RADARBONANG.ID - DKI Jakarta menjadi sorotan nasional setelah tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi gejala depresi dan kecemasan tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan hasil skrining kesehatan jiwa dewasa dan lansia per 15 Agustus 2025, dari 83.501 warga Jakarta yang menjalani skrining, 9,3% diduga mengalami gejala depresi, sedangkan 7,6% menunjukkan gejala kecemasan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menjelaskan, “Jadi sampai 15 Agustus lalu, penduduk Indonesia yang sudah melakukan CKG untuk keswa [kesehatan jiwa] itu sudah 13 juta. Dan dari sini, ternyata secara nasional kemungkinan terjadinya gejala depresi itu ada sekitar 1%, kemudian cemas itu 0,9%, tetapi yang paling tinggi ada di Jakarta.”
Secara nasional, skrining kesehatan jiwa telah dilakukan terhadap 13,12 juta orang dewasa dan lansia di 38 provinsi, setara dengan 6,5% dari target 201,7 juta jiwa.
Dari jumlah tersebut, ditemukan 135.777 orang (1%) berpotensi mengalami depresi dan 118.143 orang (0,9%) berpotensi mengalami kecemasan.
Selain Jakarta, provinsi lain dengan prevalensi gejala depresi tinggi antara lain Papua (3,7%), Kepulauan Riau (3,4%), dan Kalimantan Timur (3,3%).
Sementara untuk gejala kecemasan, setelah Jakarta, prevalensi tertinggi tercatat di Papua (2,8%), Kepulauan Riau (2,8%), dan Papua Barat Daya (2,6%).
Meski menjadi wilayah dengan angka gejala depresi dan kecemasan tertinggi, Jakarta justru menempati posisi rendah dalam cakupan skrining, yakni hanya 1,1% dari total sasaran.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk memperluas deteksi dini sekaligus memperkuat layanan rujukan bagi mereka yang menunjukkan gejala.
Kondisi ini menekankan pentingnya strategi deteksi dini yang lebih masif dan program kesehatan jiwa yang terintegrasi di wilayah urban, khususnya di Jakarta, untuk mengantisipasi dampak sosial dan ekonomi yang mungkin timbul dari gangguan kesehatan mental. (*)
Editor : Amin Fauzie