RADARBONANG.ID – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memastikan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), akan mendapat dukungan anggaran jumbo pada 2026.
Dana yang disiapkan mencapai Rp1,2 triliun per hari untuk menjangkau 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
“Insya Allah tahun depan kita akan mulai dari Januari spending Rp1,2 triliun per hari,” ujar Dadan dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara BGN dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal di kantor Bappenas, Jakarta, Senin (8/9).
Menu MBG Disesuaikan Wilayah
MBG tidak hanya menyajikan menu standar, tetapi juga menyesuaikan dengan karakter pangan tiap daerah.
- Jakarta: nasi, ayam teriyaki, tumis buncis wortel, pisang, dan susu dengan harga per porsi Rp10.000.
- Daerah non-penghasil beras: sumber karbohidrat diganti dengan jagung, singkong, atau sagu.
- Ramadhan: menu lebih tahan lama, seperti susu, telur rebus, kurma, kue kering, buah, serta kadang ditambah bubur kacang hijau atau kolak.
Langkah ini dinilai sejalan dengan prinsip keanekaragaman pangan sekaligus menjaga keberlanjutan program.
Meski program ini mendapat alokasi masif, beberapa catatan penting muncul terkait keamanan pangan.
Salah satunya insiden keracunan massal di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang membuat 80 siswa terdampak.
“Kami mengapresiasi langkah tanggap Kepala SPPG dan mitra yang segera mendampingi para korban sebagai bentuk tanggung jawab,” kata Kepala Regional SPPG Sumatera Selatan, Diana Putri.
Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Lebong, Bengkulu, di mana 467 siswa mengalami keracunan.
Akibatnya, BGN sempat menghentikan sementara penyaluran MBG di wilayah tersebut.
“Kita sedang menunggu hasil pengujian sampel MBG dari BPOM. Hasil investigasi akan ditindaklanjuti dengan langkah perbaikan yang tegas agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati.
Dengan anggaran sebesar itu, MBG disebut sebagai salah satu program pangan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Namun, keberhasilan program bukan hanya soal dana, melainkan juga kualitas distribusi, pengawasan, dan keamanan makanan.
Jika dieksekusi dengan baik, MBG berpotensi menjadi tonggak penting dalam meningkatkan kualitas gizi anak bangsa dan menekan angka stunting. (*)
Editor : Amin Fauzie