Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Seperti Disapa Ayah di Negeri Orang — Pekerja Migran Menangis Saat Bertemu Prabowo di Korea

Tulus Widodo • Senin, 3 November 2025 | 14:15 WIB
Prabowo Subianto menyapa pekerja migran Indonesia di sela KTT APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan.
Prabowo Subianto menyapa pekerja migran Indonesia di sela KTT APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan.

RADARBONANG.ID — Di tengah dinginnya udara musim gugur Gyeongju, suasana tiba-tiba menghangat.

Ratusan pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Korea Selatan mendadak haru saat Presiden Prabowo Subianto datang menyapa mereka, Kamis malam (30/10).

Bagi mereka, momen itu bukan sekadar pertemuan dengan kepala negara — tapi seperti kedatangan sosok ayah di negeri jauh.

Martinus Andi Irawan, salah satu PMI asal Jawa Timur, sampai menahan air mata saat bercerita. Lelaki 35 tahun yang sudah bekerja di industri manufaktur kapal sejak 2018 itu merasa seperti “dipeluk dari jauh”.

“Bapak Presiden tadi sempat bertanya sudah berapa lama saya bekerja di Korea, keluarga tinggal di mana di Indonesia atau di Korea dan juga menanyakan apakah saya betah di sini,” tutur Martinus.

Bagi Martinus, perhatian sederhana itu terasa luar biasa.

“Saya sangat terkesan dengan pertanyaan Bapak Presiden. Beliau seperti sosok seorang bapak bagi kami. Kami memang merindukan ayah,” ucapnya dengan suara bergetar.

Bukan Sekadar Sapaan, Tapi Kehangatan yang Langka

Selama tujuh tahun merantau di Korea, Martinus sudah terbiasa hidup dalam ritme kerja pabrik dan jarak ribuan kilometer dari keluarga.

Tapi pertemuan singkat dengan Presiden di tanah rantau itu seperti membayar semua rindu yang tertunda.

“Saya merasa bangga, karena ini kesempatan yang sangat langka bisa menyapa langsung Bapak Presiden,” ungkapnya.

Bagi sebagian besar PMI, kehadiran Prabowo di sela kunjungannya menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 di Korea Selatan adalah bentuk nyata bahwa pemerintah benar-benar hadir di tengah rakyat — bahkan di luar negeri.

“Bapak datang bukan untuk pidato panjang, tapi menyapa kami satu per satu. Itu yang bikin kami merasa diperhatikan,” ujar salah satu pekerja lain yang ikut hadir, dengan mata berkaca-kaca.

Harapan di Negeri Ginseng: Indonesia Bisa Mandiri 

Tak hanya haru, Martinus juga menyampaikan doa dan harapan besar. Ia ingin agar ke depan, Indonesia mampu menandingi Korea Selatan dalam hal industri dan kesejahteraan tenaga kerja.

“Harapan saya, semoga bangsa kita bisa menjadi bangsa industri seperti Korea,” ujarnya.

Ia berharap, suatu hari nanti, anak-anak muda Indonesia tak perlu lagi meninggalkan tanah air demi mencari penghidupan yang layak.

“Kalau negara kita bisa seperti Korea, mungkin kami semua bisa kerja di rumah sendiri, dekat keluarga,” ucapnya pelan.

Rantau yang Tak Selalu Dingin

Pertemuan itu hanya berlangsung singkat. Namun bagi para pekerja migran, momen tersebut meninggalkan kesan panjang.

Mereka bukan sekadar merasa diperhatikan oleh presiden — tapi merasa diingat sebagai anak bangsa.

Di tengah dinginnya negeri Ginseng, ada kehangatan yang tak bisa dibeli: sapaan seorang pemimpin yang datang tanpa jarak, dan perhatian yang terasa personal.

Dan bagi Martinus, hari itu mungkin akan selalu diingat sebagai hari ketika ia tak lagi merasa sendiri di negeri orang. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#APEC 2025 #gyeongju Korea Selatan #Prabowo Subianto #pekerja migran Indonesia #PMI Korea