RADARBONANG.ID - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu, 10 September 2025.
Menurut Research and Development ICDX Taufan Dimas Hareva, penguatan ini terutama dipicu oleh ekspektasi pelonggaran moneter Amerika Serikat (AS).
Rupiah ditutup menguat 12 poin atau 0,07 persen ke level Rp16.470 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.482 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat penguatan ke Rp16.457 per dolar AS dari Rp16.462 sebelumnya.
“Rupiah pada perdagangan Rabu dibuka menguat di kisaran Rp16.432–Rp16.463 per dolar AS dan bahkan sempat menjadi mata uang terkuat di Asia pada awal sesi. Penguatan ini terutama dipicu oleh ekspektasi pelonggaran moneter Amerika Serikat yang menekan dolar global,” ujar Taufan.
Sentimen positif rupiah juga datang dari harapan penurunan suku bunga The Fed seiring data tenaga kerja AS yang melemah, meski rilis data inflasi AS berpotensi memengaruhi arah pasar global.
Dari sisi domestik, intervensi Bank Indonesia (BI) dinilai berhasil menenangkan volatilitas.
Namun, kepercayaan pasar masih menunggu konsistensi kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menggantikan Sri Mulyani.
“Isu pergantian Menkeu memunculkan keraguan investor terhadap kredibilitas pengelolaan fiskal Indonesia, sehingga memicu aksi wait and see di pasar keuangan,” tambah Taufan.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai Menkeu baru menghadapi sejumlah pekerjaan rumah yang belum sempat diselesaikan pendahulunya, termasuk upaya peningkatan rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang masih relatif stagnan dan lebih rendah dibandingkan sejumlah negara Asia.
Menurut Yusuf, meski Purbaya memiliki rekam jejak di bidang kebijakan ekonomi, pasar akan menunggu implementasi kebijakan fiskal secara konkret.
“Pasar akan menakar apakah kebijakan fiskal tetap dijalankan secara prudent, sekaligus menilai langkah-langkah jangka pendek, misalnya sejauh mana strategi baru mampu mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi,” jelasnya.
Penguatan rupiah dan dinamika kebijakan fiskal ini menjadi sorotan penting bagi investor domestik maupun internasional, karena mencerminkan sensitivitas pasar terhadap kondisi ekonomi global sekaligus kepercayaan terhadap kepemimpinan fiskal baru di Indonesia. (*)
Editor : Amin Fauzie