Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Pesut Mahakam di Ujung Nafas: Tinggal 62 Ekor, Alam Kalimantan Minta Pertolongan

Muhammad Azlan Syah • Senin, 3 November 2025 | 21:10 WIB
Dua ekor Pesut Mahakam muncul di permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Populasinya kini diperkirakan tinggal sekitar 62 ekor di alam liar.
Dua ekor Pesut Mahakam muncul di permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Populasinya kini diperkirakan tinggal sekitar 62 ekor di alam liar.

RADARBONANG.ID — Pagi itu, kabut masih menggantung di atas Sungai Mahakam. Di antara riak air yang tenang, bayangan punggung abu-abu sempat muncul sebentar—lalu menghilang lagi. “Itu pesut,” bisik warga setempat, pelan, seolah takut mengganggu.

Sekilas, mungkin terlihat seperti momen biasa. Tapi bagi mereka yang tinggal di tepian sungai, tiap kali pesut muncul adalah mukjizat kecil. Karena jumlahnya kini bisa dihitung dengan jari.

Menurut data terbaru, populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 62 ekor di alam liar.

Baca Juga: Tak Lekang Usia, Semangat Sumpah Pemuda Harus Tetap Menyala di Dada Generasi Indonesia

Satwa endemik air tawar ini telah masuk dalam kategori “Sangat Terancam Punah” (Critically Endangered) menurut daftar IUCN, serta tercatat dalam Lampiran I CITES—yang artinya seluruh bentuk perdagangan internasionalnya dilarang keras.

Namun ancaman pesut tak datang dari perdagangan, melainkan dari aktivitas manusia yang semakin padat di Sungai Mahakam.

Terjerat di Sungai Sendiri

Ancaman paling nyata datang dari jaring nelayan tradisional (rengge). Alat tangkap yang tampak sederhana itu sering kali menjadi jebakan mematikan bagi pesut.

Begitu terperangkap, mamalia ini sulit bernapas dan akhirnya tenggelam.

“Dalam setahun, bisa ada dua sampai tiga kasus pesut mati karena rengge,” kata Sulaiman, nelayan dari Kutai Kartanegara, sambil menatap sungai yang mulai surut. “Padahal dulu, hampir tiap minggu kita lihat mereka main di sekitar perahu.”

Selain itu, lalu lintas kapal tongkang pengangkut batu bara yang makin padat membuat perairan Mahakam seperti jalur industri terapung.

Suara mesin dan gelombang besar mengganggu sistem sonar alami pesut. Tak jarang, mereka tersesat, terpisah dari kelompoknya, bahkan terluka akibat benturan.

Sungai yang Tak Lagi Ramah

Air Mahakam kini juga tak sebersih dulu. Limbah industri, tambang, dan perkebunan mengalir tanpa henti, membawa bahan kimia yang merusak rantai makanan di dalam sungai.

“Kalau dulu banyak ikan kecil di sekitar sini, sekarang jarang,” ujar Rini, warga Loa Kulu yang sejak kecil tinggal di tepi sungai. “Pesut makin jarang muncul. Kalau pun muncul, biasanya sendirian.”

Perubahan ini membuat pesut kesulitan mencari makan dan berkembang biak. Proses reproduksi mereka lambat — betina hanya melahirkan satu anak tiap dua hingga tiga tahun.

Artinya, kehilangan satu ekor pesut berarti kehilangan peluang besar untuk menjaga populasi tetap stabil.

Ironi dari Negeri Sendiri

Yang lebih menyedihkan, sebagian besar inisiatif penyelamatan justru datang dari seorang warga negara Belanda bernama Danielle Kreb, yang sejak 1999 tinggal di Kalimantan Timur dan mendedikasikan hidupnya untuk riset serta konservasi pesut Mahakam.

Melalui program berbasis masyarakat, ia melatih warga menjadi pengamat pesut, menggelar edukasi lingkungan di sekolah-sekolah, dan melakukan patroli sungai untuk mencegah praktik berbahaya.

Namun dukungan dari dalam negeri dinilai masih minim. Beberapa aktivis menilai perhatian pemerintah dan masyarakat lokal terhadap spesies ini belum sepadan dengan tingkat ancamannya.

“Pesut Mahakam bukan sekadar ikon Kalimantan, tapi indikator kesehatan sungai kita,” ujar seorang peneliti konservasi dari Samarinda. “Kalau mereka punah, berarti ekosistem air tawar kita juga sekarat.”

Harapan di Tengah Arus

Meski begitu, harapan belum sepenuhnya hilang. Kini, sejumlah komunitas muda di Samarinda dan Tenggarong mulai bergerak membuat kampanye digital bertajuk #SaveMahakamDolphin, menggalang donasi untuk kegiatan pemantauan dan edukasi warga pesisir.

Pemerintah daerah pun mulai merancang peraturan pembatasan alat tangkap berisiko tinggi di zona habitat pesut, serta kerja sama dengan pelaku industri untuk menekan pencemaran.

“Kalau semua pihak mau jalan bareng, kita masih bisa selamatkan mereka,” kata Rini, sambil menatap sungai sore itu.

Di kejauhan, riak kecil muncul sebentar — entah gelombang, entah pesut yang kembali menyapa.

Baca Juga: Prabowo Guncang APEC: Serakahnomics Ancam Dunia, Bukan Sekadar Krisis Ekonomi!

Lebih dari Sekadar Satwa

Bagi masyarakat Mahakam, pesut bukan hanya hewan langka. Ia simbol keseimbangan alam — penanda bahwa sungai masih hidup.

Dan mungkin, jika kita mendengarkan baik-baik, di antara gemuruh kapal dan riuh industri, masih terdengar gema lembut pesut yang memanggil:
“Selamatkan rumah kami.”

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Pesut Mahakam #konservasi sungai #satwa langka #lingkungan hidup Indonesia #pelestarian pesut #Kalimantan Timur