Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Hamzah dan Mulyadi Harumkan Indonesia di Turki, Juara Dunia Lewat Teknik ‘Bulu-Bulu’ Tradisional

Muhammad Azlan Syah • Jumat, 31 Oktober 2025 | 01:10 WIB
Hamzah Basri dan Mulyadi Umar, pemancing asal Sultra, raih juara II Rosatom International Fishing Tournament 2025 di Turki.
Hamzah Basri dan Mulyadi Umar, pemancing asal Sultra, raih juara II Rosatom International Fishing Tournament 2025 di Turki.

RADARBONANG.ID – Dari tepian laut Sulawesi Tenggara menuju perairan Turki, dua pemancing asal Indonesia ini membuktikan bahwa keahlian tradisional bisa bersaing di panggung dunia.

Hamzah Basri dan Mulyadi Umar, nama yang mungkin jarang muncul di headline nasional, kini resmi mencatatkan sejarah: mereka berhasil meraih juara kedua dalam ajang Rosatom International Fishing Tournament 2025 di Mersin, Turki, pada Rabu (22/10).

Turnamen internasional bergengsi ini diikuti oleh tujuh negara, di antaranya Uzbekistan, Afrika Selatan, Kazakhstan, Turki, Mesir, Hungaria, dan Indonesia.

Baca Juga: Gara-Gara Sebatang Rokok, Putuslah Bisnis Liem Sioe Liong dengan Ipar Soeharto

Dalam hasil akhir, tim Indonesia mengumpulkan total tangkapan 6,5 kilogram, hanya terpaut tipis dari tim Hungaria yang keluar sebagai juara pertama dengan 6,9 kilogram.
Posisi ketiga ditempati Mesir dengan hasil 4,7 kilogram.

Namun, yang membuat kemenangan ini istimewa bukan semata hasil tangkapan mereka, melainkan cara mereka memancing.

Hamzah dan Mulyadi tampil dengan teknik khas lokal bernama “bulu-bulu” — metode tradisional dari Sulawesi Tenggara yang telah digunakan secara turun-temurun oleh para nelayan di pesisir Baubau dan Buton.

Teknik Lokal yang Tak Lekang oleh Waktu

Berbeda dari peserta lain yang mengandalkan teknologi modern dan umpan sintetis beraroma kimia, Hamzah dan Mulyadi justru percaya pada kearifan lokal.

Mereka membawa alat sederhana: tali pancing, pemberat batu, dan umpan berbahan bulu ayam yang diwarnai cerah — itulah mengapa disebut teknik bulu-bulu.

“Teknik ini memang sudah diwariskan dari orang tua kami. Tidak pakai mesin atau alat mahal, hanya insting dan pengalaman membaca arus laut,” ujar Hamzah, dalam wawancara virtual usai penyerahan medali.

Bagi warga pesisir Sulawesi Tenggara, bulu-bulu bukan sekadar alat tangkap ikan, tapi simbol filosofi ketekunan dan keharmonisan dengan alam.

Ketika tali pancing menegak di laut biru Mersin, teknik tradisional itu justru memukau juri dan peserta lain.

Bahkan beberapa tim asing sempat meminta Hamzah untuk memperlihatkan cara merangkai umpan dengan tangan kosong.

“Awalnya mereka mengira kami main-main. Tapi begitu hasil tangkapan naik, semua langsung tepuk tangan,” kata Mulyadi sambil tertawa.

Perjuangan dari Timur Indonesia

Perjalanan Hamzah dan Mulyadi menuju Turki bukan tanpa tantangan.

Keduanya harus menggalang dana dari komunitas nelayan dan dukungan pemerintah daerah agar bisa berangkat mewakili Indonesia.

Mereka berlatih selama dua bulan penuh di Teluk Kendari, menyesuaikan diri dengan kondisi laut yang berbeda dan mempelajari pola arus menggunakan peralatan seadanya.

“Kami cuma ingin membuktikan, alat tradisional pun bisa berprestasi kalau dipakai dengan hati,” tambah Mulyadi.

Hasilnya berbicara sendiri: teknik sederhana dari desa pesisir Indonesia mampu menandingi bahkan mengalahkan peserta dengan peralatan elektronik dan sonar modern.

Reaksi dan Kebanggaan dari Tanah Air

Kabar kemenangan ini langsung disambut antusias oleh komunitas pemancing di berbagai daerah.

Unggahan video kemenangan mereka di akun Fishing Nusantara viral di media sosial dengan ribuan komentar bangga.

“Ini bukti bahwa tradisi lokal Indonesia punya nilai tinggi. Bukan hanya dalam budaya, tapi juga dalam kompetisi dunia,” tulis salah satu netizen.

Sementara itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara menyebut kemenangan ini sebagai momentum penting untuk mempromosikan potensi maritim daerah timur Indonesia.

“Teknik bulu-bulu adalah warisan yang perlu dilestarikan dan bisa jadi identitas wisata budaya bahari kita,” ujar Kepala Dinas dalam pernyataannya.

Baca Juga: Prabowo: Tak Boleh Ada Mafia dalam Pemerintah, Setiap Rupiah Harus untuk Rakyat!

Lebih dari Sekadar Kompetisi

Bagi Hamzah dan Mulyadi, trofi bukan tujuan akhir. Mereka berharap prestasi ini bisa menginspirasi generasi muda agar tak melupakan warisan teknik pancing tradisional.

“Kalau kita mau belajar, alam pasti kasih hasil terbaik,” kata Hamzah menutup wawancara.

Kini, dua sosok sederhana dari ujung timur Indonesia itu pulang membawa kebanggaan — bukan hanya untuk Sulawesi Tenggara, tapi untuk seluruh Indonesia.

Lewat kail, tali, dan bulu ayam sederhana, mereka membuktikan bahwa kearifan lokal bisa menembus batas internasional.

Dan siapa sangka, laut biru Mersin menjadi saksi bahwa kemenangan tak selalu datang dari teknologi canggih, tapi dari tangan-tangan yang masih setia pada tradisi. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Hamzah Basri #teknik bulu bulu #Rosatom International Fishing Tournament 2025 #Mulyadi Umar #pemancing Indonesia juara dunia