Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dalang Kondang Ki Anom Suroto Tutup Tirai Kehidupan: Lima Dekade Menyulut Api Wayang dari Kelir ke Layar

Tulus Widodo • Jumat, 24 Oktober 2025 | 21:55 WIB
Dalang senior Ki Anom Suroto semasa hidupnya dikenal sebagai maestro wayang kulit yang membawa napas baru bagi seni pedalangan Jawa. Ia wafat pada 23 Oktober 2025 di usia 77 tahun.
Dalang senior Ki Anom Suroto semasa hidupnya dikenal sebagai maestro wayang kulit yang membawa napas baru bagi seni pedalangan Jawa. Ia wafat pada 23 Oktober 2025 di usia 77 tahun.

RADARBONANG.ID – Dunia pedalangan tanah air kehilangan salah satu sosok paling berpengaruhnya.

Ki Anom Suroto, maestro wayang kulit yang selama lebih dari lima dekade menjadi mercusuar seni pedalangan Jawa, meninggal dunia pada Kamis (23/10) di usia 77 tahun.

Kabar duka itu dikonfirmasi oleh putranya, Jatmiko. “Iya benar, bapak meninggal dunia tadi. Ini saya masih ngurus jenazahnya,” tuturnya lirih, dikutip dari akun X @liputan6dotcom.

Dalang kondang kelahiran Klaten itu mengembuskan napas terakhir setelah empat hari menjalani perawatan intensif di RS Dr Oen Kandangsapi, Surakarta. “Sudah empat hari di Kandangsapi. Sakitnya jantung,” ujar Jatmiko.

Jenazah Ki Anom dimakamkan Kamis sore di pemakaman keluarga Depokan, Juwiring, Klaten, Jawa Tengah, setelah disemayamkan di rumah duka Kebon Seni Timasan, Sukoharjo.

Gaya Dalang yang Menolak Mati Diterpa Zaman

Lahir pada 11 Agustus 1948, Ki Anom Suroto tumbuh di tengah keluarga pedalangan. Sang ayah, Ki Sadiyun Harjadarsana, bukan sekadar guru, tapi juga sumber ilham yang menanamkan filosofi bahwa wayang bukan hanya seni pertunjukan, melainkan jalan hidup.

Sejak kecil, Ki Anom sudah terbiasa menyaksikan kelir dan gamelan berdentum di halaman rumah.

Pada usia 12 tahun, ia mulai memegang cempala sendiri, memahat karakter wayang, dan menjiwai sabetan — gerak khas dalang yang memadukan ritme, rasa, dan ruh.

Nama Ki Anom mulai dikenal publik sejak awal 1970-an. Di tengah arus modernisasi yang menggulung budaya tradisional, pria bernama lengkap Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro itu justru menjadikan teknologi dan perubahan zaman sebagai sahabat, bukan lawan.

Lewat layar televisi, rekaman kaset, hingga panggung-panggung hajatan di desa, Ki Anom membawa wayang keluar dari tembok eksklusivitas budaya.

Di tangannya, wayang tidak lagi tampak kuno. Dalang yang memiliki gaya pedalangan Gagrag Surakarta itu menyisipkan iringan musik yang lebih segar, mengolah suluk yang mudah dicerna tanpa kehilangan rasa, dan menyelipkan pesan sosial yang relevan dengan situasi bangsa.

“Dalang itu bukan hanya tukang cerita, tapi penjaga moral zaman,” ujar Ki Anom dalam satu wawancara yang kini terasa seperti pesan terakhir.

Warisan Abadi dari Sang Guru Bangsa Lewat Wayang

Bagi banyak pengamat budaya, Ki Anom bukan sekadar dalang, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa depan kebudayaan Jawa.

Dari tangannya lahir ratusan lakon monumental — Bima Bungkus, Semar Bangun Kayangan, hingga Wahyu Katentreman Jiwa.

Ia menjadikan sabetan bukan sekadar gerak, tapi bahasa moral; menjadikan suluk bukan sekadar nyanyian, tapi doa bagi bangsa yang sering lupa pada akar budayanya.

Bersama sang istri, Rita Diana S, Ki Anom membesarkan delapan anak. Beberapa di antaranya kini menjadi dalang penerus, memastikan bahwa suara khas “Ki Anom” tak benar-benar padam di balik kelir.

Kini, saat cempala itu tergeletak sunyi dan gamelan berhenti berdentum, warisan Ki Anom justru hidup di hati masyarakat.

Ia telah menuntaskan lakon panjang bernama kehidupan, meninggalkan pesan bahwa budaya hanya akan punah bila generasi berhenti percaya pada nilainya.

Suara Gong Terakhir di Rumah Duka

Menjelang sore, di halaman rumah duka Kebon Seni Timasan, suara gong terakhir terdengar pelan — tanda pamit bagi sang maestro.

Seorang sinden menunduk, menahan air mata di balik jarik hitamnya. Beberapa murid duduk bersila di dekat kelir kosong yang semalam masih berdiri.

Tak ada sabetan, tak ada suluk. Hanya angin sore yang menembus sela-sela gamelan, membawa sepi yang dalam.

Namun dalam diam itulah, warisan Ki Anom tetap bergema — di setiap anak muda yang masih percaya bahwa wayang bukan sekadar pertunjukan, tapi napas dari kebijaksanaan Jawa.

Dan di balik kelir yang kini redup, nama Ki Anom Suroto akan terus hidup, menjadi legenda yang tak lekang oleh zaman. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#dalang legendaris Klaten #maestro wayang kulit Jawa #seni pedalangan Indonesia #Ki Anom Suroto meninggal dunia #warisan budaya Jawa