Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Gara-Gara Sebatang Rokok, Putuslah Bisnis Liem Sioe Liong dengan Ipar Soeharto

Tulus Widodo • Kamis, 30 Oktober 2025 | 17:47 WIB
Sosok pengusaha besar era Orde Baru yang dikenal dekat dengan Presiden Soeharto. Kemitraannya menjadi fondasi konglomerasi terbesar di Indonesia, sebelum akhirnya retak karena sebuah insiden sepele.
Sosok pengusaha besar era Orde Baru yang dikenal dekat dengan Presiden Soeharto. Kemitraannya menjadi fondasi konglomerasi terbesar di Indonesia, sebelum akhirnya retak karena sebuah insiden sepele.

RADARBONANG.ID – Siapa sangka, sebatang rokok bisa mengguncang fondasi hubungan bisnis dua tokoh besar Orde Baru: Liem Sioe Liong alias Sudono Salim dan keluarga Soeharto.

Dikutip dari intisari.grid.id, perseteruan kecil di depan sang presiden justru jadi titik balik yang mengakhiri kemitraan bisnis yang sebelumnya terlihat kokoh.

Kisah ini berawal dari upaya Soeharto menghidupkan kembali PT Hanurata, perusahaan dagang milik yayasan yang berafiliasi dengan keluarga Cendana.

Tahun 1967, sang penguasa baru Orde Baru itu mendorong yayasan-yayasan seperti Harapan Kita, Trikora, dan lainnya untuk bergabung sebagai pemegang saham.

Sebagai penggerak utama bisnis, Om Liem—pengusaha yang dikenal loyal kepada Soeharto—diminta ikut memperkuat Hanurata.

Tapi masalah muncul ketika adik Ibu Tien Soeharto, bernama Widojo, ditunjuk sebagai direktur pada 1968.

Widojo Bukan Mitra yang Seimbang Bagi Om Liem

Dalam buku “Liem Sioe Liong dan Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto” karya Richard Borsuk dan Nancy Chng, digambarkan bahwa Widojo bukan mitra yang seimbang bagi Liem.

Widojo merasa darah bangsawan dari Keraton Solo memberinya hak istimewa. Cara memimpin yang berjarak dan kental dengan aura aristokrat membuat suasana kerja di Hanurata penuh ketegangan.

“Om Liem melihat Widojo ini berlagak bos, bukan rekan kerja,” kenang Sudwikatmono, sepupu Soeharto, dalam buku tersebut.

Puncaknya datang dari insiden sepele—sebatang rokok. Saat itu, di hadapan Pak Harto, Widojo meminta rokok kepada Liem.

Tanpa pikir panjang, Liem yang tengah berbicara dengan Soeharto menyodorkan satu batang saja.

Ia lupa memberikan sebungkus penuh. Widojo murka, mencampakkan rokok itu di depan umum.

Bagi Liem, itu bukan sekadar soal rokok. Itu tentang harga diri dan cara diperlakukan. “Kesabaran Om Liem habis,” tutur Sudwikatmono.

Liem Pilih Hindari Konflik

Tak lama setelah insiden itu, Liem memutuskan keluar dari Hanurata.

Ia memilih menghindari konflik yang bisa menjalar ke hubungan pribadi dengan keluarga Cendana.

Sudwikatmono pun ingin hengkang. Tapi karena posisinya sebagai keluarga dekat, ia segan. Akhirnya Liem sendiri yang menyampaikan langsung kepada Soeharto.

“Suasananya sudah tidak sehat, aturannya terlalu aristokratis,” ujar Sudwikatmono.

Kepergian Liem memicu efek domino. Beberapa staf senior ikut mundur. Hanurata kehilangan arah. Widojo akhirnya menyerah—ia menulis surat kepada Liem, menyerahkan kembali perusahaan itu.

Hanurata Perlahan Tenggelam

Soeharto pun turun tangan. Presiden ke-2 itu menunjuk saudara tirinya, Probosutedjo, dan sejumlah perwira TNI untuk menata ulang perusahaan.

Kelak, Indra Rukmana, menantu Soeharto (suami Mbak Tutut), juga sempat duduk di dewan direksi.

Namun, sejarah mencatat: PT Hanurata tak pernah benar-benar bangkit.

Perusahaan itu perlahan tenggelam, menjadi catatan kecil dalam kisah besar hubungan bisnis Soeharto dan para konglomerat Orde Baru.

Semuanya bermula dari sebatang rokok—dan harga diri yang tersulut. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Peumulia Jamee #Hanurata #konflik bisnis Orde Baru #Soeharto #Liem Sioe Liong #sejarah Indonesia