RADARBONANG.ID – Di sebuah sudut jalan Mojopahit, Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding, aroma malam batik bercampur wangi kayu jati tua menyambut setiap tamu yang melangkah masuk.
Suasana klasik, tenang, dan sarat sejarah. Di situlah Citra Donny Pamungkas, 31 tahun, menyalakan kembali bara tradisi yang nyaris padam.
Dialah generasi ketiga penerus batik tulis Karang Tuban. Dari tangan dan ketekunannya, warisan leluhur yang dulu hanya dikenal di kampung kini menembus pasar hingga Amerika, Belanda, dan Jepang.
‘’Dulu di tahun 1980-an di sekitar sini hampir semuanya pengrajin batik. Sekarang hanya usaha keluarga kami yang masih bertahan dan tetap eksis sampai sekarang,” ujar Donny lirih, sembari melirik ke deretan kain batik yang tertata di etalase kayu tua di galerinya.
Warisan yang Tak Sekadar Kain
Begitu Donny bercerita, terasa jelas bahwa batik baginya bukan sekadar bisnis. Ada emosi dan kebanggaan yang menyelinap di setiap helai kain.
Ia bukan hanya pengrajin, tapi juga penjaga nilai dan pewaris kebanggaan.
‘’Memang sudah sejak kecil keinginan saya untuk terus melestarikan batik. Untuk bisa menjaga kearifan lokal ini, menurut saya harus dari panggilan jiwa. Jika bukan kami para penerusnya, siapa lagi yang akan menjaga eksistensi budaya warisan ini,” ucapnya.
Warisan itu bukan datang tiba-tiba. Sejak kecil, Donny tumbuh di tengah tumpukan kain, lilin malam, dan suara canting yang menari di atas kain putih.
Semua membentuk kedekatan batin yang membuatnya enggan melepaskan tradisi itu.
Ketika sang ibu sudah tak lagi aktif, ia tahu saatnya memegang kendali.
Dengan latar belakang pendidikan Hukum Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Donny memilih jalannya sendiri: menjaga tradisi, tapi dengan cara modern.
Dari Karang ke Amerika dan Jepang
Sejak 45 tahun lalu, keluarga Donny sudah memperkenalkan batik Karang ke mancanegara, lewat jaringan kerabat yang belajar ke luar negeri. Cara sederhana itu ternyata efektif.
“Memang sudah sejak awal batik ini dikelola ibu dipasarkan ke luar negeri. Tapi bukan murni ekspor dalam jumlah banyak, melainkan hanya sekadar menitip ke kerabat untuk dijual di sana. Ternyata peminatnya memang banyak, bahkan sampai saat ini,” kisahnya.
Kini, Donny melangkah lebih jauh. Berkat inovasinya lima tahun terakhir, belasan batik buatannya telah sampai ke Jepang.
Tak hanya kain, tapi juga selendang dan produk turunan lainnya. Batik Karang pun naik kelas, menjadi bagian dari gaya hidup internasional.
Bisnis yang Ramah Lingkungan dan Manusia
Meski sudah mendunia, Donny tetap berpijak pada nilai-nilai lokal dan tanggung jawab sosial. Rumah produksinya telah dilengkapi instalasi pengolah air limbah (IPAL) agar air bekas pewarnaan aman bagi lingkungan.
Kini, ia juga tengah memproses sertifikasi halal untuk memastikan kualitas produknya aman bagi semua kalangan.
Namun bagi Donny, keberhasilan bukan soal ekspor atau omzet, melainkan seberapa besar ia bisa memberi manfaat.
Sedikitnya, sepuluh ibu rumah tangga menjadi bagian tetap dari tim produksinya.
“Saya ingin mereka tetap berdaya. Dengan begitu, batik ini bukan hanya melestarikan warisan, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya tegas.
Selain membuka lapangan kerja, ia juga rajin berbagi ilmu. Ratusan pelajar sering datang belajar membatik langsung ke galerinya.
Kadang, ia diundang ke sekolah dan perusahaan untuk memberikan kelas membatik.
‘’Melestarikan batik ini bukan hanya sekadar pekerjaan atau bisnis, tapi juga sebagai bentuk harapan agar budaya kita tidak akan pernah tergerus zaman,” tandasnya. (*)
Fakta singkat Batik Karang Tuban
- Generasi ketiga: Diteruskan oleh Citra Donny Pamungkas
- Ekspor awal: Sejak 45 tahun lalu ke Amerika & Belanda
- Pasar terbaru: Jepang (Mei 2025)
- Tenaga kerja lokal: 10 ibu rumah tangga
- Inovasi: IPAL ramah lingkungan dan proses sertifikasi halal
- Filosofi Donny: “Batik itu panggilan jiwa.”
Editor : Muhammad Azlan Syah