Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Prabowo Guncang APEC: Serakahnomics Ancam Dunia, Bukan Sekadar Krisis Ekonomi!

Tulus Widodo • Senin, 3 November 2025 | 04:29 WIB
Presiden Prabowo Subianto berpidato tegas di forum APEC 2025, Gyeongju, Korea Selatan. (Foto: Sekretariat Presiden)
Presiden Prabowo Subianto berpidato tegas di forum APEC 2025, Gyeongju, Korea Selatan. (Foto: Sekretariat Presiden)

RADARBONANG.ID — Tegas, menusuk, dan menggugah nurani. Di hadapan para pemimpin ekonomi dunia, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras: dunia sedang digerogoti oleh “Serakahnomics” — ekonomi serakah yang menumpuk kekayaan pada segelintir pihak, menyingkirkan keadilan, dan menahan pertumbuhan sejati.

Pidato Prabowo dalam Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC (AELM) di Gyeongju, Korea Selatan, Jumat (31/10), menjadi salah satu yang paling disorot.

Bukan hanya karena gaya bicaranya yang lugas dan berani, tapi juga karena isinya yang menyentil banyak negara maju.

“Kami di Indonesia sedang berjuang melawan korupsi, melawan penipuan, dan melawan greed economies — ekonomi serakah, yang menahan pertumbuhan sejati,” ujar Prabowo dengan intonasi tegas.

Presiden menilai, keserakahan global kini bukan sekadar masalah moral, tetapi juga ancaman ekonomi dan sosial yang nyata.

Dari korupsi hingga penyelundupan lintas negara, semuanya menggerogoti fondasi pertumbuhan yang adil.

Bangun Kepercayaan, Tolak Perpecahan

Dalam forum yang dihadiri 21 kepala pemerintahan anggota APEC, Prabowo mengingatkan bahwa kawasan Asia-Pasifik tidak boleh menyerah pada ketegangan dan ketidakpercayaan yang kian menajam.

“Asia-Pasifik tidak boleh menerima perpecahan sebagai takdirnya. Kita harus bangkit di atas rasa curiga dan ketakutan,” tegasnya.

Mantan Danjen Kopassus itu mengajak negara-negara anggota APEC kembali ke ruh awal organisasi: membangun ekonomi inklusif dan kerja sama lintas batas yang berpihak pada keadilan.

“APEC dibangun di atas semangat pertumbuhan bersama. Fragmentasi hanya akan merusak stabilitas yang menopang kemakmuran kita,” tandas Menteri Pertahanan di era pemerintahan Presiden Jokowi itu.

Indonesia Dorong Ekonomi Berkeadilan

Prabowo juga menegaskan komitmen Indonesia terhadap sistem perdagangan multilateral berbasis aturan, dengan WTO sebagai pijakan utama.

Bagi Indonesia, kata dia, kompetisi global hanya akan sehat bila semua pihak berdiri di gelanggang yang sama rata.

“Pertumbuhan yang menyingkirkan adalah pertumbuhan yang memecah belah,” ujarnya.

“Ketimpangan melahirkan ketidakstabilan, dan itu musuh utama perdamaian.”

Dalam konteks itu, Prabowo menyoroti pentingnya inklusivitas dan keberlanjutan sebagai kompas ekonomi dunia.

Orang nomor satu di Indonesia itu menegaskan bahwa manfaat perdagangan dan investasi harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir elite.

UMKM Jadi Pilar, Bukan Penonton

Sebagai contoh konkret, Prabowo memaparkan program nasional di Indonesia yang memperkuat koperasi dan UMKM.

Prabowo menyebut pemberdayaan usaha kecil lewat akses digital dan finansial sebagai kunci pemerataan ekonomi.

“Kami membangun ribuan koperasi, memperkuat UMKM agar mereka terlibat dalam rantai nilai global,” paparnya.

Peringatan Soal Bahaya Narkotika dan Kejahatan Lintas Negara

Dalam bagian akhir pidatonya, Prabowo memperingatkan dunia akan ancaman transnasional — mulai dari korupsi, pencucian uang, perdagangan manusia, hingga narkotika.

Semua itu, katanya, adalah wajah lain dari “ekonomi serakah” yang merusak sendi kehidupan bangsa.

Suasana sidang utama Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan. (Foto: Sekretariat Presiden)
Suasana sidang utama Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan. (Foto: Sekretariat Presiden)

“Bahaya narkotika adalah ancaman bagi stabilitas dan masa depan kita. Ini sangat serius karena bersifat lintas negara. Kita tidak bisa menghadapinya sendirian,” seru Prabowo.

Prabowo menyerukan solidaritas global dan kolaborasi konkret antarnegara APEC untuk melawan ekonomi gelap.

“Kita harus bekerja sama secara multilateral. Kita tidak bisa mengatasi bahaya ini sendirian,” tegasnya.

Pidato itu menegaskan arah baru diplomasi ekonomi Indonesia di bawah Prabowo: keras terhadap ketimpangan, teguh pada moral, dan berpihak pada manusia.

Dunia mungkin tengah sibuk menghitung angka pertumbuhan, tapi Prabowo mengingatkan — tanpa keadilan, semua itu hanyalah ilusi kemakmuran. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#APEC 2025 #Prabowo Subianto #Serakahnomics #UMKM Indonesia #ekonomi berkeadilan