir kaprabon Dalem minangka Sri Susuhan Karaton Surakarta Hadiningrat, kanthi sesebutan Sampeyandalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono Parbelas," ucapnya.
Suasana berubah hening. Beberapa abdi dalem tampak menunduk, air mata menetes tanpa suara.
Dalam keheningan itu, lahirlah seorang raja baru yang diharapkan mampu menjaga martabat dan nilai-nilai luhur Jawa di tengah dunia yang terus berubah.
Putri sulung PB XIII, GKR Timoer Rumbaikusuma Dewayani, menyebut pengukuhan ini sebagai momen penting dalam menjaga kelestarian adat dan tata nilai keraton.
Bagi masyarakat Surakarta, penobatan ini bukan hanya soal pergantian pemimpin, melainkan perwujudan kontinuitas budaya Jawa yang tak lekang oleh zaman.
KGPAA Hamangkunegoro dikenal sebagai sosok cerdas dan bersahaja.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia aktif mendorong kegiatan kebudayaan, pendidikan, serta menjembatani komunikasi antara keraton dan masyarakat luas.
Langkahnya dianggap membawa harapan baru bagi masa depan Keraton Surakarta—sebuah istana yang pernah menjadi pusat politik, spiritual, dan kebudayaan Jawa.
“Keraton tetaplah simbol moral bangsa. Penobatan PB XIV di tengah situasi modern seperti ini menjadi penegas bahwa akar budaya tak boleh tercerabut,” ujar pengamat budaya Jawa, R. Wicaksono, saat dimintai tanggapan.
Meski duka masih menggantung, pengukuhan itu menandai lahirnya babak baru dalam sejarah Surakarta.
Dentang lonceng keraton terdengar tiga kali, disusul tabuhan bedug besar sebagai tanda pengesahan raja baru.
Baca Juga: Ketika Tari Menjadi Nafas: Kisah Niang Soli, Maestro Legong Tertua di Bali
Sementara di halaman, ratusan warga dan abdi dalem menunduk, menyambut PB XIV dengan doa dan harapan agar beliau mampu membawa keraton menuju keseimbangan antara tradisi dan kemajuan zaman.
Dari balik tembok tinggi keraton, suara sindhen terdengar pelan, melantunkan tembang “Lir Ilir” — simbol kehidupan baru yang selalu tumbuh di atas tanah warisan para leluhur.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah