RADARBONANG.ID - Kualitas udara di Jakarta kembali menjadi sorotan dunia.
Berdasarkan data terbaru dari situs pemantau kualitas udara IQAir pada Sabtu (4/10) pukul 06.15 WIB, ibu kota Indonesia itu tercatat sebagai salah satu kota dengan udara paling tercemar di dunia, menduduki posisi kelima global.
Dalam laporan tersebut, Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta mencapai 143, yang berarti masuk dalam kategori tidak sehat.
Angka ini menunjukkan kadar polusi yang tinggi, terutama dari partikel PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 47 mikrogram per meter kubik.
Kategori tersebut menandakan udara Jakarta saat ini berisiko bagi kelompok sensitif, termasuk anak-anak, lansia, serta penderita gangguan pernapasan.
Polusi juga dapat berdampak buruk pada hewan dan tumbuhan, bahkan menurunkan nilai estetika lingkungan perkotaan.
Sebagai perbandingan, kategori udara sedang berada di rentang PM2.5 51–100, yang masih relatif aman untuk manusia tetapi dapat memengaruhi tumbuhan sensitif.
Sementara kategori baik (PM2.5: 0–50) berarti udara bersih dan tidak menimbulkan dampak negatif pada kesehatan.
Apabila konsentrasi PM2.5 melonjak hingga 200–299, udara akan masuk kategori sangat tidak sehat, yang bisa menimbulkan gangguan serius pada sebagian besar penduduk.
Bahkan, pada level ekstrem 300–500, udara sudah tergolong berbahaya dan dapat menyebabkan dampak kesehatan berat bagi populasi umum.
Menurut data IQAir, Kinshasa (Kongo) menduduki peringkat pertama kota dengan udara terburuk dengan nilai AQI 175, diikuti Delhi (India) di posisi kedua (160), Lahore (Pakistan) di posisi ketiga (158), dan Tashkent (Uzbekistan) di posisi keempat (154).
Jakarta berada tepat di bawahnya dengan 143 poin.
Meski berada dalam posisi memprihatinkan, masyarakat masih bisa melakukan langkah pencegahan sederhana.
IQAir merekomendasikan agar warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menutup jendela rumah untuk mencegah udara kotor masuk, serta menyalakan air purifier atau penyaring udara di dalam ruangan.
Sebagai upaya nyata, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah melakukan berbagai langkah mitigasi polusi.
Salah satunya dengan menyemprotkan 4.000 liter air berbentuk kabut (water mist) di sejumlah titik strategis di ibu kota.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyebut penyemprotan dilakukan di kawasan dengan aktivitas padat seperti Dukuh Atas, TB Simatupang, Fatmawati, Bundaran HI, MH Thamrin, hingga Lapangan Banteng.
Langkah ini merupakan bagian dari pra-kegiatan Jakarta Eco Future Fest (JEFF) 2025.
“Penyemprotan ini membantu menurunkan partikel polutan, khususnya PM2.5, sekaligus menciptakan ruang publik yang lebih sehat,” ujar Asep di Jakarta, Kamis (18/9).
Selain itu, DLH juga menyiagakan mobile videotron yang menayangkan pesan edukatif tentang pentingnya pengendalian polusi udara.
Melalui inisiatif ini, masyarakat diajak berperan aktif — mulai dari melakukan uji emisi kendaraan secara rutin, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, hingga beralih ke transportasi umum.
Dengan langkah-langkah ini, Pemprov DKI berharap kualitas udara Jakarta bisa berangsur membaik, agar ibu kota tak lagi masuk daftar kota dengan udara paling kotor di dunia. (*)
Editor : Amin Fauzie