Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Pertamina Patra Niaga Klarifikasi 4 Informasi Hoaks, dari Alat Uji Portabel hingga Isu Pembatasan Pengisian

Amin Fauzie • Selasa, 7 Oktober 2025 | 00:00 WIB
PT Pertamina Patra Niaga klarifikasi maraknya hoaks dan disinformasi yang beredar di masyarakat belakangan ini dan berharap masyarakat waspada.
PT Pertamina Patra Niaga klarifikasi maraknya hoaks dan disinformasi yang beredar di masyarakat belakangan ini dan berharap masyarakat waspada.

RADARBONANG.ID - PT Pertamina Patra Niaga akhirnya angkat bicara menanggapi maraknya hoaks dan disinformasi yang beredar di masyarakat belakangan ini.

Perusahaan mengimbau masyarakat agar lebih jeli memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebut pihaknya telah menemukan sejumlah informasi menyesatkan yang sengaja disebarkan oleh pihak tak bertanggung jawab.

“Kami mengamati adanya praktik manipulasi dan penyesatan informasi yang bisa membuat masyarakat khawatir dan tidak nyaman,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/10).

Menurut Roberth, penyebaran hoaks tersebut bukan hanya mencemarkan nama baik Pertamina sebagai BUMN, tapi juga menimbulkan kesalahpahaman terhadap pemerintah yang berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi publik.

Dia kemudian memaparkan beberapa contoh hoaks yang sedang ramai dibicarakan beserta klarifikasinya.

1. Hoaks Uji RON BBM dengan Alat Portabel

Salah satu isu yang paling banyak beredar adalah hasil pengujian angka oktan (RON) BBM menggunakan alat portabel seperti Oktis-2.

Roberth menegaskan bahwa metode tersebut tidak dapat dijadikan acuan resmi untuk menentukan angka oktan bahan bakar.

“Secara internasional, pengujian RON hanya dapat dilakukan dengan mesin CFR (Cooperative Fuel Research Engine) sesuai standar ASTM D2699,” jelasnya.

Mesin CFR adalah satu-satunya alat bersertifikasi global yang mampu mengukur ketahanan bahan bakar terhadap detonasi secara akurat.

Hasil uji dengan alat portabel menunjukkan angka yang tidak konsisten—ada yang lebih tinggi, ada yang lebih rendah dari standar sesungguhnya.

Hal ini membuktikan alat tersebut tidak memiliki tingkat akurasi dan kepresisian yang bisa dipertanggungjawabkan.

Roberth menambahkan bahwa alat seperti Oktis-2 hanya mengukur sifat dielektrik (penghantaran listrik) bahan bakar, bukan nilai RON.

Artinya, tidak ada hubungan ilmiah antara hasil pengukuran dielektrik dengan angka oktan.

2. Isu Pembatasan Pengisian BBM untuk Kendaraan

Hoaks lain yang banyak beredar menyebutkan adanya pembatasan pengisian BBM hingga tujuh hari untuk mobil dan empat hari untuk motor, serta larangan bagi penunggak pajak kendaraan.

Roberth menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar sama sekali. Penyaluran BBM, termasuk BBM bersubsidi, tetap berjalan sesuai ketentuan pemerintah dengan sistem yang transparan dan tepat sasaran.

“Hal ini juga sudah dikonfirmasi langsung oleh Kementerian ESDM melalui juru bicara resminya,” tegasnya.

3. Video Kebakaran SPBU Akibat Kebijakan Baru

Video yang menampilkan kebakaran SPBU dan dikaitkan dengan kebijakan pembatasan BBM juga disebut hoaks.

Faktanya, video tersebut adalah rekaman lama dari insiden di Aceh tahun 2024, bukan kejadian baru seperti yang disebutkan dalam narasi viral.

4. Isu Warga Menggeruduk SPBU di Lumajang

Sebuah video viral lain memperlihatkan kerumunan di SPBU Lumajang, Jawa Timur, yang disebut sebagai aksi protes masyarakat terhadap layanan Pertamina.

Namun, Roberth meluruskan bahwa peristiwa itu bukan demonstrasi.

Kejadian sebenarnya terjadi pada 17 September 2025, saat hujan deras mengguyur area karnaval di Desa Sentul.

Banyak warga berdesakan masuk ke area SPBU yang sudah tutup sejak pukul 21.00 WIB untuk berteduh. Keributan kecil memang terjadi, namun akibat pengaruh minuman keras—bukan karena masalah layanan BBM.

Tidak ada penjarahan, hanya sampah berserakan keesokan harinya.

Roberth mengingatkan publik untuk tidak mudah mempercayai berita yang belum jelas sumbernya, termasuk informasi palsu tentang pembatasan pembelian BBM, pengujian oktan yang tidak sah, hingga rekrutmen fiktif yang mengatasnamakan Pertamina.

“Pertamina Patra Niaga mengajak masyarakat untuk memastikan kebenaran informasi melalui kanal resmi perusahaan, seperti Pertamina Call Center 135 atau akun media sosial resmi Pertamina,” tuturnya.

Dengan langkah ini, Pertamina berharap masyarakat tidak lagi mudah terpengaruh oleh informasi menyesatkan yang dapat mengganggu kenyamanan publik dan mencederai kepercayaan terhadap lembaga energi nasional tersebut. (*)

Editor : Amin Fauzie
#hoaks #Video Kebakaran SPBU #Warga Menggeruduk #disinformasi #PT Pertamina Patra Niaga #Pembatasan Pengisian #Uji RON BBM